Tampilkan postingan dengan label Cerpen Perjuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Perjuangan. Tampilkan semua postingan

HARAPAN ITU MASIH ADA

HARAPAN ITU MASIH ADA

Karya Murni Oktarina

Cerpen Perjuangan -  “Ibu, Nayla ingin berjualan pempek di tempat lain saja. Supaya kita mendapatkan uang lebih banyak,” kataku membujuk ibuku yang sedang menuangkan air ke dalam baskom berisi ikan yang telah digiling halus.

“Nayla di rumah saja! Masak, membereskan rumah, mencuci. Biarkan Ibu saja yang mencari uang.” Balasnya lembut sembari menatap wajahku. Ibu tersenyum dan mulai meratakan ikan dengan air lalu memasukkan sagu sedikit demi sedikit ke dalam baskom.

Aku tersenyum dan beranjak untuk mendidihkan air guna merebus pempek yang dibuat oleh mak. “Nayla ingin menjual pempek di Unsri, Bu. Kata Laysa, di kampus Unsri belum banyak yang menjual pempek.” kataku lagi sembari kembali duduk di hadapan ibuku yang terlihat sibuk membentuk adonan pempek.

“Apa Nayla tidak malu dilihat teman-teman kalau Nayla berjualan pempek di Unsri?” tanya Ibu serius padaku.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Ibu pun ikut tersenyum. Wajahnya tampak letih dan sudah ada kerut-kerut yang seharusnya belum muncul di usianya yang masih 40 tahun. Mungkin beban hidup yang berat membuat Ibu terlihat lebih tua dari usianya. Sejak Bapak meninggal dua tahun yang lalu, Ibu sendirian bersusah payah mencari uang untuk membiayai hidup kami. Awalnya Ibu berjualan sayur di Pasar 16 Ilir, namun sejak satu bulan yang lalu Ibu memutuskan untuk berjualan pempek saja di area Benteng Kuto Besak (BKB) karena tak sanggup lagi membayar uang sewa tempat.

Kehidupan kami sangatlah sederhana, namun aku masih bersyukur karena sempat menuntaskan pendidikanku di bangku SMA. Sebenarnya aku sangat ingin menyambung pendidikanku di bangku kuliah. Sejak kelas dua SMA, Universitas Sriwijaya (Unsri) Inderalaya adalah kampus impianku. Setelah Bapak meninggalkan kami saat kenaikanku di kelas dua, impian untuk kuliah hanya menjadi kenangan semata. Walau kata guru di SMA-ku, aku pasti bisa menembus satu kursi di Unsri dan ada beasiswa bagi yang berprestasi, aku tetap saja meninggalkan impian itu karena memikirkan ongkos ke kampus dan keperluan lainnya. Aku tak ingin menambah beban Ibu.

Dua jam kemudian, ibuku sudah siap dengan bakul pempeknya dan perlengkapan lain. Ia terlihat letih tapi wajahnya menggambarkan kekokohan dan semangat yang tak pernah padam.

“Nayla, Ibu pergi berjualan dulu. Doakan hari ini pempek kita laku banyak ya!” pinta Ibu sambil menyunggingkan senyum.

“Hati-hati di jalan, Bu! Nayla pasti mendoakan,” kataku ceria seraya mencium tangan Ibuku tersayang.

“Assalamualaikum,” pamit Ibu. Lalu langkah kakinya keluar meninggalkan rumah kami yang sederhana.

“Waalaikumsalam,” balasku yang kemudian mengunci pintu lalu mulai membereskan rumah dan masak dengan bahan seadanya.

Sudah pukul 10.00, pekerjaan rumah sudah rampung. Segera kuambil air wudhu untuk menunaikan shalat Dhuha. Ah, seharusnya tadi aku shalat saja dulu baru kemudian menyelesaikan pekerjaanku, biar tidak sesiang ini baru menunaikan Dhuha. “Maafkan kekhilafanku, ya Allah.” kataku dalam hati memohon ampun.

***

Kulirik jam usang yang menempel di  dinding kayu rumahku. Sudah pukul 14.00 dan biasanya setengah jam lagi Ibu akan pulang. Aku menyiapkan makan siang untuknya. Kasihan sekali dengan ibuku, setiap hari makan siangnya di atas jam dua apalagi dia harus berjalan kaki melintasi Jembatan Ampera untuk sampai ke BKB, tempatnya berjualan. Sambil menunggu Ibu pulang, kunyalakan televisi, satu-satunya barang berharga di rumah kami.

Dari arah jendela, kulihat Laysa yang baru pulang kuliah. Segera kuberanjak dari dudukku dan mengenakan jilbab, kemudian keluar rumah untuk menyapa sahabat sekaligus tetangga terbaikku itu.

“Laysa…!” panggilku cukup kuat karena Laysa sudah lewat dari rumahku.

Laysa menoleh ke belakang dan tersenyum melihatku. Ia membalikkan langkahnya menghampiriku. “Kenapa, Nay? Kangen sama aku ya? Haha…!” kata Laysa bercanda lalu ia tertawa.

“Hahaha, tidak tuh! Setiap hari bertemu sama kamu kok. Kenapa harus kangen,” jawabku yang ikut tertawa. Aku mengajak Laysa untuk mampir ke rumah sebentar.

“Enak sekali jika setiap hari mendapat pempek gratis nih!” ujar Laysa sambil mengunyah pempek dengan semangat.

Aku hanya tertawa. “Jadi bagaimana, Sa? Kira-kira bisa tidak aku berjualan pempek di tempat kuliah kamu?” tanyaku serius sambil memandangi Laysa yang kepedasan oleh cuka pempek.

