Kisah sedih tentang sahabat


Kisah sedih tentang sahabat


Cerpen Sedih - Senja yang dulu indah kini menjadi temaram dan bulan yang dulu purnama kini perlahan berubah menjadi sabit. Seperti keadaan hati seorang gadis remaja yang meratapi kekosongan dan kehampaan hatinya karena ditinggal oleh sahabat yang selama ini setia menemaninya baik syka maupun duka. Dulu, waktu usiaku beranjak 17 tahun, aku mempunyai beberapa sahabat salah satunya Icha. Icha tinggal di Ciracas, JakartaTimur. Dia anak pertama dari 2 bersaudara, dia adalah seorang remaja yang lugu dan sangat ceria. Kami bersahabat suddah cukup lama, aku kenal Icha waktu kami sama-sama mendaftar di salah satu SMP favorit di Jakarta. Setelah awal oerkenalan itu,pertemanan kami berlanjut karena kami diterima di SMP itu. Kami selalu bersama-sama bagai amplop dan perangko yang tak dapat terpisahkan, itulah kami. Kami juga selalu satu kelas.

Setelah lulus SMP aku dan Icha memutuskan untuk satu sekolah, hari pertama aku dan Icha menjalani ospek, rasanya takut dan tegang banget, tapi aku melihat seorang cowok yang sangat perfeck di kantin sekolah, dia sangat manis apalagi pada saat aku melihatnya sedang tersenyum pada beberapa orang yang menyapanya, manis sekali senyumnya, disaat aku sedang asyik memperhatikan cowok itu tanpa ku sadari didepanku ada salah seorang kakak senior yang sangat galak, upzzz…. Aku menabrak dia, dia marah-marah padaku meski aku telah minta maaf padanya, lupakan saja dia kita kembali pada cowok yang aku lihat tadi, tapi aku mencari-cari kesekeliling kantin tapi cowok itu udah gak ada. Icha hanya tertawa melihat tingkah lakuku. Huh… ini semua gara-gara keteledoranku, tapi gak apa-apa suatu hari nanti pasti aku dapat bertemu dengannya kembaali karena aku yakin dia siswa di SMA ini. Aku dan Icha melanjutkan perjalanan kami ke kelas. Ospek pertama telah dimulai, ada beberapa kakak senior masuk kekelas tanpa ku sadari cowok yang ku lihat di kantin sekolah tadi pagi ada didepan mataku. Aku senang sekali karena aku kembali beetemu dengannya walau dia tak ku kenal sama sekali.
Aku mencari tau siapa sebenarnya cowok itu, dari beberapa orang yang aku tanya mereka mengatakan dia adalah ketua osis, namanya radit, Cuma itu informasi aku dapatkan tentang dia, tapi udah cukup kok. Singkat cerita aku dan kak Radit mnjedi tambah akrab tapi cuma sebatas teman. Yang tak pernah aku duga ternyata kak Radit naksir sama Icha, aku sedih banget karena dia adalah cinta pertamaku, tapi apa daya aku tak bisa berbuat apa-apa, dan aku juga sempat kecewa pada Icha karena dia menerima kak Radit menjadi kekasihnya, Icha kan tau kalau aku suka sama kak Radit tapi kenapa dia tega padaku. Mungkin inilah nasibku, setelah kejadian itu persahabatan aku dan Icha menjadi renggang, aku jarang menyapanya dan sepertinya juga dia sekarang jarang ada waktu buat kita berdua sanma-sama lagi seperti dulu. Lagi pula aku tak sekelas dengannya.

Waktu terus berputar, tanpa terasa tahunpun berganti. Akhir-akhir ini aku melihat Icha tampak murung dan gak seperti biasanya yang sangat ceria. Walau aku belum bisa memaafkan Icha tapi walau bagaimanapun dia adalah sahabatku dan aku harus tau apa yang sedang terjadi. Satauku dari berita yang beredar kalau Icha mengidap penyakit tumor yang bersarang diperutnya sejak beberapa tahun ini, sejak dokter memfonis penyakit itu Icha berubah menjadi nak yang pemurung danpendiam. Aku sangat merasakan perubahan itu, tapi setiap kali aku tanya dia tak pernah mau cerita dan jujur padaku. Menurutku dia berubah menjadi seperti itu karena mungkin dia merasa hidupnya tak akan lama lagi. Seiring berjalannya waktu perut Icha makin membesar, aku belum percaya dengan apa yang temen-temen bilang padaku. Aku desak Icha untuk menceritakan apa yang terjadi padanya, akhirnya Icha mau bercerita. Aku sempat terkejut mendangarnya sekaligus sedih bercampur dengan rasa kekecewaan, mengapa baru seekarang dia cerita semua itu padaku. Tapi mungkin karena aku tak sedekat dulu sama dia. Aku juga denger-denger dari yang laen Icha putus, Icha diputuskan kak Radit karena keadaan Icha dg perut yang makin membesar. Aku sedih sekali, tapi dia pernah menghianati persahabatan yang telah lama kami bangun.

Icha masih tetap sekolah, tapi lama kelamaan dia merasa kecil hati dan malu. Dengan kondisi tubuh yang semakin menurun, sampai akhirnya Icha dirawat di Rumah sakit Haji Pondok Gede. Aku dan teman-taman menjenguknya untuk memberikan semangat dan dukungan padanya agar Icha gak semakin drop dan putus asa. Hanya sampai disitu saja kabar yang aku dengar tentang Icha, disatu sisi aku masih kecewa padanya tapi disisi lain aku juga mempersiapkan UN.
****

Pagi hari yang sangat gelap karena hujan turun begitu derasnya, aku sedang duduk melamun memikirkan bagaimana keadaan Icha sekarang, tiba-tiba aku dikejutkan dengan ringtone handphoneku yang berbunyi dank u lihat dilayar hpku ternyata mamanya Icha memanggil, fikirku tumben tapi ada apa ya, kok pagi-pagi gini tante telfon aku. “halo assalamu’alaikum, bisa bicara dengan Cika?”, nada suara mama Icha tampak berat, sepertinya dia sedang menangis. “ii…aaa tante, ada apa kokpagi-pagi begini telfon Cika? Trus bagaimana kabar Icha tante?” tanyaku agak ragu, “Icha telah berpulang Ka” belum sempat aku mengucapkan turut berduka cita pada tante, tut…tut…tut…tut telfon tiba-tiba terputus. Aku menangis dan menyesali dengan semua yang terjadi, dihatiku tersirat penyesalan yang amat mendalam, aku terlalu jahat dan egois pada Icha dan gak pernah meluangkan waktu untuk menjenguk sahabatku sendiri yang menjalani hari-hari akhirnya sendirian, tanpa aku. “Maafkan sahabatmu ini Ca…..hik..hik..hik…!!!” tangisku
Aku datang ke rumah Icha untuk melihat dia terakhir kalinya dan mengucapkan bela sungkawa pada keluarga Icha. Setibaku disana aku melihat Icha terbaring kaku, dikelilingi orang-orang yang membaca yasin untuknya, tiba-tiba pandanganku menjadi gelap. “Icha…..” panggilku, “sudahlah Ka, relakanlah kepergian Icha, agar dia tenang di Alam sana” mama Icha ada disampingku, dan memberikan selembar kertas padaku, “ini dari Icha buat kamu, dia menulis pada saat kamu jarang menemuinya, tante tinggal dulu kebawah”. “makasih tante dan Cika minta maaf kalo selama ini Cika gak pernah menjenguk dia, Cika lagi UN tante,” aku menangis. “gak apa-apa kok tante ngerti, kamu ada masalah ya sama Icha?” tanya mama Icha, “eng…enggak kok tante, kami berdua baik-baik saja””ya udah jangan nangis lagi, tante ke bawah bdulu ya” tante pun meninggalkanku sendiri di kamar Icha karena Perlahan-lahan tadi aku pingsan, aku melihat foto-foto yang ada dimeja samping tempat tidur, betapa lembutnya senyum Icha di foto itu. aku buka kertas ituperlahan-lahan, dan aku pun mulai membaca kata demi kata disurat itu.
Sebelumnya gue minta maaf atas kejadian kemaren”, bukan maksud gue untuk merebut kak Radit dari lo, tapi gue juga cinta dia dan gue juga udah putus ma dia, karena dia bukan laki-laki yang baik. O ya, lo tau kan kalo gue gak bisa buat puisi kayak lo, tapi ini puisi gue buat khusus sahabat sejati gue ini, maaf ya kalo buatan gue gak sebagus puisi-puisi lo, heheheh……..

Surat Terakhir
Butir-butiran air mata yang jatuh setetes demi setetes
Menemani dan menjadi saksi saat ku tulis suratku yang terakhir
Jika hanya derita yang harus aku terima
Jika hanya kemitian yang harus ku alami
Aku bersedia menjalani tanpa kesedihan
Namun ketika kau berucap bahwa untukku
Sudah tak ada lagi maaf terasa lemah lunglai tubuh ini
Sahabat yang slalu mengisi hari-hariku
Seberapa besarpun salah yang ku pandang
Seberapa rendah budi yang ku jalani…maafkan aku
Derita karena bersalah berlarut-larut tanpa henti
Dan tampaknya Tuhan sudah berkenan menjemputku
Jangan menangis sahabat….walau tak terkatakan
Sungguh aku merasa kau telah memaafkanku
Slamat tinggal sahabat sejatiku
Ikhlaskanlah kepergiankui
Smoga sepeninggalku dari sisimu
Bahagian akan slalu menemanimu
Miss u sobat
ICHA
****

Keesokan harinya Aku baru sadar ternyata Icha hari ini berulang tahun yang ke 17, aku bermalam di rumah Icha, dan pagi-pagi aku segera kebawah dan akan mengikuti pemakaman Icha. Sebenarrnya aku tak sanggup melihat makam itu, karena akan mengingatkanku akan kenangan” kami berdua dulu, tapi aku coba untuk tegar untuk melangkahkan kaki menuju makamnya. Setelah pemakaman selesai dan semua orang pulang, aku sendiri di makam itu, sepi. Aku menangis disamping nisan Icha, walau tersendat-sendat dan terbata karena aku nangis aku nyanyikan lagu happy birthday buat Icha, dan memandangi nisan yang ada dihadapanku saat ini, makam yang sunyi, aku masih menangis sendiri di makam bisu itu, sebelum pulang aku meninggalkan secarik kertas balasan surat Icha, walau mungkin tak akan pernah dibaca olehnya, tapi itulah kenanganterakhirku buat Icha.

Kenangan indah tentang kita akan slalu ku ingat setiap detiknya
Jika ku tutup mataku, aku masih dapat melihatmu
Kau memperlihatkan senyum termanismu
Tapi itu hanya lamunan sesaatku
Kini kau telah jauh tinggalkanku
Aku belum sempat meminta maaf padamu dan menyayangimu
Dan tak ingin kau pergi jauh
Tinggalkan kenangan kita bersama
Tapi takdir berkatab lain
Terlalu cepat Tuhan memanggilmu
Hanya sebuah puisi ini aku persembahkan untukmu
Kepergianmu, meninggalkan kisah yang sangat pahit bagiku
Aku akan selalu mengenangmu, sahabat terbaikku
Semoga kau tenang disana
Suatu saat kita pasti akan bertemu kembali

CINTA ITU BUKAN TARUHAN

CINTA ITU BUKAN TARUHAN

Cerpen Cinta - Karya Indah Lestari

Hari ini hujan mulai turun tepatnya tanggal 21 Oktober 2013. Keadaan yang selalu dinanti-nanti oleh mereka yang dilanda kekeringan. Betapa bahagianya mereka di saat-saat seperti ini. Namun, kebahagiaan itu tak Nampak pula pada diriku. Hujan kali ini sungguh membuatku tersiksa. Betapa tidak? Gara – gara hujan aku tidak bias pulang. Terpaksa aku harus menunggu di bawah pohon yang besar dan diam seorang diri daripada basah kuyup.

Angin bertiup semilir menambah dinginnya suasana sore ini. Badanku mulai meriang dan rasanya aku sudah tidak kuat lagi untuk menerjang dingin dan derasnya air hujan. ”Pulang…tidak...pulang…tidak…pulang…tidak.”  Yah.. rasanya kancing bajuku mengharuskanku untuk tetap tinggal disini sampai hujannya reda. Huft…menyebalkan!!!