“Ssshhh…. Tenang saja! Itu aku yang urus semua,” Laysa menjawab pertanyaanku lalu tergesa-gesa meneguk air di dalam gelas hingga tak tersisa.

“Ah, Laysa. Aku sangat berterima kasih! Kamu memang sahabatku yang paling baik.” kataku bahagia.

“Sama-sama, Nayla. Biasa saja, ah!13” ujar Laysa sambil mengerlingkan mata indahnya.

Beberapa menit berlalu dan Laysa minta izin untuk pulang. Baru saja kami keluar, ibuku sudah pulang dan tersenyum pada kami. Aku mencium tangan Ibu kemudian disusul oleh Laysa yang juga mencium tangan Ibu.

“Laysa pulang dulu, Bu!” pamit Laysa pada Ibu. Ibu mengangguk kemudian masuk ke dalam rumah.

“Besok langsung saja bawa pempeknya. Bareng aku ke Unsri, jam 07.00 tepat, jangan telat!” pesan Laysa padaku. Aku mengangguk lalu melambaikan tangan pada Laysa yang berlalu pulang.

Aku masuk ke dalam menemui Ibu yang sedang makan. Wajahnya terlihat  dirundung kesedihan. Namun saat ia melihatku, wajah itu dipasang seriang mungkin dan mengembangkan senyuman. Aku membalas senyum Ibu dan masuk ke kamar, merapikan jilbabku. Sekalian mempersiapkan diri ke rumah Mang Teguh. Setiap pukul 15.00, aku dan Ibu bekerja mengupas bawang di rumah Mang Teguh untuk menambah penghasilan kami.

Aku terpaku di sisi jendela kamarku, memperhatikan keramaian daerah sekitar. Rumahku berada di Seberang Ulu, tepatnya di daerah 10 Ulu. Cukup dekat dengan Jembatan Ampera dan Sungai Musi, kebanggaan kotaku, Kota Palembang. Airmata jatuh perlahan membasahi pipiku. Ketika aku dilahirkan hingga berusia 18 tahun sekarang, kami sudah berkali-kali pindah rumah kontrakan. Hidup pas-pas’an dan aku sama sekali belum pernah merasakan masa remaja seperti remaja seusiaku lainnya yang bisa jalan-jalan, pergi nonton di bioskop, atau apapun itu. Bukan aku tidak bahagia dan tidak bersyukur atas nikmat hidupku, tapi aku hanya mengingat perbedaanku dengan mereka. Mereka yang hidupnya lebih beruntung dariku.

***

Ada rasa bahagia terselip di hatiku, menyaksikan kehijauan kampus Unsri Inderalaya. Angin sejuk berembus dan memainkan ujung jilbab putihku. Gedung-gedung kokoh yang indah dan nyaman, bus-bus mahasiswa yang terparkir rapi di terminal kampus, mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang dengan kesibukan masing-masing dan semuanya, semuanya menarik perhatianku. Inilah kampus impianku. Lebih tepatnya impianku dahulu. Sekarang? Tidak. Ah, sepertinya masih. Hanya saja aku berusaha untuk melupakannya.

Ternyata Laysa menyuruhku berjualan di area Fakultas Ekonomi, fakultas tempatnya kuliah. Laysa beruntung sekali memiliki kesempatan belajar di sini. Aku teringat saat kami berdua tertawa bahagia sehabis membaca koran di halaman Masjid Agung. Namaku dan Laysa tertera di pengumuman, kami sama-sama lulus di jurusan Akuntansi. Ya, aku memang sempat ikut tes SNMPTN (Seleksi Nasonal Masuk Perguruan Tinggi Negeri) untuk menyenangkan hatiku. Tapi semua mesti dilupakan karena kulihat wajah Ibu bersedih saat kukabarkan kelulusanku tersebut.

“Nayla, kamu jualan di sini? Jualan apa?” tanya Daira, teman satu SMA-ku. Ia membuka penutup bakul yang berisi pempek. Keningnya tiba-tiba berkerut, lalu menatapku tajam, tatapan merendahkan.

“Oh, pempek buatan ibu kamu pastinya, bukan?” tebak laki-laki tampan dan kaya itu dengan benar.

Aku hanya mengangguk dan berusaha untuk tersenyum. “Mau, Daira?” tanyaku basa-basi, aku tahu ia tak akan membelinya.

“Tidak, ah! Aku takut tidak steril. Oh, ya, jangan berjualan di sini! Nanti kampus kita jadi bau ikan busuk dari pempek itu,” hina Daira memandang sinis padaku dan menunjuk ke arah tumpukan pempek, jualananku.

“Sirik aja jadi orang! Tidak ada yang melarang Nayla jualan di sini, aku sudah minta izin pihak fakultas kita, kok!” tiba-tiba Laysa datang membelaku. Aku menarik napas lega karena Daira langsung pergi begitu saja.

Laysa menepuk bahuku, menenangkanku. Dia tersenyum dan duduk menemaniku berjualan.

Tepat pukul 15.00, aku sudah sampai di rumah. Kulihat ibuku sedang tertidur pulas di lantai menghadap televisi yang masih menyala. Aku mengecup kening ibuku tersayang lalu masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian. Hari pertama berjualan di Unsri sudah cukup lumayan. Aku sangat bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah kepada kami, walau sempat kesal di kampus tadi karena Daira sangat menghinaku. Sejak SMA, ia memang tak menyukaiku. Ada-ada saja hal yang diperbuatnya untuk menghinaku habis-habisan. Namun, Laysa selalu membelaku. Daira akan segera diam jika ada Laysa, karena laki-laki sombong itu menyukai Laysa.

Kulihat Ibu sudah bangun dari tidurnya. Ia tersenyum melihatku dan bertanya, “Bagaimana, Sayang? Laku pempeknya di Unsri?”

“Alhamdulillah, Bu. Pempek kita masih bersisa sedikit,” jawabku sumringah sambil menyerahkan lembaran uang padanya.

Ibu tersenyum bahagia menerima uang dariku. “Ayo kita berangkat sekarang saja ke rumah Mang Teguh!” ajak  ibuku sambil membenarkan letak kerudungnya.

***

Sudah dua minggu ini Ibu sakit. Sering terdengar ia batuk-batuk walau berusaha untuk dinahannya agar tak terdengar olehku. Tubuhnya pun semakin kurus dari hari ke hari. Sudah sering aku menyuruh Ibu untuk ke puskesmas dan istirahat dulu dari berjualan pempek., namun Ibu selalu menolaknya dengan alasan hanya demam biasa yang sebentar lagi akan sembuh. Aku sangat mengkhawatirkan ibuku dan takut terjadi apa-apa karena dua minggu ini belum sembuh-sembuh juga.

Dan hari ini, Ibu sama sekali tak bisa duduk apalagi berdiri. Ia hanya tergolek di atas kasur tipis. Aku menjaganya dan memutuskan untuk tidak berjualan dan mengupas bawang dulu hari ini. Setelah menyuapi ibuku makan, aku memberikan obat yang kubeli di warung pada Ibu. Ibu meneguk obat itu perlahan dan memejamkan mata sesaat seperti menahan sakit.

“Nayla, anak Ibu yang Ibu sayangi! Bisa bukan membuat pempek sendiri besok-besoknya? Uhuuuk…. Tetaplah berjualan pempek kalau belum mendapatkan pekerjaan. Ibu selalu mendoakan Nayla agar bisa menjadi orang sukses, bisa kuliah seperti cita-cita Nayla dulu. Mungkin Ibu tidak bisa lama-lama bersama Nayla. Jika nanti Ibu telah tiada, Nayla tinggal saja bersama Tante Sari yang di Kertapati itu. Dia pasti bersedia mengajak Nayla tinggal di rumahnya,” kata Ibu dengan lirih sambil terbatuk-batuk.

Hatiku berdesir dan cemas mendengar perkataan ibuku. Aku merasakan ada hal buruk yang akan terjadi. Ingin rasanya aku menangis namun tetap kutahan agar mak tidak melihatku bersedih. “Ibu pasti sembuh. Ibu bisa lama-lama bersama Nayla kok,” ujarku berusaha riang. Aku ingin tersenyum pada Ibu, tapi malah airmata yang bercucuran. Ibuku merentangkan tangannya dan kami berpelukan.

“Ya, Allah. Semoga ini bukan hal buruk tentang ibuku. Aku memohon padamu, sembuhkanlaH ibuku. Aku sangat menyayanginya. Hanya dia yang kumiliki sekarang, ya Allah. Berikanlah yang terbaik buat dia, aamiin…,” doaku setelah selesai menunaikan shalat ashar.

Aku melepas mukena dan masuk ke dalam kamar untuk melihat ibuku Walau sakit, biasanya Ibu tetap ingin menjalankan shalat dalam posisi berbaringnya, jadi kubawakan air bersih dan mukena untuknya.

“Ibu, Nayla sudah shalat ashar. Ibu juga mau shalat, kan?” tanyaku lembut pada Ibuku yang hanya terdiam kaku dan matanya telah terpejam dalam damai.

***

Satu tahun kemudian.

Aku berdiri di pinggiran Sungai Musi yang berada tepat di depan BKB. Kupandangi aliran air yang cukup deras dan ombak yang bermain naik turun karena baru saja dilewati ketek-ketek (perahu bermesin khas Palembang). Sesekali aku mengamati  ibu-ibu yang menjual makanan dan minuman yang duduk di bebatuan menunggu pembeli. Pikiranku melayang mengenang ibuku yang sudah satu tahun meninggalkanku, menghadap Sang Ilahi. Aku mengikhlaskannya karena tak ada gunanya bila disesali. Semua adalah takdir yang telah ditentukan Allah. Aku pun yakin, jika sekarang Ibu telah bertemu Bapak dan berbahagia di surga-Nya.

“Nayla, kita pulang yuk! Besok ada ujian di kampus, kan? Pulang ini kamu langsung belajar saja, Sayang.” ujar Tante Sari sambil merangkul bahuku. Kini ia menggantikan ibuku untuk menjagaku. Tante Sari dan suaminya sudah menganggapku sebagai anak mereka dan membiayai hidupku, termasuk kuliahku di Unsri.

Aku mengangguk lemah sambil menghapus bulir bening yang keluar dari pelupuk mataku. “Ibu…. Nayla berjanji, nanti Nayla akan menjadi orang sukses supaya Ibu dan Bapak bisa bangga punya anak seperti Nayla. Semoga Ibu dan Bapak bahagia di sana. Suatu saat nanti, kito bertiga pasti bisa berkumpul lagi. Oh iya, sekarang Nayla sudah bisa kuliah di Unsri sambil berjualan pempek, Bu. Nayla kangen sama Ibu juga sama Bapak!” teriakku cukup keras ke arah Sungai Musi di hadapanku. Riaknya kini kembali tenang setelah ketek-ketek sudah menjauh. Setenang hatiku sekarang.