“Masih aja ngikutin tradisi nenek moyang lo ya? Mau pulang aja masih menghitung kancing baju. Huh, enggak jaman amat sih?”, cetus Roy yang tiba-tiba muncul di belakangku.
“Biarin! Emang ngefek sama lo? Lagian ngapain sih elo kesini?”, tanyaku dengan ketus.
“Mau pulang atau tidak? Apa mau tinggal disini aja sampai nanti malam? Baiklah, kalau mau tinggal disini ok,gue tinggal!”, kata Roy yang sempat buat kaget dan jantungku sempat berhenti berdetak. Tumben nih anak ngajakin bareng. Habis kesambet setan darimana ya? Hohoho … setan colak-colek kali ya?^.^
“Ayo buruan!”, bentak Roy padaku. Ok, dengan berat hati akupun naik ke motornya dan mengenakan jas hujan. Suara petir yang menggelegar membuatku takut dan aku ingin cepat sampai di rumah. Hari semakin sore dan gelap. Namun hujan tak kunjung reda, malahan semakin deras. Sepertinya kamipun tak bias melanjutkan perjalanan pulang. Akhirnya kamipun berhenti di bangunan yang tidak ditempati.

Oh iya, aku belum sempat menceritakan siapa sih Roy itu? Yeach.. Roy adalah teman sekelasku yang super … super cuek dan nyebelin. Dia tak penah berbicara dengan siapapun kecuali dengan Rino teman sebangkunya. Hanya Rinolah teman bicaranya. Tidak ada seorang cewek pun yang dia taksir dan mereka pun juga tidak berani mendekatinya karena berbagai alasan :

1. Minder dengannya karena dia cowok yang diligent di semua bidang
2. Paling famous di sekolah kami sekaligus wakil OSIS
3. Meskipun dia cakep, pinter, kaya, mandiri, tapi dia itu cuek, dan dingin… sedingin es di kutup utara. Hohoho..alay ding!

Ok…back to this event.. itulah mengapa aku kaget di ajak bareng sama dia.

“Pulang yuk Sin! Udah reda nih hujannya. Ntar lo dicariin nyokap lo. Kalau elo yang dimarahin sih no problem for me, tapi kalai ntar gue yang di sangka nyulik elo, bisa-bisa dipenjara nih gue “, kata Roy yang sok cuek.
“Ye…siapa juga yang sudi punya urusan sama elo. Paling-paling ntar kalau gue kenapa-napa sapu nyokab gue melayang tuh di muka reseh lo!”, kataku dengan nada sok cuek pula. Dia hanya tersnyum simpul. Akhirnya kami pun pulang dan dia mengantarku sampai ke rumah. Benar saja katanya, ibuku sudah berdiri di depan pintu dengan raut muka cemas dan kelihatan sangat khawatir.
“Kok baru pulang Sin? Nunggu hujan reda ya?”, Tanya ibuku.
“Iya bu, maaf. Hujannya lebat sekali dan aku takut basah kuyup. Jadi, telat deh.”, kataku sambil mencium tangan ibuku.
“Loh, temannya kok ndak di ajak masuk sih? Kan kasihan dia kedinginan. Ayo ibu buatkan teh di dalam.”, ajak ibuku.
“Ayo masuk Roy!”, teriakku.
“Emh… lain kali aja deh Sin. Udah maghrib, aku pulang dulu ya? Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam…”

Aku pun masuk dan langsung mandi. Begitu melelahkan sekali kegiatanku hari ini. Rasanya ingin sekali ku robohkan tubuhku di atas ranjang empukku. Oh God... I’m very sleepy. Give me beautiful dream which make me fresh tomorrow. Hmmm… semoga saja aku bisa bermimpi ketemu Pangeran William. Hahaha Pangeran Bubur Ayam yang ada!

Keesokan harinya, aku pergi ke sekolah seperti biasanya. Emh..cepet banget sih waktunya berjalan. Belum hilang capeknya udah pagi, terus siang lagi, sore, malam, pagi, sekolah lagi… huh capek!! Tapi.. semangat, semangat, semangat, aku tidak boleh menyerah. I must reach my dream.

Ku langkahkan kakiku menuju ruang pustaka. Aku ingin sih sekali-sekali berkunjung ke sini. Walaupun hanya sekedar menghitung berapa banyak orang yang hadir di ruangan ini. Agar terkesan aku rajin membaca. Hahaha… padahal seumur hidup gue, jarang banget tuh yang namanya membaca buku disini kalau tidak ada tugas. Ogah ah, males banget. It just wasting time for me!

“Tumben elo nongol disini kesambet setan dari mana? Hah?”, tanya Bagas tiba-tiba.
“Suka-suka gue dong, mau disini, mau di WC, di lorong, di gudang, emang hidup numpang sama lo?”, jawabku.
“Ye… kok sewot sih Sin? Orang gue nanya baik-baik juga..”
“Habisnya elo juga sih yang nyebelin. Elo udah tau siapa gue masih aja nanya. Pastinya di sini gue cuman mau menghitung aja berapa banyak orang yang ada di sini. Habis itu gue cabut deh.. hehehe “
“Hahaha elo tuh enggak pernah berubah ya? Dari zaman nenek gue belum lahir sampai gue segini besarnya lo tetap aja enggak doyan baca. Mau pinter darimana tuh?”, ledek Bagas.
“Hehehe…bodo amat, ujian masih jauh Gas! Santai aja dulu. Bener  kan?”
“Hehe bener deh, apa sih yang enggak buat kamu Sin? Oh iya, nanti keluar yuk! Gue yang traktir deh. Apapun yang lo mau gue beliin deh. Mumpung ada rejeki nomplok nih.”
“BRAKK!!!”, tiba-tiba meja di sampingku digebrak oleh seseorang. Aku sangat terkejut.
“Heh, bisa diam apa tidak sih kalian? Kalau ingin berbicara silahkan di luar. Apa kalian tidak bisa membaca tulisan itu?”, kata orang itu yang tidak lain adalah Roy.

Bagas memandangnya dengan tatapan tajam. Aku tahu dia sangat marah kepada Roy. Aku mencoba merayunya agar dia mau keluar agar keadaannya tidak semakin buruk. Semua ini memang salah kami yang ribut di ruang pustaka.

Semenjak kejadian itu aku tidak pernah lagi berbicara dengan Roy. Dia pun juga bersikap aneh padaku. Seakan-akan aku adalah musuh bebuyutannya. Padahal teman-teman lain yang jumlahnya 20 orang itu bersikap bisa aja. Huh dasar Roy aja yang lebay!

***

Lain hari, aku membeli bakso di kantin sekolah. Saat itu aku makan bersama Evi teman sebangkuku. Di seberang sana ku lihat Roy sedang duduk minum juice sambil memandang sinis ke arah ku. Maksudnya apa coba? Bodo amat ah..

Tiba – tiba Evi sakit perut dan izin ke kamar mandi. Ku tunggu sampai bel berbunyi pun belum juga muncul. Akhirnya aku pun bergegas kembali ke ruang kelas. Ternyata Evi sudah tergolek lemas di bangkunya.

“Kamu baik-baik saja Evi?”, Tanya bu Rita
“Tidak papa bu, Cuma sedikit pusing saja jawab Evi
“Baiklah biar diantar Sinta dengan Bagas ke UKS. Yang lain silahkan belajar dulu 10 menit. Lalu bukunya dikumpulkan. Hari ini kita ulangan fisika bab kemarin. Sinta dan Bagas kalian harus cepat kembali.”, kata Bu Rita.
“ya bu.”, jawab kami serempak

Hah ulangan fisika? Hari ini? Waduh, mampus deh gue. Belajar juga belum. Bagaimana bisa mengerjakan ulangan? Tuhan.. tolonglah aku. What must I do? Kenapa juga Evi yang sakit? Mengapa bukan aku aja?ok deh, mungkin takdir belum berpihak padaku. Apa aku harus duduk di sebelahnya Roy ya agar aku bisa menjawab semua soal ulangan hari ini? Menyontek?.. ya.. jalan satu-satunya harus nyontek. (zaman sekarang tidak mencontek tidak berkembang,hehe)

Ulangan akan segera di mulai. Bu Rita sudah membagikan lembar soal ulangan. Aku mencari cara agar Roy mau memberi jawabannya padaku. Tapi… bagaimana ya? Aku bingung… andai saja aku tadi malam belajar. Ya Tuhan aku ingin memutar waktu. Hikz..hikz..

“Roy, contekin gue dong.. tadi malam aku belum belajar”, pintaku dengan nada memelas.
“Siapa suruh tidak belajar? Elo kan pelajar? Memangnya ngapain saja kamu di rumah?”
“mmm… gue sibuk Roy, please dong.. sekali saja..”, kataku dan membuang rasa maluku.
“Sibuk kencan ya non? Ya sudah jawab saja dengan hasil kencan kamu kemarin”. Kata Roy yang membuatku sebal.

Ya Allah kenapa masih ada saja manusia semacam dia? Pelitnya setengah mati. Tinggal nengokin jawabannya saja apa susahnya sih?

Ulangan fisika pun telah berakhir. Aku menyesal sekali tidak belajar. Padahal semua jawaban ada di buku catatanku. Huh, betapa bodohnya aku. Kenapa penyesalan itu selalu ada di akhir ya? Coba di awal pasti tidak akan seperti ini. Aduh.. bagaimana ini? Pasti dimarahi lagi oleh ayah gara-gara nilaiku selalu berantakan. Bebek, telur, kursi, selalu saja nilai itu yang aku dapat. Paling baik ya dapat lingkaran double alias 8. Kalau nilai 100 ku dapat sih mungkin nunggu ayam berteriak minta di sate kali ya? Hahhaha…

Ku duduk termenung meliahat hiasan tinta merah yang tertoreh di kertas ujianku. “35” WOW,amazoonn!! Nilai yang benar-benar fantastic dalam hidupku. Oh My God!!

“Hey, kenapa bengong? Udah deh Sin ngapain lo pandangin teruss tuh nilai. Sampai rambut lo ubanan pun tidak akan pernah bisa berubah tuh kalau lo kagak mau belajar. Udah deh guys,happy saja. Jalan yuk! Buat ngilangin tuh rasa jenuh.” Ajak Bagas

Roy yang tadinya biasa-biasa saja mendadak langsung pergi. Kenapa? Hah.. whatever lah.. I don’t care about it. Aku pun pergi bermain dengan Bagas. Kita jalan-jalan ke mall, taman,  dan terakhir ke restaurant. Semua itu gratis lohh,hehe (nebeng doing bo’) kapan lagi bisa kayak begini?wkwkwk…

“Sin, gue mau bilang sesuatu sama elo boleh enggak?”, Tanya Bagas yang terasa aneh di telingaku. Kenapa nih anak? Mau Tanya saja bilang-bilang.
“iya tanya aja Gas, mau nanya apa?”, kataku
“Emh… sebenarnya aku suka sama kamu Sin. Kamu mau tidak jadi pacarku?”, kata Bagas yang hamper membuat telingaku kram dan jariku seakan tidak bisa bergerak. Gila nih anak. Memangnya gue cewek matre apa ya? Setelah dibelikan banyak sekarang ngajakin pacaran.
“serius lo Gas? Kesambet setan taman sebelah ya lo?”, Tanya ku.
“gue serius. Tidak bercanda.”, kata Bagas sambil menatapku lekat.
“maaf gue tidak bisa. Aku tidak mau pacaran dulu.”
“Kenapa Sin? Gue jelek, tidak menarik? Ok, kalau lo tidak bisa menerima gue sekarang, besok, lusa, miggu depan, atau bulan depan pun juga tidak masalah.  Gue akan tetap menunggu lo Sin.”,kata bagas yang semakin aneh.
“Maaf ya Gas gue tidak bisa. Kita berteman saja ya? Bukankah sahabat itu lebih indah dari sekedar pacar yang sebentar bisa putus?”
“ya sudah lah Sin, jika kamu memang tidak bisa menerimaku. AKU CINTA KAMU”

Kenapa ya nih anak kok keliahatan aneh begini? Hmmm.. aku gag akan pernah terjebak dengan omong kosongnya Bagas. Aku tahu kok dia adalah playboy cab kadal di sekolahku. Nih anak sukanya ngegombalin cewek mulu. Aku tidak boleh baper sama dia.

Setelah melewati hari yang menyenangkan dan begitu melelahkan kami pun pulang. Seperti biasa ibuku selalu menungguku di depan rumah sambil membaca Koran. Bagas pu pulang tanpa mengucapkan sepatah katapun dan hanya tersenyum simpul. Mungkin dia kecewa padaku. Ah… sudahlah biarkan saja.

Begitulah hari-hari kulewati dengan cepat. Tak terasa 2 bulan telah berlalu semenjak kejadian di restaurant itu.  Bagas tidak lagi sedekat itu denganku. Dia semakin jauh dan cuek denganku. Mengobrol pun hanya ada perlunya.

Di sisi lain Perubahan sikap Roy pun juga Nampak begitu jelas. Akhir-akhir ini dia begitu care denganku. Terkadang, ketika aku ada di kantin sekolah dia muncul dan membayarkan semua makanan dan minuman yang aku pesan dengan Evi. Lumayan makan gratis!! But, wait!! What happen with him? Aku takut jika ada udang di balik sandal. Oh my God what must I do? Embrassing !!!