Tante Sari menuntunku sambil menghapus airmataku. Kami menuju ke area parkir. Om Usman, suami Tante Sari sudah berada di parkiran, menjemput kami dengan mobilnya.

“Ya, Allah. Ya, Tuhanku. Aku sangat bersyukur atas semua karunia dan nikmat yang masih Engkau berikan untukku. Engkau telah memberikan dua orang yang amat baik, sebagai pengganti kedua orangtuaku yang telah tiada. Engkau telah memberikan kehidupan yang layak untukku. Engkau juga telah mengabulkan impianku untuk menuntut ilmu di Unsri. Semuanya telah Engkau berikan padaku, semua kenikmatan-Mu. Semoga dengan semua ini akan membuat diriku semakin beriman dan bertakwa kepada-Mu, ya Allah. Semoga kelak Engkau izinkan diri ini untuk bertemu kembali dengan Mak dan Bapakku, aamiin Ya Rabb….”

SANG AKASIA PENGABDI RINDU SUNGKAWA

SANG AKASIA PENGABDI RINDU SUNGKAWA

Karya Ledy Triananda

Cerpen Perjuangan - Hari ini tak seperti biasanya. Tak segan-segan kupandang dengan tatapan canggung pada langit dunia. Awan tebal itu berarak menyelimuti sang mega lazuardi. Senja ini, tak ada lagi kicauan burung yang biasa temani sang surya terbenam pada ufuknya. Entah kemana perginya mereka. Bersembunyi karena mistisnya suasanya, atau pergi berkelana mencari tempat yang layak baginya. 

Suara denting waktu itu masih terngiang miris di telingaku. Teringat pada suatu kejadian yang tak mampu kujabarkan terlalu dalam. Luka pedih itu kian lama kian menyayat benak ini saat mengingat keberadaan Bapak dan Ibu yang tak lagi di sisiku. Aku masih tak percaya, mengapa Bapak dan Ibu begitu cepat meninggalkanku. Satu tahun yang lalu, Bapak dan Ibu meninggal karena tertimpa pohon Akasia yang sengaja di tebang oleh orang-orang yang tak beradab. Dan kini, aku hidup seorang diri. Hidup dalam kesederhanaan. Tak ada yang menemaniku. Aku hanyalah gadis yang tinggal di sebuah desa penuh dengan arti kenangan yang tak pernah rapuh. 

Inilah sosokku. Seorang gadis cilik yang tak mengerti makna kehidupan sebenarnya. Aku hanya dapat menghabiskan waktu luangku untuk duduk di atas pohon Akasia. Di sinilah, aku merenung segalanya. Merenungkan impianku. Membangun sebuah mimpi, dan merenung segala hal yang akan membawaku pergi menuju ambang batas tujuanku. Sekarang, aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ini adalah tahun pertama aku bersekolah di sana. Setelah kejadian yang menimpa Bapak dan Ibu, Bibi yang selalu mengurusku, membiayayai urusan sekolahku, dan keseharianku. Tetapi, kami tidak tinggal satu rumah. Bibi harus tinggal bersama keluarganya di desa seberang. 

Senja ini, aku masih terduduk di antara jajaran pohon Akasia menjulang. Melihat mentari yang akan kelam digua bibir misteri, melihat hamparan sejuk rerumputan yang menabur benih suka dalam sukma, dan menatap tatapan tajam pada sinar surya yang telah berubah menjadi jingga. Begitu memukau untuk menujukkan beribu rasa takjubku pada ciptaan Tuhan yang elok ini. 

“Hei, Pertiwi!” teriak seseorang dari bawah pohon. Aku masih tak sadar dengan teriakkan itu, “Hallooooooo!!!” teriaknya semakin keras. Aku terkejut. Segera aku melihat kebawah. Ku lihat, ketiga sahabatku sedang berdiri menatapku. Ya, merekalah sahabat terbaikku. Agus, Erna, dan Garuda. Tak ada satu kata yang terucap dari bibirku. Aku masih terdiam. Diam seribu kata.

“Bolehkah kami naik ke atas?” Tanya Erna. 

“Silahkan!” Jawabku seadanya. Mereka satu per satu segera memanjat, naik ke atas pohon. Selang beberapa menit, Garuda, Agus dan Erna sudah terduduk di ranting pohon Akasia.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Agus memulai pembicaraan.

“Apa yang biasa kau lakukan di atas pohon saat senja telah tiba seperti ini, makan ketela? Lagi pula kau sudah mengerti kebiasaanku duduk di atas pohon ini bukan?” Jawabku dingin tak menghiraukan senyumannya.

“Hahaha…” Agus tertawa, “Aku bercanda, Wi.” Kata Agus menepuk pundakku. Aku tersenyum kepada mereka bertiga yang menertawakanku.

“Oh iya, Wi. Kami sudah lama tidak mengunjungi makam orangtuamu bersama-sama bukan?” Tiba-tiba saja Erna membuatku berpaling menatap kedua matanya dalam-dalam. Pikiranku mulai melayang pada kejadian satu tahun yang lalu. Lagi-lagi, ingatan tragis itu memenuhi benak dan pikiranku. Sejenak, aku menahan air mata yang mulai terbendung di mataku. 

“Maaf jika aku mengingatkanmu pada masa lalu yang sebenarnya tak ingin kau ingat kembali, aku tak bermaksud membuatmu sedih seperti ini. Kami hanya ingin mengunjungi-” Erna tidak melanjutkan apa yang ingin ia biacarakan, ia malah menundukkan kepalanya. 