----***---

Hari ini ulangan fisika muncul lagi. Haduh … jangan sampai aku dapat nilai bebek  lagi. Tadi malam aku sudah belajar mati-matian. Aku harus yakin bahwa nilai 100 dapat aku dapatkan. Pasti bisa…

Soal ditulis oleh Bu Rita di papan tulis. Kupandangi dengan senyuman yang mengembang di bibirku. Semua soal itu sudah aku pelajari tadi malam, dan sekarang aku tidak akan lagi menjadi pengemis minta contekan sama pangeran nyebelin itu. Haha pangeran? Enggak salah nih? Eitzzz.. jangan soudzon dulu ya?? Itu adalah singkatan untuk pangeran Roy, yaitu “Tampang Comberan” …hahaha…

Dag dig dug bunyi jantungku yang berdebar – debar menunggu hasil ulangan dibagikan. Tak sabar rasanya aku menunggu.

“Sinta Adira Vega.”, panggil Bu Rita dengan tersenyum.  Hah? Bu Rita terenyum padaku? Itu tandanya ….
“Selamat ya!”, ucapnya lagi sambil memberikan kertas itu padaku. Alhamdulillah nilai 100 dapat kuperoleh. Aku menerimanya dengan senang dan berjingkrak – jingkrak seperti orang gila yang di beri makan  orang. Teman – teman menyorakiku. Aku tak pedulikan mereka. Seumur hidupku baru kali ini aku mendapatkan nilai seperfect ini. Benar-benar kejadian yang sangat langka dan menakjubkan. Semua temanku heran melihat torehan tinta yang ada pada lembar jawabanku. Mereka seakan tak percaya padaku.
“Hebat juga ya loe! Dapat contekan darimana? Pasti ngintip jawabanku ya?”, kata Roy yang tiba-tiba duduk  di sebelahku ketika pelajaran berakhir.
“Maksud lo apa?”, tanyaku sinis
“Masih enggak ngerti juga ya non? Apa pura-pura bodoh? Mana mungkin sih lo bisa dapatin nilai 100 tanpa nyontek. Apa lagi soal tadi tergolog rumit. Pasti lo curang ya?”
“Maaf ya Roy, gue memang bodoh. Tapi gue tidak sebodoh yang elo fikir buat melakukan hal-hal buruk seperti yang elo katakan. Bisa enggak sih elo hargain orang sedikit saja? Apa elo kira lo tuh manusia yang paling pintar dan paling sempurna di dunia ini? Hah? Dengar ya Roy, meskipun elo itu tampan, pandai dan kaya sekalipun semut atau nyamuk gak akan sudi naksir sama orang orang yang sombong sepertimu. Camkan itu!”, kataku p x l x t seperti rumus matematika.

Setelah itu aku pergi meninggalkan Roy yang masih termenung di bangkuku. Tak terasa air mataku menetes. Sakit banget rasanya hatiku mendengar perkataan Roy yang setajam silet. Memang aku bodoh, pembuat onar dan pemalas. Tapi apakah aku tak pantas mendapatkan nilai yang baik atas jerih payahku? Jujur saja hatiku sakit sekali mendengarkan perkataan Roy yang kurang ajar itu.

Bel pulang berbunyi. Namun aku belum punya keinginan untuk pulang. Aku masih terdiam beberapa saat di bawah pohon jambu belakang kelasku. Air mataku terus mengalir dan aku tidak peduli pada air hujan yang juga terus mengguyur badanku.

Waktu terus berlalu, hingga ku tak sadar jika Roy tiba-tiba menghampiriku dengan sebuah payung yang meneduhkanku. Tapi itu semua terlambat dan tak berguna sama sekali. Badanku sudah basah kuyup.

“Sampai kapan elo akan bengong di sini? Gak mau pulang?”, Tanya Roy seakan-akan tak punya dosa padaku. Apa dia tidak sadar bahwa aku begini karena dia? Sebenarnya bagaimana sih jalan fikirannya? Aku tidak paham sama sekali. Aku tetap diam tanpa kata. (gengsi bo’..) -.-
“Maaf ya Sin aku tak bermaksud menyinggung perasaan lo. Aku cuman bercanda”, kata Roy lagi.
“Whatever you say. Bercanda lo enggak asyik!”, kataku sambil berdiri dan melangkah pergi.

Tiba-tiba…srett!! Roy menarik tanganku dan membisikkan kata-kata di telingaku.

“AKU CINTA KAMU”

Sinting banget sih nih anak! Apa maksudnya coba? Pandai banget ber acting. Andai di sekolah ini ada seleksi actor dia pantas banget jadi kandidatnya. Dasar kamuflase!! Dia piker gue cewek gampangan kali ya?

“Lepasin gue! Gue mau pulang !”, jawabku ketus.
“Gue antar ya?”
“Terimakasih” jawabku singkat. Aku pun pergi meninggalkan Roy yang berdiri mematung. Hujan sedikit reda dan memungkinkan untuk pulang. Huh semua tidak sesuai dengan rencana dan tidak sesuai dengan apa yang gue harapkan. Padahal anganku akan bahagia jika aku mendapatkan nilai 100, tapi ternyata dunia berputar 180?.

Akhirnya akupun sampai di rumah. Tubuhku rasanya sudah tidak kuat lagi untuk berdiri. Wajahku pucat dan bibirku sudah mulai membiru. Namun aku berusaha menyembunyikan rasa sakit ini pada ibuku. Aku menjawab semua pertanyaan ibu dengan tenang agar ibu percaya bahwa aku baik-baik saja. Syukurlah.. everything is running well. Akupun  cepat mandi, makan, dan istirahat.

Ketika aku membaringkan tubuhku, tiba-tiba aku teringat dengan ponsel mungilku di dalam tas yang basah. Semoga saja tidak terjadi apa-apa denganyya.

Setelah ku menemukannya, aku bersyukur karena ia baik-baik saja dan masih bisa dioperasikan dengan baik. Setelah ku buka, aku terkejut dengan bbm masuk dari Roy, 10 pesan dan 15 panggilan tidak terjawab. 

Semua pesan dan bbm itu berisi kekhawatiran dia padaku. Entah mengapa sikap Roy jadi sok peduli padaku. Aku heran dengan dia. Maunya apa sih? 

Keesokan harinya aku sudah tidak kuat lagi untuk bangun. Badanku meriang dan tak kuat untuk menahan rasa sakit ini. Akhirnya ibuku membawaku ke rumah sakit.

4 hari berlalu begitu saja. Aku tetap tidak berdaya di tempat pembaringan ini. Ingin rasanya aku cepat-cepat pulang dan bersekolah lagi bersama teman-teman. Akan tetapi dokter masih belum mengizinkanku pulang. Beliau menyarankan agar menunggu 7 hari karena typhus ini dapat berbahaya jika di abaikan. 

Pada hari ke-4 Bagas bersama Evi dan Rino menjengukku. Dia juga minta maaf atas kejadian beberapa minggu yang lalu. Dia pun berharap agar aku cepat sembuh dan berjanji akan mengajakku shopping lagi. Horee… pertengkaranku dengan Bagas segera berakhir.

Hari ini adalah hari terakhirku dirawat di rumah sakit yang sungguh membuatku bosan. Tiba-tiba pintu terbuka tanpa ketukan. Aku piker yang dating adalah ibuku yang akan menjemputku pulang. Ternyata aku salah besar. Ibuku tidak bisa menjemputku karena harus menyiapkan kamar untukku dan menyelesaikan urusan adminku. Ibuku menyuruh Roy untuk menjemput dan mengantarku pulang. Huh, kenapa harus dia? Kenapa ibu semudah itu percaya padanya? Menyebalkan sekali sih dunia ini?

“Hay Sin! Gimana, sudah baikan?”, Tanya Roy engan tersenyum
“Lumayan.”, jawabku singkat.

Tanpa banyak bertanya lagi Roy pun mengajakku pulang dan ia sendiri yang merapikan barang-barang bawaanku. Dengan santai dan pelan-pelan  ia menggandengku karena tangan yang bekas jarum infus.  Ia mengantarku pulang dan menungguku sampai selesai mandi. Bhkan ia pun ikut acara makan malam di rumahku bersama ayah dan ibu. Aku jadi bingung. Mengapa ia bersikap seaneh ini? Apa dia merasa berasalah padaku?

Setelah makan malam ia pun pamit untuk pulang. Ia hanya berkata padaku untuk banyak-banyak beristirahat dan sampai bertemu besok. Lalu ia mencium tangan ayah dan ibuku sambil tersenyum manis.

---***---

Singkat cerita, semenjak hari itu Roy dan Bagas  semakin dekat denganku. Aku merasa nyaman berada di dekat mereka. Diam-diam aku menaruh hati pada Roy. Roy akhirnya mengetahui perasaanku padanya. Tepat pada hari ulang tahunku yang ke-17 kita jadian dan tepat pula pada tanggal 17 Januari 2014.

Hari ini adalah hari pertamaku pacaran dengan Roy sekaligus ia adalh pacaar pertamaku. Ini adalah kado special dalam hidupku. Aku sangat bahagia dan bersyukur karena Allah telah mengirimkan manusia yang berhati malaikat untuk menemani hari-hariku. 

Tak terasa satu minggu telah berlalu. Aku menjalani hubngan dengan Roy tanpa ada masalah sedikitpun. Aku berharap semoga ia alalah takdir yang telah dituliskan Allah untukku.  Namun semua itu tidak sesuai dengan anganku. Roy yang telah mengajakku terbang tinggi kea wan, kini ia melepasakan ku dan menjatuhkanku sejatuh-jatuhnya. 

Saat itu aku berjalan menyusuri lorong sekolah yang bersebelahan dengan kelas XII IPA 3. Tidak sengaja aku mendengarkan pembicaraan beberapa orang yang tidak asing lagi suaranya bagiku.

“Bagaimana, elo ngakau kalahkan?”
“Ok. Gue akui elo lebih hebat dari gue. Elo menang dalam taruhan kali ini. Rp3000.000,00 ada adi tangan lo yang telah berhasil nakhlukin cewek yang super cuek di seolah ini.”
“Enggak deh Gas, uang itu buat elo aja. Kemenangan ini sudah lebih dari cukup buat gue.”
“Lantas apa misi lo selanjutnya?”
“Itu bukan urusan lo. Urusan kita hari ini sudah usai. Gue …”
“Cukup..!!” kata-kataku membuat Bagas dan Roy tersentak. Air mata mengalir bercucuran dan sudah tidak dapat aku tahan. Aku menatap mereka lekat. 

Lalu aku pun pergi meninggalkan mereka. Aku tidak peduli dengan segala perkataan mereka. Mereka adalah teman buruk yang pernah akau kenal. Mereka pikir aku adalah barang yang bisa mereka pertaruhkan. Aku terus berlari tanpa menghiraukan Roy yang terus berteriak. Hatiku sakit sekali dan rasanya aku adalah orang yang sangat malang di dunia ini.

Kalian tahu bagaimana rasanya terbang di posisi yang tinggi lalu tiba-tiba dijatuhkan dengan sangat ganas sekali. Ya… that’s I feel today. Ya Tuhan .. mengapa harus ada di lowest point ini lagi. I’m tired…

Mulai hari itu akupun menjauhi Roy dengan segala jerih payahku. Aku pun mulai terbiasa menjalani hidup tanpa Roy dan Dimas yang selalu ada di dekatku. Setiap hari tak ada hentinya Roy mengirimu kata maaf yang sebener-benarnya. Namun tak ada satu pesanpun yang aku balas. Baik melalui BBM, watshap, line, sms, dal medsos lainnya. Aku muak dengan semua sikap Roy yang tidak ada jelasnya sama sekali. Aku pun heran. Apa sih sebenarnya mau dia itu?

Hingga suatu ketika ia mengirimiku pesan dan entah mengapa jari-jariku membalas pesan itu.

From : Roy
Sin, elo boleh marah sampai kapanpun yang elo mau. Tapi beri aku kesempatan untuk menjelaskan semua semua padamu. Berikan aku satu kesempatan terakhir. Hari ini gue tunggu elo di café Sue-Zie jam 17.00 WIB.

Replay : 
To : Roy
Ok. Wait me.

Bodoh sekali sih aku membalas pesan itu. Gara-gara tingkahku ini harus memaksaku menemuinya dan ganti baju. Sebenarnya aku tidak bisa membohongi diriku sendiri karena aku masih mencintainya. Tapi  aku tidak terima dengan perlakuan Riy yang menjadikanku barang taruhan. Aku manusia yang punya harga diri yang tidak bisa ia pertaruhkan dengan semaunya. 

Tak beberapa lama akupun sampai di café tempat kita janjian. Setelah tiba di sana, ternyata Roy belum juga menampakkan batang hidungnya. Sialan,, dia yang meminta maaf, eh aku yang harus nunggu. Gila bener tuh orang ya! 