“Bagaimana kau bisa tahu?” Tanyaku pada Garuda. Dahiku mengernyit.

“Kepalamu begitu transparan, sehingga dengan mudah aku dapat menebaknya!” Timpal Garuda. Cibiran di mulutnya membuatku semakin tertawa terbahak-bahak dengan apa yang ia katakan. Air mataku tiba-tiba saja hilang, terganti dengan tawa yang sedang kurasakan.  

“Ada-ada saja kau ini.” Aku memukul lengan Garuda, “Terimakasih, teman-teman! Tetapi jujur saja, aku tidak ingin merepotkan kalian semua.” Lanjutku.

“Kami tidak merasa keberatan sama sekali, Wi. Kau harus bersabar. Meskipun kami tak pernah merasakan hal yang kini kamu rasakan. Tetapi, kami akan selalu ada untukmu.” Ujar Agus. Aku mengangguk mantap. 

“Iya! Tidak ada salahnya kan kami ikut mendoakan kedua orangtuamu? Wi, ini semua takdir Tuhan. Ingatlah pula, rencana Tuhan itu jauh lebih indah dari pada yang kita bayangkan.” Erna membeberkan senyum yang indah. Sesaat, aku tak bisa berkata apa-apa. Semua kata-kata yang Agus dan Erna ucapkan seolah mampu menyihir kepribadianku, untuk belajar bersyukur dengan keadaan yang kini kualami.

“Hari semakin gelap, bagaimana kalau kita pulang saja.” Kataku mulai turun dari pohon, menapaki anak tangga perlahan-lahan. Garuda, Agus, dan Erna mengangguk dan segera turun mengikutiku. Kami berempat telah turun dari pohon, “Kalian mau mampir sejenak di rumahku mungkin?” Aku mulai berjalan mendahului Garuda, Agus, dan Erna.

“Tidaklah, terima kasih. Nenek telah menungguku di-” perkataan Garuda terpotong saat Agus berhenti berjalan.

“Besok kita berangkat ke pemakaman, pukul sembilan pagi ya! Aku tunggu kalian di tempat biasa. Di pohon Akasia!” Kata Agus sembari menunjuk pohon Akasia yang baru saja kami duduki. Ia bergegas pulang meninggalkanku, Erna, dan Garuda, “Oh iya, dan jangan lupa! Pamitlah kepada orangtua kalian masing-masing!” Lanjutnya sebelum pergi meninggalkan kami yang masih diam terpaku. 

***

Pagi harinya, aku telah selesai bersiap-siap diri. Jam dinding menujukkan pukul delapan pagi. Aku tidak sabar untuk pergi ke pemakaman Bapak dan Ibu. Aku putuskan untuk menunggu Garuda, Erna, dan Agus lebih cepat di tempat semula kami putuskan bersama. Aku menaiki pohon Akasia. Duduk termenung, menunggu kedatangan ketiga sahabatku. 

Satu jam berlalu dengan cepat, aku yakin kini jarum jam telah menunjukkan pukul sembilan pagi, dan sampai saat ini pula, mereka belum juga datang menemuiku.

‘Apa mereka lupa jika harus menemuiku di sini pukul sembilan?’ batinku. Aku tak yakin, ‘Tapi, kemarin Agus sendiri yang bilang harus berkumpul di sini pukul sembilan pagi.’ Aku mulai resah, memikirkan keterlambatan ketiga sahabatku. Aku khawatir rencana yang kami buat tidak berjalan dengan lancar.

“Apa aku menjemput mereka saja? Tapi rumah mereka lumayan jauh dari sini.” Perasaanku mulai bimbang, antara turun dari pohon untuk menjemput Garuda, Erna, dan Agus atau menunggu hingga mereka bertiga datang. Tanpa berpikir lama, kuputuskan untuk menunggu kedatangan mereka.

“Pertiwi, turunlah! Orang-orang itu kembali lagi untuk menebang pohon-pohon ini!” teriak Asri, temanku, dari bawah pohon. 

“Benarkah? Di mana mereka berada?” Aku menongah ke bawah pohon. Perkataan Asri membuatku masih bertanya-tanya.

“Iya! Sekarang mereka masih ada di gapura desa! Kita harus mencegahnya. Erna, Garuda, dan Agus sedang mencegah mereka agar tidak masuk desa!” Jelas Asri. Aku spontan terkejut dengan apa yang baru saja Asri katakan. Ternyata Erna, Agus, dan Garuda sedang mencegah orang-orang itu. Orang-orang itu kembali lagi untuk menghancurkan desa ini. Pohon-pohon ini akan ditebang.

“Baiklah, kita harus turun menghentikan mereka.” Jawabku tegas. Aku segera turun dari pohon.

Bruk… “Aduuuuuh! Pinggangku!” teriakku tak karuan. Aku terjatuh dari pohon. Asri tertawa geli melihat insiden ini. 

“Ceroboh sekali kau ini, Wi. Yasudahlah, abaikan dulu rasa sakit di pinggangmu itu. Mari kita cegah mereka!” Asri segera menarik tanganku. Kami berlari menuju gapura desa. Aku dan Asri berlari sekencang mungkin menghentikan mereka yang berusaha memasuki desa untuk menebang pohon-pohon kehidupan kami. Beberapa menit kemudian, aku dan Asri tiba di gapura desa, kudapati teman-temanku sedang menghadang mereka agar tidak masuk kedalam desa. 

“Hei, kalian! Pergi dari desa kami!” teriakku dari kejauhan, orang-orang itu terdiam menatapku. Aku berjalan mendekati mereka yang sedang menyandra sahabat-sahabatku. Tiba-tiba saja mereka tertawa saat aku datang mendekati mereka.

“Tahu apa kau ini! Tak mengerti urusan uang saja, ikut campur. Menyingkirlah kalian, atau kami yang akan menyingkirkan kalian dengan cara kekerasan!” Ancam salah satu lelaki dari mereka. Badannya begitu kekar dan gagah, jika kami melawan secara fisik, pasti kami akan mati sia-sia, “Hei, bocah cilik, tak usah menjadi pahlawanlah! Ke mana perginya sandalmu yang satu? Hahaha…” Lanjutnya mencemoohku. Mereka semua tertawa terbahak-bahak. Aku pun baru saja menyadari bahwa aku hanya memakai sepasang sandal di kaki kananku, dan di kaki kiriku hanyalah sebuah kaki polos tanpa alas. 

“Wi…” Panggil Garuda lirih dengan tatapan yang sontak membuatku merasa malu.

“Terserah kalian ingin mencemoohku seperti apa! Kami tidak akan rela kalian menebang pohon-pohon yang ada di desa kami. Kami tidak akan mengizinkan kalian menebang pohon-pohon kami untuk kedua kalinya. Tidak akan! Kalian ini bisanya hanya menggunakan cara licik! Datang saat Kepala Desa kami sedang pergi ke kota.” Elakku tanpa ada rasa takut dari dalam diri terhadap orang-orang tersebut. Sesungguhnya, mereka-mereka itu adalah manusia yang hidupnya hanya bergantung pada besarnya jumlah uang yang akan mereka terima selama nyawa masih dikandung badan, tak pernah memikirkan dampak buruk lingkungan apabila pohon-pohon itu ditebang. 

“Hahaha…” Mereka dengan serentak menertawakanku, Asri, Erna, Garuda, dan Agus, “Hei, bocah! Kau ini tak tahu apa-apa. Jadi diam dan tutup mulut kalian! Pulanglah kerumah kalian masing-masing, jangan membuat kami pusing sendiri memikirkan kau-kau ini!” Tampaknya mereka sudah habis kesabaran menghadapi kami berlima, mereka semakin geram terhadap kami. Salah satu dari mereka, segera menghidupkan mesin truk, dan menjalankan truk masuk ke desa untuk mulai menebang pohon-pohon Akasia berjajar indah pada wajarnya. Kami berlima resah memikirkan bagaimana caranya kami mencegah orang-orang itu agar tidak menebang pohon-pohon Akasia tumbuh. 

“Hei, Bung! Ayo kita kejar mereka, kita tak boleh menyerah. Lingkungan lebih penting dari pada di sakiti oleh orang-orang celaka itu! Kita lindungi pohon-pohon itu! Cintailah lingkunganmu!!!” teriakku.

“Hingga titik darah penghabisan!” Gertak Garuda semakin membara. Ia berlari lebih dulu dari pada kami. Aku, Asri, Erna, dan Agus segera mengikuti Garuda yang sudah ada di depan kami.  Kami mengejar truk itu. Rasa amarah kami mulai meletup-letup.

“Tunggu sebentar!” Kata Asri terhenti, ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya, “Pertiwi! Mengapa kau masih mau memakai satu sandal di kaki kananmu? Lepaslah! Lebih baik tidak memakai alas kaki, daripada warga mengira kau sudah gila.” Ujar Asri mengingatkanku.

“Hehehe…” Aku tersenyum malu. Pipiku berubah menjadi merah merona. Aku segera melepaskan sandal yang mengapit ibu jari dan jari telunjuk kakiku. Ku arahkan sandal itu tepat pada mukaku. Kuputar-putar sandal itu lalu kubuang jauh-jauh sandal itu dari pandanganku. Entah ke mana dan di mana sandal itu akan jatuh. Entah akan mengenai para petani yang sedang panen di sawah atau tidak. Entahlah. Aku tak memikirkan itu. Kali ini, aku tak memikirkan lagi sakit pinggang dan akibat sandal sial yang membuatku malu sendiri dihadapan orang-orang itu dan para sahabatku, aku akan berusaha menghentikan mereka menebang pohon milik kami. Terpikir tiba-tiba tentang rencanaku bersama ketiga sahabatku pergi menuju pemakaman Bapak dan Ibu. Rasa risau itu mengiringi laju langkahku. 

‘Pak, Bu, Pertiwi akan berusaha menghentikan mereka! Pertiwi akan datang ke pemakaman Bapak dan Ibu dengan membawa kabar bahagia. Tuhan, akan selalu ada untuk Pertiwi. Pertiwi ingin Bapak dan Ibu melihat usaha Pertiwi di sini. Bapak dan Ibu masihlah menjadi jiwa inspirasi bagi Pertiwi untuk tetap melindungi lingkungan dan pohon-pohon di desa.’ Batinku. Aku berlari dengan senyum tulus yang melengkung di bibirku. Berusaha sekuat tenaga kuabaikan perasaan bimbang itu dan kembali mengejar truk yang mulai menjauh dari tatapanku. Aku berlari mengejar truk itu. Meskipun langkahku masih tak mampu menandingi kecepatan truk tersebut. 

Sesampainya di sana. Aku melihat mereka sudah mengeluarkan gergaji besar untuk menebang pohon-pohon itu dengan segera. 