Ku pandangi dentuman jam tangan ku dari detik ke menit hingga tidak tersa sudah 45 menit aku menunggu. Kuraih ponsel ku dan kukirimkan pesan padanya.

To : Roy
Gila lo, kemana aja? Sengaja elo bikin gue jamuran nunggu elo di sini. Sudah ya Roy, gue mau pulang. Elo gag perlu kesini. Sudah cukup elo permainkan hatiku dengan cara yang buruk. Thank’s for all.

Setelah mengirim pesan itu, aku belum juga beranjak dari tempat duduk. Hatiku pilu, dan langkahku pun terasa berat untuk melangkah pulang. Rasanya ada yang aneh dengan perasaanku hari ini.
Tiba-tiba…
BRAKKK!!!!

Suara benturan yang sangat keras ku dengar dan juga tidak jauh dari café ini. Banyak orang keluar ntuk menyaksikan apa yang sedang terjadi. Aku pun juga penasaran, akhirnya aku juga ikut melangkah keluar dan mendekati kerumunan banyak orang di tepi jalan.

Ternyata… segala kekhawatiranku benar. Kecelakaan tragis yang barusan terjadi adalah Roy vs Truk. Ya Tuhan… cobaan apa lagi ini? Kuatkah aku untuk menanggungya?

“Roy,kamu tidak papa kan? Kenapa bisa sampai seperti ini?”, tanyaku disertai dengan isak tangis yang tak terbendung lagi.

Roy hanya tersenyum dan menahan akit yang ia derita. Ia pun menyerah kan sapu tangan, dan bungkusan yang terjatuh di sebelahnya.

“Maafkan aku Sin, aku mencintaimu.”, kata Roy dengan nada yang sangat lemah.

Roy menggenggam tanganku erat seolah ia tak ingin kehilangan aku. Aku hanya bisa menangis dan berteriak minta tolong dengan oang yang berbaju merah di sebelahku untuk menghubungi ambulance. 

“Roy, kamu harus kuat ya? Jangan banyak bicara, ambulance akan segera dating untuk menolong mu. Aku juga cinta sama kamu. Aku sudah maafin kamu. Maafkan aku juga.”, kataku sambil menatap Roy yang hanya tersenyum tipis. Wajahnya semakin pucat. Tangannya semakin dingin sedangkan genggamannya semakin lemah. Hingga ahirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya sebelum ambulance tiba.

Kepergian Roy membuatku syok dan pingsan selama berjam-jam. Aku tidak sadar dengan apa yang terjadi. Setelah aku membuka mata aku sudah berada di rumah sakit ini lagi. Tempat dimana menciptakan kenangan yang indah bersama Roy waktu itu. Ternyata Roy sudah dimakamkan beberapa jam yang lalu. Aku pingsan selama 20 jam. Hah? Ini pingsan apa mati suri ya? Ibuku pun juga cemas dengan keadaanku seperti ini.

Aku ingat dengan bungkusan terakhir yang diberikan Roy padaku. Dengan penuh rsa penasaran kaupun membukanya. Air mata terus mengalir karena kau tidak kuat lagi untuk menahannya.

To : my dear, Sinta
Sin, gue minta maaf atas kejadian selamai ini sama elo. Gue salah. Sebenarnya gue udah sejak lama naksir lo. Gue marah ketika tahu elo sering jalan dengan Bagas. Itu semua karena gue cemburu. Lalu sindiran gue ketika elo dapetin nilai 100 waktu itu  sebenarya karena gue bangga sama semua usaha lo yang tidak sia-sia. Gue tahu elo belajar mati-matian kan?
Soal cinta taruhan itu sebenarnya tidak seperti yang elo bayangin. Gue memang taruhan dengan Bagas, tapi itu bukan demi uang. Tapi demi buktiin cinta gue sama elo. Gue enggak rela elo jadian sama Bagas karena cewek Bagas banyak sekali. Bahkan hamper setiap malam munggu ia pergi ke café dengan cewek berbeda.
Gue cinta tulus sama elo Sin, gue enggak rela elo diamainin Bagas gitu aja. So, gue ngajakin Bagas buat taruhan dapatin elo. Gue berjuang setengah mati uat dapetin elo. Itu semua agar bagas pun tahu bahwa elo bukan cewek murahan. Gue sayang sama leo sin.
Ini ada liontin buat kamu. Jika suatu saat kita memang sudah ditakdirkan untuk berpisah dengan jalan masing-masing, gue harap elo masih akan tetap ingat aku. Jaga ini baik-baik walau pun elo masih benci sama aku. Mungkin aku bukan yang terbaik buat kamu. Tapi perlu kamu tau, di setiap sujudku, ku sebut namamu pada Yang Maha Kuasa. Semoga Tuhan senantiasa melindungimu.
Yang Mencintaimu
Roy        

Tuhan terimaksih karena Engkau telah menghadirkan sosok manusia yang berhati malaikat untuk mengisi hari-hari sunyiku. Terimakasih atas semua yang telah Engkau berikan. Jagalah ia disamping-Mu. Berikan ia posisi yang terbaik dan terimalah semua amalan baiknya. Amiin.

---*** The_End***---

MASIH ADA SISA WARNA HIDUPMU

MASIH ADA SISA WARNA HIDUPMU

Cerpen Cinta - Karya Randi Erika Jamarun

Gadis itu bernama Bunga, semenjak orang tua nya meninggal Bunga mengalami situasi yang sangat terpuruk. Hari-hari menajdi buruk dijalani Bunga. Memang tak dapat dipungkiri kedekatannya dengan orang tuanya. Bunga selalu tidur disamping ibunya, bahkan semua keseharian Bunga dikampus tak pernah dilewatkan sedetikpun untuk diceritakan kepada ibunya.

Pada suatu malam sebelum kepergian ibunya, Bunga tepat tidur didekat ibunya. Bunga memeluk ibunya dan bercerita “ Ibu hari ini aku kuliah Bahasa Inggris, dan kami tadi bermain games bersama, kelompok aku tidak menang hari ini bu” ujar Bunga kepada ibunya. Lalu sontak ibunya menjawab “ main games apa tadi Bunga nak? Tidak papa Bunga tidak menang hari ini tapi suatu saat Bunga pasti akan diberi kemenangan” saut ibunya.

Ketika sebelum tidur, ibunya langsung mengambilkan sesuatu yang dia buatkan untuk Bunga ketika kepasar tadi. “Bunga…. Ibu tadi lagi membuat kerajinan dengan ibu-ibu tetangga lain, trus ibu teringat kamu dan ibu membuatkan ini” dengan tersenyum ibu memberikan kepada bunga. “ itu apa bu, baling-baling? Ibu becanda ya, Bunga kan bukan anak kecil lagi bu” jawab Bunga.

“Ibu memberikan ini agar kau selalu tersenyum nak, aka nada masa-masa sulit yang akan Bunga lewati ketika beranjak dewasa. Apapun kita tidak bisa mengetahui apa yang terjadi. Ibu membuatkan balin-baling pelangi ini untuk bunga agar bunga selalu tersenyum nak. Seperti ketika Bunga tidak menang main games dikampus tadi, dengan baling-baling pelangi ini emoga setiap masih ada angina yang berhembus didalam jiwa Bunga, maka akan slalu ada sisa warna dari pelangi itu yang akan mewarnai hidup Bunga”. 

Bunga tidak mengerti apa yang disampaikan Ibunya, dia masih menyimpan rasa penasaran dengan ucapan Ibunya tersebut. Tak lama berselang dua minggu, Bunga masuk kelas Bahasa Inggris lagi, dan games pun kembali di mulai. Kali ini kelompok Bunga menang dengan poin yang sangat jauh disbanding teman-temannya. Tak sabar ketika jam kuliah berakhir, Bunga ingin pulang dan memberitahukan kepada ibunya. Pastinya ibunya sangat bangga kali ini karena Bunga menang main games di pelajaran Bahasa Inggris dikampus nya. 

Dengan semangat Bunga berlari dan menunggu pangkuan ibunya. Namun ketika sesampainya dirumah, Bunga melihat orang sangat ramai di rumahnya. Tidak seperti biasanya banyak orang dirumah Bunga,. Sempat terpikir oleh Bunga perasaan tidak ada ibunya cerita mau mengadakan acara dirumah, biasanya ibu Bunga selalu bercerita kalau memang ada acara dirumah.

Ketika sampai didepan pagar rumah Bunga, dia heran semua orang orang nmenatapi dia dengan berlinang-linang. Rasa penasaran Bunga pun makin bertambah, lalu dia bertanya kepada ibu-ibu disana, tidak asda satupun yang menjawab, semua masih menatapi Bunga dengan berlinang. Lalu ketika masuk kedalam rumah, bunga melihat seseorang ditutup kain putih dan ditutup dengan kain panjang. Semua orang yang duduk disamping orang itu menangis dan membuat Bunga takut. Ibu teman pengajian ibunya pun langsung memeluk Bunga dan menangis, lalu ibu itu menyuruh Bunga membuka kain yang menutupi orang yang tebaring dengan kain putih itu. Seketika Bunga membuka kain itu dengan perlahan, Bunga melihat mata yang selalu menatap indah kematanya, mulut yang selalu berucap kata sayang kepadanya. Tak bisa tertahan lagi Bunga berteriak dan menangis terisak-isak seketika mengetahui orang itu adalah ibunya. Bunga menangis dan terus menangis sambil memeluk mayat ibunya dan berkata “ ibu kenapa ibu pergi begitu cepat? Bunga takut bu… bunga takut 
sendirian tanpa ibu. Bunga hari ini menang games di kampus bu, Bunga ingin cerita sama ibu…”.

Ibu bunga telah meninggal dunia, ada beberapa hal yang tak dikatakan ibunya kepada Bunga. Ibu bunga mengalami penyakit gagal ginjal. Tetapi dibunya meneymbunyikan kepada Bunga, dengan alasan agar Bunga tidak terganggu dalam belajar dan Bunga selalu semangat didalam kuliahnya. Ayah Bunga juga sudah meninggal dunia semenjak Bunga ber umur 5 tahun, keluarga Bunga juga tidak jelas dimana. Bunga adalah anak satu-satunya, dan sampai saat sekarang Bunga dirawat oleh ibu tetangganya.

Setelah 1 tahun kemudian, Bunga membuka box barang-barangnya yang dia simpan lama di bawah tempat tidurnya, dan melihat baling-baling pelangi yang diberi ibunya. Lalu Bunga menangis melihat pemberian ibunya itu, dan berkata sekarang Bunga sudah mengerti bu…..

Sekelam apapun proses hidupmu, masih akan ada angin yang memutar roda baling-baling kehidupan yang menyebarkan warna-warna cinta dalam jiwamu”

~Randi Erika~

“END”

SARANGHAE,


SARANGHAE, 

Cerpen cinta - Karya Yuliani

Hayy temen-teman, namaku Sheirin Anggelica. Panggil aja Ririn. Aku sekarang duduk dikelas X SMA.

Ohh iyaa, aku juga pengen kenalin seseorang sama kalian. Namanya Andre Mars. Dia kakak kelasku, dia sekarang kelas XI IPA, aku kenal sosok dia saat masa orientasi bulan kemarin, dia koordinator gugusku, jadi gag salah kalau aku akrab sama dia.

Mungkin sampai sekarang dia gag tau kalau aku menyukainya, entah kapan perasaan itu datang ? aku pun tak tau . yang jelasnya aku mulai menyukainya sejak masa orientasi itu. Dia beda dengan ocwok lain, aku suka dengan pribadinya yang selalu kelihatan Cool, dia gag pernah besar-besarin masalah kecil. Hmm dia juga termasuk cowok populer di sekolah, dia anak eskul volly, takraw dan juga anak PasKib.

Gag terasa, udah 2 bulan aku sekolah di sekolah itu, dan udah 1 bulan juga aku lost contact dengan Andre, aku gag tau kenapa aku begitu merindukannya, rindu akan canda tawanya, nasehat dan motivasinya. Aku sadar, dia gag mungkin menyukaiku. Siapa aku? Aku hanya anak kelas X, gag pinter, gag cantik dan penuh dengan kesederhanaan. Aku gag pantas untuk dia yang berbanding terbalik denganku.

Pada suatu hari ketika aku sedang melamun diteras rumahku ditemani dengan bintang-bintang, Ponselku bergetar tanda ada pesan yang masuk.

From: Andre
Malam Ririn, kamu apa kabar? Sorry yaah aku baru bisa hubungin kamu soalnya kemaren2 itu aku lagi sibuk!

Aku seneng banget dapat pesan dari Andre, rasanya aku pengen teriak supaya semua yang ada di dunia ini tau betapa bahagianya aku malam ini.