“HENTIKAN!!!!!!!” Teriakku lebih keras. Mereka semua keluar dari singgasana mereka berada. Tetanggaku, menghentikan aktivitas yang mereka lakukan dan berkumpul mengerubungiku. Aku maju satu langkah dari titik di mana aku berdiri, “Memang, desa ini adalah desa terpencil yang mungkin memang bisa di abaikan oleh Negara. Tapi kami tidak bodoh! Kami tidak patut dikelabuhi oleh orang-orang yang tak punya hati, dan tak punya adab seperti kalian!” Timpalku lebih tajam. Orang-orang itu hanya memandangku remeh. 

“Tidak ada gunanya kau melarang kami untuk menghentikan penebangan ini. Kami akan tetap menebang pohon-pohon ini!” Mereka-mereka semakin membuatku marah. Aku berlari menuju pohon-pohon Akasia berjajar. 

“Jangan kalian tebang pohon-pohon ini! Mereka butuh hidup! Mereka butuh mempertahankan hidupnya di dunia ini. Mereka masih muda, mereka belum rapuh. Merekalah yang memberikan oksigen terhadap kami.” Aku berteriak mempertahankan pohon-pohon ini agar penebangan segera di hentikan. Sahabat-sahabatku hanya melihatku dengan pandangan putus asa, “Hei, Garuda, Erna, atau siapalah kalian yang berdiri di sana! Kalian mengapa masih saja diam? Tidakkah kalian peduli dengan pohon-pohon ini? Jawab!!!” Air mataku mulai berlinang, membasahi kedua pipiku, segera Erna, Garuda, Agus, dan Asri datang membantuku menghadang orang-orang itu untuk tidak menebang pohon kehidupan kami.

“Aaahhh! Minyingkirlah kau anak tidak tahu diri!” Mereka mendorongku dan sahabatku. Aku dan yang lainnya terpental jauh dari pohon-pohon tersebut, segera Erna, Garuda, Asri, dan Agus menjauh dari tempat mereka jatuh. Aku hanya dapat menangis dengan keadaan ini, aku tak ingin dan tak mampu beranjak dari tempat aku terpuruk. Mereka mulai menyalakan mesin dan menggergaji batang pohon Akasia yang cukup besar. Sahabat dan tentanggaku masih melihatku dengan perasaan iba yang terurai terlalu dalam. Aku masih saja menangis, tidak tega menjalani kenyataan ini. Satu pohon Akasia besar telah tertebang.

“Pertiwi! Awas!!!” Jerit Erna dari kejauhan, aku segera mengalihkan pandanganku pada batang pohon Akasia yang jatuh mengarah padaku. Aku tak dapat menghindarinya. Batang Akasia tersebut sangat cepat menjatuhi tubuhku. Aku tertimpa batang pohon Akasia. Entah bagaimana ini bisa terjadi. Aku tak tahu. Aku tak mengerti. Dalam raga ini tak lagi terpahat jiwa syahdu elok empati rindu. Kejadian tragis itu terulang kembali. Satu tahun silam, batang Akasia yang mereka tebang juga menimpa Bapak dan Ibu, sehingga mereka berdua meninggal. Pada waktu yang bersamaan. Tetangga dan sahabatku segera mendatangiku yang tak sadarkan diri. Aku tergeletak lemah tak berdaya. Suasana sunyi, telah terasa. Kini, mulutku yang dahulu mampu tersenyum, tertawa bahagia, dan berkata hal yang memukau, kini hanya terkatup rapat dan pucat. Kedua tanganku yang dahulu mampu meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhku yang kian tak ada dayanya ini. Seketika, situasi di sekitar sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan tiap detik yang begitu menyedihkan. Aku telah tiada. Orang-orang yang tak tahu diri itu, segera pergi meninggalkan desa tanpa membawa sebatang pohon Akasia. Sesaat, semua rencanaku berubah menjadi hal semu. Aku tak bisa pergi ke pemakaman Bapak dan Ibu dengan membawa kabar bahagia untuknya. Mataku memang terpejam. Tapi aku masih dapat melihatmu. Tuhan… Mungkin memang satu pejamlah, aku bisa melihatmu, melihat keindahan ini, melihat orang-orang sekitarku dapat tersenyum karenaku. 

Keesokan harinya, aku telah di makamkan didekat makam Bapak dan Ibu, kenangan manis itu akan selalu ada untukku di desa ini. Semua warga di desa lebih mencintai lingkungan mereka. Mereka telah menanam benih pohon Akasia dan pohon-pohon lainnya lebih banyak. Mereka juga membersihkan desa dari sampah berserakan yang menganggu. Aku tak lagi ada di sana, tetapi aku yang di sini, jauh lebih bahagia dengan segala hal yang kalian ubah menjadi lebih baik di sana. Kali ini, aku telah sampai di ujung perjalananku. Seperti hujan. Aku penasaran bagaimana nanti aku akan dikenang, kuserahkan semua pada kalian. Salamku, untuk Akasia yang temaniku saat senja tiba, wahai sang pengabdi rindu sungkawa, yang mampu mengurai segala cinta yang menjalar pada luka sirna. Aku di sini, akan merindukan tiap hembusan nafas yang mampu iringi hidupku di sana. Dunia.

Sepercik Cahaya Pembangkit Semangat

Sepercik Cahaya Pembangkit Semangat


Sepercik Cahaya Pembangkit Semangat - Bogor, 29 Mei 2007
Hari itu Adalah Hari Yang tak Mungkin Aku dan Keluargaku Lupakan, hari dimana Perusahaan Ayahku Bangkrut, semua Aset Perusahaan tergadaikan, Rumah, Villa, Mobil, Semua Habis dijual untuk Membayar Hutang Ayahku kepada Bank, Ibuku terus Menangis Merenungi Nasib Kami Kedepan, Aku coba Menenangkannya, tapi aku juga memikirkan Entah bagaimana caraku melanjut kan Pendidikan

Sekarang aku duduk di Bangku kelas 3 SMA, dan Sebentar Lagi Akan Kuliah, Semua teman Sebayaku Akan Melanjutkan Kuliah di Universitas ternama baik di Indonesia maupun Luar Negeri. Aku Hanya Bisa terdiam Ketika Temanku Riana Menanyakan Universitas tujuanku,
“Lin kamu mau kuliah di mana?” tanyanya
“gak tau belum kepikiran ri, aku gak mau ngebebani keluarga” jawabku
Temanku riana berkeinginan Melanjutkan Study di Salah satu Universitas terbaik di indonesia, Riana tahu keadaan Ekonomiku yang Sekarang, dia Menawarkanku untuk Meminjam Uang padanya, tapi aku Menolaknya, Alasannya Cukup sederhana Aku ingin Kuliah dengan Biaya dan kemampuanku sendiri.

Sebelum kuliah, Sehabis pulang sekolah Aku bekerja di sebuah Supermarket, Gajinya Lumayan Untuk Membantuh Ayah dan ibuku Supaya Mereka tidak terlalu terbebani dan jika ada sisanya Uang hasil kerjaku, kutabung, tak dapat kupungkiri Niatku Untuk kuliah Semakin Besar, aku Berkeinginan Menjadi Orang Sukses. Agar dapat meraih Cita-Cita kelak.

Hari Kelulusan SMA pun telah tiba, Hari itu Semua temanku datang dengan Mengendarai Mobil bersama Orangtuanya, Sedangkan aku bersama Orangtuaku pergi ke SMA hanya Menaiki kendaraan Umum walau begitu aku tidak iri sedikit pun, dengan mereka. Ketika hasil kelulusan dibacakan, Betapa terkejutnya aku ketika kepala Sekolah Mengatakan Bahwa Nilai tertinggi diraih Oleh siswa yang Bernama Elina Putri, Siswa kelas XII IPA, senang bukan kepalang ketika Aku dipersilakan naik ke atas Panggung dan Mendapatkan Penghargaan Atas Prestasi Yang kuraih, Selain itu Aku juga Berkesempatan meraih Beasiswa kuliah Di Belanda, sebuah negera indah di benua eropa, Sebelum menghadapi tes, aku Sudah mempersiapkannya dengan baik, Aku selalu Belajar mengenai Materi yang disampaikan guru dari kelas X sampai kelas XII, tak lupa Aku Berdoa dan Berserah diri kepada Allah Swt.

Hari tes seleksi Mahasiswa Baru Pun telah tiba Sebelum aku pergi untuk Melaksanakan tes, aku Meminta Doa restu dari kedua Orangtuaku.
Tes Berlangsung Cukup lama yakni kurang lebih 3 jam, Dengan Percaya diri dan Berdoa aku berhasil Menyelesaikan Soalnya tepat waktu, pengumuman bagi Siswa yang diterima akan dilakukan pada hari ke Tujuh setelah tes.

Hari silih berganti Waktu Pengumuman Pun telah tiba dengan percaya diri aku pergi ke tempat diadakannya Beasiswa Study ke Belanda tersebut, semua orang dari berbagai daerah Berdatangan untuk melihat pengumuman tersebut, nama-nama siswa yang lulus tes sudah ditempel, dengan berdesak-desakan aku melihat hasil pengumuman tersebut, betapa bahagianya aku, ketika aku melihat dari Ratusan Siswa yang ikut tes tersebut, hanya diambil 25 siswa Indonesia pilihan yang mendapat Beasiswa belajar di belanda dan namaku ada di Urutan ketiga sebagai siswa yang dinyatakan diterima di salah satu Universitas ternama di Negeri Bunga Tulip itu.
Ketika aku pulang ke rumah tangisku tak bisa lagi terbendung, aku menangis di pelukan ayah dan ibuku, sembari bersyukur kepada Allah Swt.

Hari keberangkatanku ke belanda pun tiba, ayah dan ibuku Mengantar ku Ke Bandara, sambil menangis kedua orangtuaku itu Memelukku, dan Melepasku, mereka berpesan padaku agar selalu giat belajar, dan jangan tinggalkan Sholat, setelah kurang lebih 8 jam dalam pesawat Akhirnya pesawat Mendarat dan aku sampai di Negeri Kincir Angin, negeri yang tidak pernah terlintas sedikit pun pada benakku bahwa aku akan menghabiskan 5 tahun ku disini Meraih Gelar Kedokteran.

5 tahun pun berlalu aku mendapatkan pendidikan gratis dan Uang saku ditanggung pemerintah suka duka kulalui disini kini Hari Wisuda pun telah tiba, aku berhasil meraih Gelar seorang Dokter dgn S2, bahagia haru bercampur jadi satu ketika orangtuaku datang mendampingiku ketika aku akan mengakhiri pendidikanku di Belanda, setelah Wisuda telah selesai, aku dan Orangtuaku kembali Negara yang sangat kucinta, negeri kelahiranku, negeri dimana aku dibesarkan yakni Indonesia, aku berjanji akan mengabdikan hidupku untukmu tanah airku.

Selesai

Amanah jangan pernah menyerah, jika kita berusaha dengan sungguh2 maka allah akan mempermudahkan kita, dan membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Cerpen Karangan: Laurent Descham Anelka
Facebook: Laurent Descham Anelka
Copyright © Cerpen Menarik dan Populer. All rights reserved. Template by Amanbet