Akhirnya malam itu aku sama Andre balik kayak dulu lagi, brcanda bareng dan gag jarang dia memotivasiku disaat aku lagi down.

Aku ingat banget saat aku lagi nangis di taman sekolah gara-gara putus sama pacar, waktu itu Andre samperin aku dan dia bilang sesuatu ke aku.

“orang yang udah pergi dari hidup kita gag usah ditangisin dek, bukan kamu yang kehilangan dia tapi justru dia yang kehilangan kamu, semua kejadian pasti ada hikmahnya dek. Percayalah suatu saat nanti cinta yng sebenarnya akan menghampirimu”

Aku sangat beruntung kenal sama kak Andre, meskipun kecil harapan untuk bersamanya tapi paling tidak aku bisa mengaguminya..
Suatu hari Kak Andre nyemperin aku di perpus.

“Hay Ririn” sapanya
“Hay kak, ada apa?”
“Gag apa-apa. Ehh menurut kamu sindy itu orangnya bagaimana yaa?”
“Kok kakak tumben nanyain sindi sama aku?” jawabku heran
“Aku suka sama sindy, tapi aku gag tau gimana cara bilangnya! Makanya aku boleh minta saran gag sama kamu, kaliankan sama-sama cewek, yah paling tidak kamu bisa ngasih tau aku dong hal apa saja yang disukai cewek. Kamu mau khan?”

Rasanya sakit banget denger Andre bilang seperti itu ke aku, aku Cuma melamun saat kata-kata itu terucap dari bibir Andre.

“Ririn kamu gag apa-apa kan?” sambil natapin aku heran
“Ehh, maaf yaa kak aku buru-buru aku harus pergi!”

Sindi itu sahabatku, bahkan dia udah kayak saudarku. Rasanya sakit banget tau kalau orang yang aku sayang malah sayang sama sahabatku sendiri.

Sampai di kelas aku Cuma bengong terus sampai jam pulang.

“Hayy kok dari tadi aku perhatiin di kelas kamu bengong mulu, ada apa?” suara Sindi membuatku kaget
“Ehh, ng..ngag apa-apa kok, hmm sindi kak Andre naksir sama kamu”
“Apa? Beneran. Kamu gag bercanda khan?” tanyanya kegirangan
“Enggak lahh..!, aku pulang duluan yaahh! Bye”

Diperjalanan pulang pikiranku kacau balau.

“Aku harus relain kak Andre dengan sindy, lagipula sindi adalah sahabatku. Kalau sindi bahagia seharusnya aku juga ikut bahagia.” Kataku dalam hati.

Keesokan harinya di taman sekolah Andre nyamperin aku.

“Akhirnya gue jadian juga sama Sindi, aku bahagia banget Rin!” katanya kepadaku dengan wajah yang berseri
“Ohh, baguslah”
“Lohh kok jawabannya dingin banget, kamu sakit yaah?’
“Hmm gag kok kak, aku duluan yahh”
“Kamu gag tau gimana hancurnya perasaanku saat kau mengatakan hal itu, kamu memang pantas untuk Sindi yang pinter cantik dan tajir gag kayak aku.” Desisku dalam hati sembari meninggalkan Andre di taman sekolah.

Mungkin aku Cuma bisa mencintaimu dalam diam, memelukmu dalam mimpi dan mengagumimu dari bumi disaat kamu berada dilangit. Aku mencintaimu Andre , ku ingin kau tau itu. Saranghaeyoo..

PENGORBANAN TERINDAH UNTUK ANGGUN

PENGORBANAN TERINDAH UNTUK ANGGUN

Karya Lusi Parwini, Ni Putu

Cerpen Persahabatan - “Ra, Dara kamu dimana? Katanya kamu bawa kejutan buat aku.”Ujar Anggun, gadis tuna netra yang mencari seseorang yang baru saja bersamanya. Gadis itupun terus menggerakkan kursi roda sampai di taman belakang rumahnya. Ketika sampai disana, terdengar suara Dara dan seseorang sayup-sayup di belakang pohon mangga. Secara tak sengaja Anggun mendengar percakapan mereka.
“Aku gak nyangka keadaannya seperti ini, dan aku gak sanggup jalani hubungan ini.”suara seorang cowok yang rasanya dikenal Anggun. Rio, pacar Anggun. ‘Apakah Rio akan mutusin hubungan kita, setelah tahu keadaanku sekarang?’tanyanya sedih dalam hati.
“Jangan gitu Yo, kasiankan dia, dia pasti sedih kalau dia mendengar pernyataanmu tadi.” Terdengar suara Dara.
“Tapi, hm, aku sayang kamu.”perkataan Rio mengejutkan Anggun. Anggunpun menghampiri Dara dan Rio.
“Gila ya! kalian ngehianatin aku.” Ujar Anggun sembari membalikkan badannya dan menggerakkan kursi roda berbalik arah. Dara dan Rio segera mencegat Anggun dan mencoba menjelaskan sesuatu.
“Nggun, semuanya gak seperti yang kamu denger.”jelas Dara
“Apa??jelas-jelas aku dengar Rio bilang cinta ma kamu, Ra.”
“Gak ada Nggun. Aku gak ada bilang cinta sama Dara tapi…”Penjelasan Rio yang terpaksa tak berujung, nampaknya Anggun tidak mau tau apa yang dijelaskannya, baginya semua itu hanya omong kosong. Bujukan yang tak ada artinya. Anggun tetep kekeh dan percaya pada apa yang ia dengar barusan. Dengan bergerak tergesa-gesa, Anggun menghambur ke kamarnya dan pintu pun sengaja dikuncinya rapat-rapat. Sementara itu Dara dan Rio menyusul Anggun dari belakang.
“tok,tok,tok.”terdengar suara pintu kamar Anggun diketuk dan diiringi suara-suara Dara dan Rio yang saling bersahutan memanggil Anggun serta hendak menjelaskan apa yang terjadi sesungguhnya.
“Pergi, Pergi kalian! Aku gak butuh penjelasan dari kalian, semuanya sudah sangat jelas. Pergi!!”Ucapnya sembari melempar bantal ke pintu, bukan hanya itu, boneka dan semua yang ada dikamarnya diobrak-abrik, sebagai pelampiasan rasa amarah dan sedih yang luar biasa berkecamuk dihatinya.
“Sekarang aku tahu perasaan kamu sebenarnya ke aku Yo. Kamu gak cinta aku secara tulus. Dulu aja, saat aku normal, bisa melihat, kamu bilang cinta mati ke aku. Tapi sekarang setelah musibah 2 bulan lalu menimpaku, kamu malah ninggalin aku Yo. Kamu malah pergi kepelukan Dara, sahabatku sendiri. Kamu juga Dara, jelas-jelas kamu tahu aku sama Rio sudah 5 bulan pacaran tapi kenapa Rio malah kamu embat?” Gerutunya dalam kamar yang sepi bisu. Lama-kelamaan khayalan Anggun melayang jauh pada kejadian tragis yang menimpanya tempo lalu.

Dua bulan yang lalu, Anggun, Dara, Maria, dan Fitri pulang bersama dengan mengendarai sepeda. Sembari mengobrol dan bercanda empat gadis belia itu bersepeda dengan santai. Tiba-tiba Anggun merasa haus, rasa haus yang begitu menyiksa tenggorokan Anggun. Diapun langsung menyebrang jalan ke Supermarket. Awalnya Dara melarang Anggun ke Supermarket itu, entah karena apa, padahal suasana jalan waktu itu sangat sepi. Tapi saking hausnya Anggun tidak peduli, ia langsung mengayuh sepeda begitu saja. Tiba-tibamuncul sebuah mobil Avansa silver dengan kecepatan tinggi menyambar tubuh Anggun. Anggunpun tak sadarkan diri. Dan ketika ia terbangun,ia merasa aneh. Ia tak bisa melihat apapun. Semuanya gelap. Keadaan ini ditanyakan pada mamanya. Terdengarlah suara tangisan Mama Anggun, dan ternyata Anggun buta. Anggun yang tak percaya akan hal ini berontak. Dan mulai saat itu pula kehidupan Anggun berubah drastis. Hidupnya hanya mengandalkan kursi roda dan bantuan orang lain. Sebagian besar sahabatnya pergi ninggalin Anggun karena keadaannya sekarang. Hanya Dara yang mau menemani hari-hari sepinya. Namun kini penghianatan membuat hati Anggun semakin teriris dalam kesendirian.

Tiba-tiba “Tok,tok,tok.”Terdengar suara pintu kamar Anggun diketuk.
“Sayang, buka pintu dong sayang, ini Mama.”Bujuk Mama Anggun lembut dibalik pintu, yang meluluhkan hati Anggun yang panas. Anggunpun membuka pintu. Seketika Anggun menghambur dalam pelukan Mamanya.
“Sayang kenapa ini? Kenapa berantakan”Mama Anggun heran, dan memeluk Anggun balik. Seketika Anggun menceritakan semua kejadian di taman. Mama Anggun pun mencoba sabar menghadapi emosi anaknya.
“Sayang, jangan begitu! Mungkin saja apa yang kamu dengar tidak seperti apa yang terjadi sesungguhnya sayang. Tidak mungkin kan Dara menghianati kamu. Sebaiknya kamu dengarkan penjelasan mereka.” Ujar Mama anggun sembari mengelus-elus rambut Anggun.
“Tapi Ma, aku sudah mendengar dengan jelas Ma. Pendengaranku masih awas. Gak mungkin salah, Ma aku mau sendiri.”Ujar Anggun sembari melepaskan diri dari pelukan Mamanya. Anggun mengunci diri di kamarnya. Tentunya menenangkan diri dengan segala masalah ini.
Hari-hari Anggunpun mulai dipenuhi kesendirian lagi. Penuh dengan kesepian. Tiada lagi suara renyah Dara yang menemani hari-harinya. Apabila Dara datang menemui Anggun, dia menolak mentah-mentah. Dan begitulah seterusnya. Begitu sunyinya hidup Anggun yang akhirnya membuat dia rindu akan keramaian. Akhirnya Anggun pun mencoba ke taman belakang untuk memperoleh ketenangan.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang menuju tempat Anggun duduk menghirup udara segar.
“Nggun, kamu ada disini , aku cari kamu ke rumah tadi, kamunya gak ada. Nggun, aku ingin menjelaskan kalau..”
“Cukup!! Cukup Ra, Gak ada yang perlu dijelasin lagi.Semuanya sudah jelas. Pergi, pergi!”Anggun segera memotong perkataan Dara, dia tak mau tau apa-apa lagi keburu rasa marah dan kecewa telah menguasai hatinya. Anggun pun menggerakkan kursi rodanya dengan susah payah, berusaha menghindari Dara.

Tiba-tiba, ‘AWAS!!!’ Dara histeris sembari mendorong Anggun. Dan yang masih terdengar jelas teriakan Dara yang lemah. Anggun hendak terbangun, namun buru-buru ia tak sadarkan diri. Ketika ia terbangun, terdengar suara Mama dan Papa Anggun yang panik melihat Anggun.
“Pa,Ma, Dara mana? Dara gak apa-apa kan? Anterin Anggun ke rumah Dara sekarang Ma, Pa…”Pinta Anggun lemah, panik, dan perasaannya mulai tidak enak.
“Ehm… Dara, Dara gak apa-apa kok? Tadi dia mau nengokin kamu… tapi dia takut kamu tolak Nggun… Ya udah nak. Kamu istirahat ya…”Ujar Mama Anggun terbata, beliau mulai meninggalkan Anggun dengan wajah sedih. Papa Anggun pun meninggalkan Anggun sendiri dengan tatapan yang sama. ‘ada apa sebenarnya? Entah apa yang disembunyikan dariku,’batinnya. Anggun mencoba tenang dan merebahkan diri di tempat tidur.

Tiba-tiba Dara datang dengan senyum yang tak pernah dilihatnya sebelumnya. Entah mengapa Anggun merasa senang tak terkira.
“Nggun. Kamu gak apa-apa kan. Nggun aku minta maaf telah membuat kamu kecewa tapi…”
“Nggak aku ikhlas Ra, aku ikhlasin Rio sama kamu, mungkin dia lebih bahagia sama kamu.”
“Nggak Nggun. Nggak, percaya Nggun, Rio sangat mencintaimu. O ya, aku ingin memberi sesuatu sebelum aku pergi. Kamu harus jaga kenangan yang ku beri.”
“Tapi, Ra, kamu mau pergi kemana? Jangan tinggalin aku Ra. Aku gak akan nolak kamu lagi, kumohon, atau kamu boleh ajak aku ikut bersamamu.. Aku gak mau kamu pergi sendiri.”
“Jangan Nggun, jangan, aku harus pergi sendiri,selamat tinggal”
“Dara jangan tinggalin aku, Dara…. Dara….Dara….Dara…” teriak Anggun.
“Sayang, kamu kenapa?”Ujar Mama Anggun dan Anggunpun terbangun.
“Jadi semua ini mimpi, tapi mimpi itu seperti nyata, itu pasti isyarat Ma.”Anggun memeluk mamanya sembari menceritakan mimpi buruknya barusan.
“Sayang, itu kan cuma mimpi,bunga tidur, jangan dipikirkan.”Mama Anggun mengusap-usap rambut Anggun dengan lembut.
‘Kring….’ terdengarlah suara telepon berdering, terpaksa Mama Anggun melepas pelukan anaknya dan berlari ke ruang keluarga. Hal itu mulai membuat Anggun penasaran. Dan Mama Anggun pun berbalik.
“Nggun, ada berita bagus. Ada orang yang mau mendonorkan matanya untukmu.”Ujar mama Anggun yang membuat anak semata wajahnya senang bukan kepalang. Dengan semangat Anggun diantar ke rumah sakit. Dalam perjalanan bibir mungil Anggun dipenuhi senyum membayangkan dirinya bisa melihat lagi seperti semula.

Operasi pun dimulai, tangan-tangan ahli mulai melakukan kebolehannya dalam mencangkok kornea mata. Dalam hitungan jam, operasi selesai. Anggun mulai membuka matanya. Terang sungguh terang. Semua orang di ruangan itu dilihatnya 1 per 1. Dokter,Perawat,Mama,Papa, Rio, Kak Siska,Mama Dara,tapi mana Dara? Tanya Anggun dalam hati.
“Kak Siska, Dara mana? Rio, mana Dara? Ma,Pa,Tante kenapa Dara tidak kesini?”Tanya Anggun panik, namun seketika sunyi tak ada jawaban, hanya tatapan sedih yang mengelilinginya. Anggun pun mulai terbangun.
“Kak Siska mana Dara?”Ujar Anggun sembari menggetarkan tubuh kakaknya Dara.
“Ehm, Nggun. Ini titipan surat dari Dara. Selain itu ada bungkusan buat kamu.” Rio menyodorkan sepucuk surat dan bungkusan kepada kekasihnya itu. Dengan sigap Anggun menerima dan buru-buru membaca surat dari sahabatnya itu.
Dear : Anggun
Nggun, mungkin saat kamu membaca surat ini aku sudah pergi… O ya, maafin aku karena aku tak sempat memberikan hadiah padamu sebelum aku pergi. Dan lewat surat inilah aku memberikan kenangan untukmu sahabatku. Nggun, maafin aku juga ya, belum sempat menjelaskan kalau aku dan Rio tidak ada hubungan apa-apa. Waktu itu Rio ngungkapin perasaannya pada foto kamu, bukan aku. Percayalah Rio itu orangnya setia. Dan janjilah kamu harus percaya sama Rio ,jika kamu sayang sama dia,Ok. Nggun, nanti kamu akan bisa melihat, melihat seluruh isi dunia ini. Melihat semua keindahan yang telah Tuhan berikan. Tapi maaf, aku gak akan bisa lagi menemani hari-harimu seperti dulu.Tapi tenang saja mataku akan terus menemanimu, menemanimu melihat indahnya dunia, dan akan ikut menghadapi masa depanmu. Dan kamu jangan sedih, aku tak mau kamu sedih. Bila kamu kangen sama aku, kamu bisa lihat bintang, pasti kangenmu akan terobati, seperti dulu waktu aku kangen papa. Oya kalung yang kita buat dulu sudah jadi. Simpan dan jaga baik-baik. Sekali lagi, Nggun jangan sedih… Aku akan selalu ada untukmu. Meskipun ragaku tak mungkin bersamamu lagi tapi aku selalu ada dihatimu. Dan aku akan selalu menjagamu dan bersamamu….
By :
Dara

Seketika Anggun menangis,dia tidak menyangka sahabatnya itu begitu cepat meninggalkannya.
“Kak, Dara sudah meninggal! Kenapa kak? Kenapa semua orang tak memberitahuku? Kenapa?”Ujar Anggun sembari menahan tangis.
“Dia meninggal…dia meninggal gara-gara kamu! Gara-gara menyelamatkanmu dari kecelakaan itu. Dia terluka parah dan akhirnya meninggal. Mata itu , mata Dara. Walaupun dia sekarat dia tetap mikirin kamu, Nggun…”Jelas Kak siska ketus sembari menuding mata Anggun. Anggunpun terdiam sejenak. Airmata Anggun terus menitik, bagai hujan lebat yang terjadi di luar sana. Ia baru sadar dan menyesal seharusnya waktu itu ia memberi kesempatan pada Dara untuk menjelaskan peristiwa di taman tempo hari. Anggun benar-benar menyesal.
“Maafin aku kak. Maafin aku.”Ujar Anggun tulus tapi Kak Siska malah memalingkan wajahnya, dan pergi meninggalkannya, begitu pula yang lain. Mereka membiarkan Anggun beristirahat setelah operasi, namun Rio tetap tinggal menemani Anggun.
“Dara, Dara.. Aku gak sanggup tanpa kamu.” Anggun memeluk foto Dara. Tak sengaja ekor matanya memandang ke meja di samping ranjangnya. Diambilnya pisau disamping buah apel. Entah kenapa, pisau itu malah ditancapkannya ke urat nadinya, untunglah Rio sigap menangkisnya.
“Nggun, jangan ….. jangan Nggun… Dara pasti sedih disana melihat kamu putus asa seperti ini.” Rio memeluk erat Anggun.
“Tapi Yo, aku gak sanggup tanpa Dara , gara-gara aku dia pergi. Aku salah Yo, aku yang harus pergi, bukan dia.”Keluh Anggun diiringi tangis.
“Sudahlah sayang, jangan bilang begitu. Mungkin ini sudah takdirnya.”Rio mencoba menenangkan Anggun. Anggun terdiam sementara air matanya membasahi baju yang dikenakan Rio, namun Rio tak marah dibiarkannya gadis itu menangis dipelukannya. Asal itu membuatnya tenang.

Ketika Matahari dan benda langit lainnya. Anggun mulai membuka jendela kamarnya. Anggun kengen sama Dara. Dipandangnya langit, bintang-bintang yang gemerlap , mendadak Anggun merasa tenang.
“Dara, aku kangen kamu. Aku sekarang sadar, apa yang kita dengar gak seperti apa yang terjadi sesungguhnya. Aku salah, tidak percaya padamu sepenuhnya. Gara-gara itu, aku harus kehilangan kamu. Sekarang aku janji, aku akan percaya pada orang-orang yang aku sayang, jika aku tak ingin kehilangan mereka. Ra….aku akan menyimpan dan menjaga apa yang telah kau beri padaku. Mulai sekarang aku akan menata hidup baru tanpa kehadiranmu disisiku. Tapi… dihatiku kamu akan tetap ada dan selalu ada.” Ujarnya dengan senyum semangat sembari menatap bintang, menatap hari-hari baru dan masa depan yang kan menanti, dengan kenangan indah bersama sahabatnya, “Dara.”

“Selesai”

HARAPAN ITU MASIH ADA

HARAPAN ITU MASIH ADA

Karya Murni Oktarina

Cerpen Perjuangan -  “Ibu, Nayla ingin berjualan pempek di tempat lain saja. Supaya kita mendapatkan uang lebih banyak,” kataku membujuk ibuku yang sedang menuangkan air ke dalam baskom berisi ikan yang telah digiling halus.

“Nayla di rumah saja! Masak, membereskan rumah, mencuci. Biarkan Ibu saja yang mencari uang.” Balasnya lembut sembari menatap wajahku. Ibu tersenyum dan mulai meratakan ikan dengan air lalu memasukkan sagu sedikit demi sedikit ke dalam baskom.

Aku tersenyum dan beranjak untuk mendidihkan air guna merebus pempek yang dibuat oleh mak. “Nayla ingin menjual pempek di Unsri, Bu. Kata Laysa, di kampus Unsri belum banyak yang menjual pempek.” kataku lagi sembari kembali duduk di hadapan ibuku yang terlihat sibuk membentuk adonan pempek.

“Apa Nayla tidak malu dilihat teman-teman kalau Nayla berjualan pempek di Unsri?” tanya Ibu serius padaku.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Ibu pun ikut tersenyum. Wajahnya tampak letih dan sudah ada kerut-kerut yang seharusnya belum muncul di usianya yang masih 40 tahun. Mungkin beban hidup yang berat membuat Ibu terlihat lebih tua dari usianya. Sejak Bapak meninggal dua tahun yang lalu, Ibu sendirian bersusah payah mencari uang untuk membiayai hidup kami. Awalnya Ibu berjualan sayur di Pasar 16 Ilir, namun sejak satu bulan yang lalu Ibu memutuskan untuk berjualan pempek saja di area Benteng Kuto Besak (BKB) karena tak sanggup lagi membayar uang sewa tempat.

Kehidupan kami sangatlah sederhana, namun aku masih bersyukur karena sempat menuntaskan pendidikanku di bangku SMA. Sebenarnya aku sangat ingin menyambung pendidikanku di bangku kuliah. Sejak kelas dua SMA, Universitas Sriwijaya (Unsri) Inderalaya adalah kampus impianku. Setelah Bapak meninggalkan kami saat kenaikanku di kelas dua, impian untuk kuliah hanya menjadi kenangan semata. Walau kata guru di SMA-ku, aku pasti bisa menembus satu kursi di Unsri dan ada beasiswa bagi yang berprestasi, aku tetap saja meninggalkan impian itu karena memikirkan ongkos ke kampus dan keperluan lainnya. Aku tak ingin menambah beban Ibu.

Dua jam kemudian, ibuku sudah siap dengan bakul pempeknya dan perlengkapan lain. Ia terlihat letih tapi wajahnya menggambarkan kekokohan dan semangat yang tak pernah padam.

“Nayla, Ibu pergi berjualan dulu. Doakan hari ini pempek kita laku banyak ya!” pinta Ibu sambil menyunggingkan senyum.

“Hati-hati di jalan, Bu! Nayla pasti mendoakan,” kataku ceria seraya mencium tangan Ibuku tersayang.

“Assalamualaikum,” pamit Ibu. Lalu langkah kakinya keluar meninggalkan rumah kami yang sederhana.

“Waalaikumsalam,” balasku yang kemudian mengunci pintu lalu mulai membereskan rumah dan masak dengan bahan seadanya.

Sudah pukul 10.00, pekerjaan rumah sudah rampung. Segera kuambil air wudhu untuk menunaikan shalat Dhuha. Ah, seharusnya tadi aku shalat saja dulu baru kemudian menyelesaikan pekerjaanku, biar tidak sesiang ini baru menunaikan Dhuha. “Maafkan kekhilafanku, ya Allah.” kataku dalam hati memohon ampun.

***

Kulirik jam usang yang menempel di  dinding kayu rumahku. Sudah pukul 14.00 dan biasanya setengah jam lagi Ibu akan pulang. Aku menyiapkan makan siang untuknya. Kasihan sekali dengan ibuku, setiap hari makan siangnya di atas jam dua apalagi dia harus berjalan kaki melintasi Jembatan Ampera untuk sampai ke BKB, tempatnya berjualan. Sambil menunggu Ibu pulang, kunyalakan televisi, satu-satunya barang berharga di rumah kami.

Dari arah jendela, kulihat Laysa yang baru pulang kuliah. Segera kuberanjak dari dudukku dan mengenakan jilbab, kemudian keluar rumah untuk menyapa sahabat sekaligus tetangga terbaikku itu.

“Laysa…!” panggilku cukup kuat karena Laysa sudah lewat dari rumahku.

Laysa menoleh ke belakang dan tersenyum melihatku. Ia membalikkan langkahnya menghampiriku. “Kenapa, Nay? Kangen sama aku ya? Haha…!” kata Laysa bercanda lalu ia tertawa.

“Hahaha, tidak tuh! Setiap hari bertemu sama kamu kok. Kenapa harus kangen,” jawabku yang ikut tertawa. Aku mengajak Laysa untuk mampir ke rumah sebentar.

“Enak sekali jika setiap hari mendapat pempek gratis nih!” ujar Laysa sambil mengunyah pempek dengan semangat.

Aku hanya tertawa. “Jadi bagaimana, Sa? Kira-kira bisa tidak aku berjualan pempek di tempat kuliah kamu?” tanyaku serius sambil memandangi Laysa yang kepedasan oleh cuka pempek.

“Ssshhh…. Tenang saja! Itu aku yang urus semua,” Laysa menjawab pertanyaanku lalu tergesa-gesa meneguk air di dalam gelas hingga tak tersisa.

“Ah, Laysa. Aku sangat berterima kasih! Kamu memang sahabatku yang paling baik.” kataku bahagia.

“Sama-sama, Nayla. Biasa saja, ah!13” ujar Laysa sambil mengerlingkan mata indahnya.

Beberapa menit berlalu dan Laysa minta izin untuk pulang. Baru saja kami keluar, ibuku sudah pulang dan tersenyum pada kami. Aku mencium tangan Ibu kemudian disusul oleh Laysa yang juga mencium tangan Ibu.

“Laysa pulang dulu, Bu!” pamit Laysa pada Ibu. Ibu mengangguk kemudian masuk ke dalam rumah.

“Besok langsung saja bawa pempeknya. Bareng aku ke Unsri, jam 07.00 tepat, jangan telat!” pesan Laysa padaku. Aku mengangguk lalu melambaikan tangan pada Laysa yang berlalu pulang.

Aku masuk ke dalam menemui Ibu yang sedang makan. Wajahnya terlihat  dirundung kesedihan. Namun saat ia melihatku, wajah itu dipasang seriang mungkin dan mengembangkan senyuman. Aku membalas senyum Ibu dan masuk ke kamar, merapikan jilbabku. Sekalian mempersiapkan diri ke rumah Mang Teguh. Setiap pukul 15.00, aku dan Ibu bekerja mengupas bawang di rumah Mang Teguh untuk menambah penghasilan kami.

Aku terpaku di sisi jendela kamarku, memperhatikan keramaian daerah sekitar. Rumahku berada di Seberang Ulu, tepatnya di daerah 10 Ulu. Cukup dekat dengan Jembatan Ampera dan Sungai Musi, kebanggaan kotaku, Kota Palembang. Airmata jatuh perlahan membasahi pipiku. Ketika aku dilahirkan hingga berusia 18 tahun sekarang, kami sudah berkali-kali pindah rumah kontrakan. Hidup pas-pas’an dan aku sama sekali belum pernah merasakan masa remaja seperti remaja seusiaku lainnya yang bisa jalan-jalan, pergi nonton di bioskop, atau apapun itu. Bukan aku tidak bahagia dan tidak bersyukur atas nikmat hidupku, tapi aku hanya mengingat perbedaanku dengan mereka. Mereka yang hidupnya lebih beruntung dariku.

***

Ada rasa bahagia terselip di hatiku, menyaksikan kehijauan kampus Unsri Inderalaya. Angin sejuk berembus dan memainkan ujung jilbab putihku. Gedung-gedung kokoh yang indah dan nyaman, bus-bus mahasiswa yang terparkir rapi di terminal kampus, mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang dengan kesibukan masing-masing dan semuanya, semuanya menarik perhatianku. Inilah kampus impianku. Lebih tepatnya impianku dahulu. Sekarang? Tidak. Ah, sepertinya masih. Hanya saja aku berusaha untuk melupakannya.

Ternyata Laysa menyuruhku berjualan di area Fakultas Ekonomi, fakultas tempatnya kuliah. Laysa beruntung sekali memiliki kesempatan belajar di sini. Aku teringat saat kami berdua tertawa bahagia sehabis membaca koran di halaman Masjid Agung. Namaku dan Laysa tertera di pengumuman, kami sama-sama lulus di jurusan Akuntansi. Ya, aku memang sempat ikut tes SNMPTN (Seleksi Nasonal Masuk Perguruan Tinggi Negeri) untuk menyenangkan hatiku. Tapi semua mesti dilupakan karena kulihat wajah Ibu bersedih saat kukabarkan kelulusanku tersebut.

“Nayla, kamu jualan di sini? Jualan apa?” tanya Daira, teman satu SMA-ku. Ia membuka penutup bakul yang berisi pempek. Keningnya tiba-tiba berkerut, lalu menatapku tajam, tatapan merendahkan.

“Oh, pempek buatan ibu kamu pastinya, bukan?” tebak laki-laki tampan dan kaya itu dengan benar.

Aku hanya mengangguk dan berusaha untuk tersenyum. “Mau, Daira?” tanyaku basa-basi, aku tahu ia tak akan membelinya.

“Tidak, ah! Aku takut tidak steril. Oh, ya, jangan berjualan di sini! Nanti kampus kita jadi bau ikan busuk dari pempek itu,” hina Daira memandang sinis padaku dan menunjuk ke arah tumpukan pempek, jualananku.

“Sirik aja jadi orang! Tidak ada yang melarang Nayla jualan di sini, aku sudah minta izin pihak fakultas kita, kok!” tiba-tiba Laysa datang membelaku. Aku menarik napas lega karena Daira langsung pergi begitu saja.

Laysa menepuk bahuku, menenangkanku. Dia tersenyum dan duduk menemaniku berjualan.

Tepat pukul 15.00, aku sudah sampai di rumah. Kulihat ibuku sedang tertidur pulas di lantai menghadap televisi yang masih menyala. Aku mengecup kening ibuku tersayang lalu masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian. Hari pertama berjualan di Unsri sudah cukup lumayan. Aku sangat bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah kepada kami, walau sempat kesal di kampus tadi karena Daira sangat menghinaku. Sejak SMA, ia memang tak menyukaiku. Ada-ada saja hal yang diperbuatnya untuk menghinaku habis-habisan. Namun, Laysa selalu membelaku. Daira akan segera diam jika ada Laysa, karena laki-laki sombong itu menyukai Laysa.

Kulihat Ibu sudah bangun dari tidurnya. Ia tersenyum melihatku dan bertanya, “Bagaimana, Sayang? Laku pempeknya di Unsri?”

“Alhamdulillah, Bu. Pempek kita masih bersisa sedikit,” jawabku sumringah sambil menyerahkan lembaran uang padanya.

Ibu tersenyum bahagia menerima uang dariku. “Ayo kita berangkat sekarang saja ke rumah Mang Teguh!” ajak  ibuku sambil membenarkan letak kerudungnya.

***

Sudah dua minggu ini Ibu sakit. Sering terdengar ia batuk-batuk walau berusaha untuk dinahannya agar tak terdengar olehku. Tubuhnya pun semakin kurus dari hari ke hari. Sudah sering aku menyuruh Ibu untuk ke puskesmas dan istirahat dulu dari berjualan pempek., namun Ibu selalu menolaknya dengan alasan hanya demam biasa yang sebentar lagi akan sembuh. Aku sangat mengkhawatirkan ibuku dan takut terjadi apa-apa karena dua minggu ini belum sembuh-sembuh juga.

Dan hari ini, Ibu sama sekali tak bisa duduk apalagi berdiri. Ia hanya tergolek di atas kasur tipis. Aku menjaganya dan memutuskan untuk tidak berjualan dan mengupas bawang dulu hari ini. Setelah menyuapi ibuku makan, aku memberikan obat yang kubeli di warung pada Ibu. Ibu meneguk obat itu perlahan dan memejamkan mata sesaat seperti menahan sakit.

“Nayla, anak Ibu yang Ibu sayangi! Bisa bukan membuat pempek sendiri besok-besoknya? Uhuuuk…. Tetaplah berjualan pempek kalau belum mendapatkan pekerjaan. Ibu selalu mendoakan Nayla agar bisa menjadi orang sukses, bisa kuliah seperti cita-cita Nayla dulu. Mungkin Ibu tidak bisa lama-lama bersama Nayla. Jika nanti Ibu telah tiada, Nayla tinggal saja bersama Tante Sari yang di Kertapati itu. Dia pasti bersedia mengajak Nayla tinggal di rumahnya,” kata Ibu dengan lirih sambil terbatuk-batuk.

Hatiku berdesir dan cemas mendengar perkataan ibuku. Aku merasakan ada hal buruk yang akan terjadi. Ingin rasanya aku menangis namun tetap kutahan agar mak tidak melihatku bersedih. “Ibu pasti sembuh. Ibu bisa lama-lama bersama Nayla kok,” ujarku berusaha riang. Aku ingin tersenyum pada Ibu, tapi malah airmata yang bercucuran. Ibuku merentangkan tangannya dan kami berpelukan.

“Ya, Allah. Semoga ini bukan hal buruk tentang ibuku. Aku memohon padamu, sembuhkanlaH ibuku. Aku sangat menyayanginya. Hanya dia yang kumiliki sekarang, ya Allah. Berikanlah yang terbaik buat dia, aamiin…,” doaku setelah selesai menunaikan shalat ashar.

Aku melepas mukena dan masuk ke dalam kamar untuk melihat ibuku Walau sakit, biasanya Ibu tetap ingin menjalankan shalat dalam posisi berbaringnya, jadi kubawakan air bersih dan mukena untuknya.

“Ibu, Nayla sudah shalat ashar. Ibu juga mau shalat, kan?” tanyaku lembut pada Ibuku yang hanya terdiam kaku dan matanya telah terpejam dalam damai.

***

Satu tahun kemudian.

Aku berdiri di pinggiran Sungai Musi yang berada tepat di depan BKB. Kupandangi aliran air yang cukup deras dan ombak yang bermain naik turun karena baru saja dilewati ketek-ketek (perahu bermesin khas Palembang). Sesekali aku mengamati  ibu-ibu yang menjual makanan dan minuman yang duduk di bebatuan menunggu pembeli. Pikiranku melayang mengenang ibuku yang sudah satu tahun meninggalkanku, menghadap Sang Ilahi. Aku mengikhlaskannya karena tak ada gunanya bila disesali. Semua adalah takdir yang telah ditentukan Allah. Aku pun yakin, jika sekarang Ibu telah bertemu Bapak dan berbahagia di surga-Nya.

“Nayla, kita pulang yuk! Besok ada ujian di kampus, kan? Pulang ini kamu langsung belajar saja, Sayang.” ujar Tante Sari sambil merangkul bahuku. Kini ia menggantikan ibuku untuk menjagaku. Tante Sari dan suaminya sudah menganggapku sebagai anak mereka dan membiayai hidupku, termasuk kuliahku di Unsri.

Aku mengangguk lemah sambil menghapus bulir bening yang keluar dari pelupuk mataku. “Ibu…. Nayla berjanji, nanti Nayla akan menjadi orang sukses supaya Ibu dan Bapak bisa bangga punya anak seperti Nayla. Semoga Ibu dan Bapak bahagia di sana. Suatu saat nanti, kito bertiga pasti bisa berkumpul lagi. Oh iya, sekarang Nayla sudah bisa kuliah di Unsri sambil berjualan pempek, Bu. Nayla kangen sama Ibu juga sama Bapak!” teriakku cukup keras ke arah Sungai Musi di hadapanku. Riaknya kini kembali tenang setelah ketek-ketek sudah menjauh. Setenang hatiku sekarang.

Tante Sari menuntunku sambil menghapus airmataku. Kami menuju ke area parkir. Om Usman, suami Tante Sari sudah berada di parkiran, menjemput kami dengan mobilnya.

“Ya, Allah. Ya, Tuhanku. Aku sangat bersyukur atas semua karunia dan nikmat yang masih Engkau berikan untukku. Engkau telah memberikan dua orang yang amat baik, sebagai pengganti kedua orangtuaku yang telah tiada. Engkau telah memberikan kehidupan yang layak untukku. Engkau juga telah mengabulkan impianku untuk menuntut ilmu di Unsri. Semuanya telah Engkau berikan padaku, semua kenikmatan-Mu. Semoga dengan semua ini akan membuat diriku semakin beriman dan bertakwa kepada-Mu, ya Allah. Semoga kelak Engkau izinkan diri ini untuk bertemu kembali dengan Mak dan Bapakku, aamiin Ya Rabb….”

Pesan Rantai Kasih Sayang

Pesan Rantai Kasih Sayang

Cerpen Motivasi - Aku bukanlah siapa. Aku hanya seorang yang tahu apa arti hidup. Jika bagi dia hanyalah air es. Bagiku adalah sebongkah emas. Dia tahu namaku. Dia tahu dari mana aku berasal. Dan dia tahu siapa aku. Aku memang tidak sepertinya. Aku memang tidak seperti wajahnya. Dan aku memang tidak seperti dia. Namaku tak sebagus jabatan yang dia kasihkan untukku. Jabatan yang dia berikan memang tak sebanding dengan arti kehidupan yang telah dia berikan dalam hidup ini. Tin adalah jabatan untuk diriku.

“Tin sedang apa kau di sana?” suara riang terdengar dari belakang.
“Hai senang ada kau, aku sedang memancing ikan” , jawabku tersenyum untuknya.

Dia adalah perisai untukku. Wajahnya jelita, heraian rambut terurai nan indah, senyum lembut terlukis oleh bibirnya serta matanya yang berkilauan bagai berlian. Kusapa dia dengan sebutan Lulu. Lulu memang selalu ada untukku, dia selau menemaniku dan mengerti keadaanku. Kami selalu bermain bersama-sama di dekat kolam.

“Mengapa kau terus melamun Tin, apakah masih teringat amplop itu? ”, tanya dia keheranan.
“Entahlah, semua yang ada dipikiranku saat ini hanyalah ikan” , jawabku untuk mengilangkan keheranannya.

Pikirannya berhenti sejanak. Wajahnya lesu dengan kepala menunduk. Menelan ludah untuk dirinya terlihat satu kali. Tarikan nafas dalam ikut melukiskan keadaan.

“Aku tak tahu pikiranmu, tapi aku tahu perasaanmu Tin” , ucapnya menenangkan diriku.
“Sudahlah lupakan, mungkin itu suatu hadiah. Iya kan? ”, jawabku dengan pertanyaan yang tak ingin kutanyakan.

***

Sejak hari itu tak pernah lagi aku bertemu dengannya. Hari ke hari Lulu semakin menghilang. Mungkin dia lelah. Mungkin dia sedang pergi. Mungkin dia sakit. Dan mungkin dia bosan. Seluruh ingatan ini tertuju untuknya. Tak tahan rasanya tak bertemu dia selama enam hari ini.

“Lulu, Lulu, Lulu.....kau dimana?”, teriakku keras di pinggir kolam.

Aku masih ingat cerita yang pernah kau katakan padaku. Aku mengingatnya. Waktu itu aku sedang duduk di pinggir kolam. Kau jatuhkan amplop coklat itu dari atas kepalaku. Kau peluk aku dan kau basahi baju merahmu dengan air mata. Aku tak tahu apa isi amplop itu. Memang aku sudah menduganya, sejak kau berkata padaku kau akan periksa ke dokter karena kau sakit kepala. Ku sengajakan  tak membacanya.

Wajah lesu terungkap. Air suci tubuh berjatuhan dari mata air. Mungkin itu sebuah penyesalan yang tak ada habisnya. Aku berlarian kesana kemari mencari dia. Ya dia Lulu, aku tak tahan jika tak ada wajah jelita itu. Sampai saat ini memang aku tak pernah mengalami kemarahanku untuk dia. Namun, mengapa dia tak ada.

Kujalani hari-hari tanpanya. Langkahku semakin hari kian meredup. Angin yang bertiup dari barat berubah menjadi timur. Dalam hati masih terdapat segumpal luka yang belum terjawab. Berandai-andai aku untuk dirinya. Berandai-andai aku untuk menemuinya. Aku tak malu. Aku tak heran. Namun, aku yang menjadi sebuah keheranan dan kemaluan itu untuk dia.

“Apakah kau masih mengingatku?”, pertanyaaan terdengar dari belakang.
“Aku tak tahu apa yang telah aku katakan padamu dulu, sehingga kau marah padaku.” , jawabku untuknya.
“Mungkin itu yang menjadi kemarahanku untuk diriku sendiri, maafkan aku teman, aku yang telah melupakanmu.” , tanya terus terdengar.
“Kau siapa, aku tak tahu harus berbuat apa untuk memaafkanmu?”, tanyaku untuknya.
“Aku tak pernah menghilang, aku selalu ada, aku selalu ada dihatimu. Kau tak usah khawatir, aku akan selalu bersamamu sampai kapanpun” , jelasnya dengan suara lembut.
“Kau tak tahu betapa luka dihatiku belum terguyur air, kau tak tahu?” , rayuan itu dengan wajah lesu.
“Mungkin itu hanyalah kegagalan yang tertunda” , jawabnya sambil tersenyum

Berkatalah aku dalam hati. Aku akan memelukmu walau hanya sekejap saja. Aku tahu tak banyak yang telah kau lakukan untukku. Aku tahu tak banyak yang telah aku lakukan untuknya. Tapi aku tahu bahwa dia telah banyak melakukan kebaikan dalam hidupnya. Hatiku rasanya senang sekali bisa bertemu dengannya. Aku ingin selalu ada untuknya.

Entahlah, aku terbangun dari tidurku. Aku membuka mata dan aku menyadarinya bahwa dia telah tiada. Mungkin, memang itu yang harus aku katakan padanya bahwa aku selalu ada untuknya dan tidak mungkin aku melupakannya. Hariku selalu ada untuk menemani dirinya.

Aku ingat ceritamu. Ya, ceritamu saat kamu dekati aku di pinggir kolam itu. Kau luluhkan, kau senderkan pundakmu padaku untuk yang kesekian kalinya. Entah apa yang sedang kau pikirkan. Namun, itu mungkin suatu kesedihan. Kau pesankan aku agar mengikuti pentas itu, dan sampaikan salammu untuk dia yang hebat.

“Percayalah, kamu akan berhasil jika kamu lihat di bawahmu!”

Kata itu selalu teringat untukku yang takkan pernah kulupakan. Kini aku telah menggapainya. Kini kulakukan semua yang kau ajarkan. Untukmu  yang selalu ada untukku. 

***

Tertawaan dan cercaan bergemuruh ketika aku hendak bacakan puisiku untukmu. Kau berada di sana. Ya, aku merasakannya. Katamu selalu ku ingat dan ku pendam dalam hati. Perlahan-lahan ku hembuskan nafas. Sampai akhirnya akupun menemukan titik kepadatan hatiku. Ya, sekarang. Ini adalah keinginanmu. Ini adalah cita-citamu. Ini adalah peluang emasmu. Kini tak ada lagi yang bisa kutunda.

“Wahai kau yang berada di sana, dengarlah ucapku ini. Berdiri luang penuh dengan kepantasan. Menemui keanggunan bunga nan suci. Kau tak akan pernah. Tak akan pernah berhenti. Tak akan menjadikan bunga layu tak tersiram air”
        
Sorakan suara seorang penonton terdengar di antara heningnya panggung. Tak ada orang yang bersorak selain dia yang tengah memberikan semangat padaku. Semua penonton menyambut dengan meriah penampilanku. Seiring dengan sorakan penonton aku pun teringat kau. Aku merasakannya. Kau ada dalam hatiku, saat ini juga. Aku menganggukan kepala. Tak tertahan rasanya hembusan nafas lega untukku keluar dari panggung.

Saat yang paling aku tunggu telah datang. Hati berdetak kencang seolah tak tahan ingin mengetahui hasilnya. Entah apa yang ada pada kertas putih itu. Ku sebut namamu, kusebut dengan penuh kesabaran. Tak akan lupa kusebut Tuhan Yang Maha Kuasa. Detak jantung tetap terdengar keras. Tangan bergetar dan tak bisa bertahan untuk memohon doa, mulut seakan tengah menjalankan tugas dengan penuh cepatnya. Keringat dingin membasahi pipi. Saatnya, ku temukan jawaban untuk pertanyaanku selama ini. Pertanyaan yang memang harus ku cari tahu jawabannya.

Riuh tepuk penonton mengakhiri jumpa itu, tak ada satupun orang yang menghampiriku. Tubuh bersandar lengah di dinding tak ada tenaga untuk menghampirinya. Menghampiri dia yang hebat. Tetesan air mata telah membasahi pipiku. Telanan ludah kulakukan sesekali aku melihat juara itu. Ya, juara itu yang tak akan pernah kujumpainya.

“Ibu, kenapa aku tak dapatkan piala itu?”, suara tangisan kecil dengan rintihan yang mengharukan terdengar dari belakang. 

Tak tahan rasanya kepalaku untuk menoleh ke arahnya. Aku pun teringat. Teringat ceritamu. Ceritamu perisaiku. Untuk yang kesekian kalinya aku mengucapkan kata itu. Lihatlah ke bawah dan aku akan menyadarinya. Aku tersadar dan tak ada tangisan lagi yang terlihat di wajahku. Ku usap bersih air mata itu dengan sapu tanganku. Sekarang lautan telah menjadi daratan kering. Hatiku telah baku. Aku akan tetap bersyukur dengan apa yang telah ku lakukan sekarang.

“Wahai wajah kecil, bangunlah?”, suara keras dan besar mendekatiku.
“Aku?”, tanyaku padanya.
“Ya kamu gadis manis, berdirilah!”, tegasnya sekali lagi untukku.

Ku intip perlahan-lahan wajahnya. Kusadari dirinya. Seakan ku pernah mengenalnya. Tak ada sekali pun ingatanku untuknya. Tak ada sekalipun ku kedipkan mataku. Ku amati dengan penuh seksama. 

Ya, kini aku mengenalinya. Dia yang hebat. Dia yang terkenal. Oh, apakah ini mimpi. Seakan ku tak sanggup untuk menatap matanya. Dia adalah orang hebat dengan karya tulisnya yang terkenal yang telah menginspirasiku selama ini. Dia apakah dia, aku terheran melihatnya.

“Hei mengapa kau menatapku seperti itu?”, herannya dia untuku.
“Apakah kau yang selama ini menginspirasiku?”, tak ada kata lagi yang kuucapkan selain itu.
“Memang siapa penginspirasimu?”, tanyanya sambil tersenyum manis untukku.
“Kau penulis yang selama ini kukagumikah?”, ulangku sekali lagi.
“Mungkin, ayo berdirilah sejenak!”, tegasnya sambil mengangkat tanganku.

Tak ada yang bisa kuperlihatkan untuknya. Tak ada pula hasilku untuk ku perlihatkan padanya. Aku tak mungkin bisa sepertinya. Kuucapkan segala kekuranganku padanya. Aku sangat mengaguiminya.

“Kau hebat nak, kau penulis masa depan.” , tegasnya untukku.
“Apa yang hebat dari diriku? Aku tak juara, aku tak dapat sorakan penonton, dan aku tak memegang piala itu. Apa yang bisa aku lakukan?”, tanyaku sambil tersendu gelisah.
“Siapa yang mengira aku bisa seperti ini. Siapa pula yang mengira aku bisa sehebat yang kau bayangkan. Tak ada lagi yang mengira jika bukan diriku sendiri. Kau hebat nak, kau beranikan dirimu untuk pentas di depan umum, dengan penuh kepercayaan menggunakan bahasamu yang memang sulit kita pahami. Aku tak tahu apa isi puisi yang kau bacakan sangat pendek itu. Tapi aku yakin, bahwa itu merupakan puisi terbagus yang kau buat untuk pentas ini bukan?”, jelasnya panjang lebar padaku.
“Ya, memang ku membuatnya sesuai dengan isi hatiku pada waktu itu. Aku menceritakan perisaiku yang telah hilang entah kemana. Itu suara hatiku. Itu ungkapan rasa kasih sayangku untuknya. Mungkin itu sulit kau pahami, karena kau terlalu tinggi untuk memahaminya. Itu hanyalah kumpulan kata-kata yang biasa dia ucapkan untuk memotivasiku pada pentas ini. Dia sangat mengertiku, dia beri kepercayaan padaku. Entah apa yang membuat kita terpisah. Tapi aku yakin, dia pasti mendengarkanku pada saat aku membacakan puisi tadi. Bahkan,  ada satu kalimat yang tak bisa ku ungkapkan pada puisi itu. Karena kalimat itu yang selama ini menginspirasiku. Itu adalah kalimat dimana dia memberiku motivasi dengan penuh kepercayaan untuk menemuimu, dia menitipkan salam padamu lewatku” ,  jawabku dengan tatapan tajam padanya.
“Percayalah, aku telah bertemu dengannya. Kau beruntung mempunyai perisai sepertinya. Perisaimu kini aku, bukan dia. Sekarang dia telah menitipkan kau padaku” , jawabnya sambil tersenyum manis.
“Dari mana kau tahu bahwa dia menitipkanku padamu. Aku tak punya siapa-siapa selain dia. Bahkan aku tak tahu orangtuaku ada dimana. Ingatlah dia dan aku yang mengagumimu”, heranku padanya.

***

Memang semua keadaan tak bisa kita duga. Dengan penuh percaya diri aku ungkapkan semua isi hatiku padanya. Kuanggap dia seperti Lulu. Tak tahu apakah firasat ini benar. Namun, ku yakini Lulu tahu apa yang terbaik untukku.

Kini saatnya ku pastikan bahwa selalu ada jalan bagi orang yang mau berusaha. Itu katamu yang terakhir untukku Lulu. Ku ingat itu sampai aku akan bertemu lagi dengan Lulu yang selanjutnya. Terimakasihku untukmu tak akan pernah bisa dijual untuk menggantikan satu karung berlian yang bersinar terang di bawah laut. Kau pastikan keberhasilan untukku. Kau percayakan bahwa aku bisa. Itulah yang kini menjadi tanggung jawabku Lulu.

Seolah tak sadar dengan apa yang tengah aku raih. Dia mempercayaiku untuk menampilkan puisinya yang sudah dia rancang. Dia Lulu yang kau titipkan untukku. Bagiku tak ada Lulu pengganti selain kau yang selalu menungguku di dekat kolam. Namun, mungkin itu kau yang selama ini selalu ada untukku. Dia yang hebat, kini menjadi orang tuaku. Terimakasih Lulu.
Copyright © Cerpen Menarik dan Populer. All rights reserved. Template by Amanbet