Tampilkan postingan dengan label Cerpen Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Motivasi. Tampilkan semua postingan

BERUSAHA BANGKIT

BERUSAHA BANGKIT



Cerpen Motivasi - Karya Nurwahidah A.Md

HIDUPKU terasa sangat muram sejak  kepergian Sang Ayah. Tak ada semangat  yang dimiliki. Bahkan sempat terpikir olehku untuk bunuh diri. Hidupku  memang  tak lagi berarti. Tak ada senyuman, juga tak ada tawa, dan tak ada bahagia.  Ya Allah, jika saja  tidak  ada  sedikit  keyakinan dalam hatiku bahwa semua akan  baik-baik saja, mungkin aku sudah meminum racun tikus yang dijual bebas di pinggir jalan. 

Lebih baik aku mati saja, dan bisa bertemu Beliau.  Rasa sakit ini menusuk kalbu yang paling dalam,  seperti ditusuk  jarum  berkali-kali. Aku tak  tahu  harus bagaimana,  dan apa yang harus aku lakukan? Hanya tangisku  yang bercucuran. Kenapa,  Ya Allah,  cobaan yang  Engkau timpakan pada hambamu  ini begitu berat? Aku tidak bisa memikulnya sendiri. Terlalu berat untuk kujalani sendiri!  

Engkau cepat memanggilnya ketika  hambamu ini  masih kecil dan belum   merasakan kasih sayangnya. Apa dosa dan salahku,  Ya Allah? Apakah ini karma yang engkau berikan karena  kedurhakaanku pada Beliau? Saat  kumelihat teman-teman di sekitar yang masih dimanjakan oleh ayahnya, hati  kecilku menangis. Bola mata selalu berkaca-kaca.   Andai saja aku ada di posisi mereka, betapa bahagianya dan beruntungya hidupku.  Tapi itu tidak mungkin terjadi!  Mengapa khayalanku ini  sangat tinggi.  Terpikir dibenakku mengapa Tuhan tidak  adil padaku? Mengapa harus aku yang mengalaminya? Mengapa Tuhan….?”


Berusaha Bangkit Karya Nurwahidah A.Md

***

Hari demi hari kulalui. Siang berganti malam. Hujan menjadi panas, hitam menjadi putih.  Umurku semakin  bertambah, tak terasa sudah menginjak kelas 3 SMA. Tak lama lagi kuliah. Nasihat  beliau  selalu muncul dalam benakku. Terkadang  beliau datang dalam mimpiku  dan memelukku. Memberi sebuah peringatan untuk berubah. Saat itu kumulai berpikir,  jika tetap seperti ini apa yang terjadi dengan masa  depanku nanti. Kuharus berusaha berubah dan mengubah  hidupku. Aku bukanlah anak yang manja. Bukan anak bawel dan egois. Kuberusaha menjadi sosok perempuan yang tegar, percaya diri, dan  mandiri. 

Beberapa hari kemudian pola pikirku pun berubah.  Kupandang ibuku  dengan serius. Tulangnya yang menonjol. Menandakan semakin tua. Beliaulah yang menjadi tulang  punggung dalam keluarga. Saat itu pula aku terinspirasi untuk berusaha  mancari duit sendiri.  Kasihan sekali Beliau. Setiap hari melakukan aktivitas  yang  sangat berat. t Mulai saat ini aku berjanji, bagaimana caranya untuk mendapatkan uang dengan hasil keringat sendiri. Akhirnya aku punya ide untuk berjualan di sekolah. Krupuk dan pulsa menjadi jawaban. Ibuku pun mengiyakan. 

Hari pertama aku berjualan,  grogi menghampiriku. Tapi aku berusaha enjoy dihadapan teman-teman. Aku percaya diri aja bahwa apa yang kulakukan adalah sesuatu yang tulus dan sangat tinggi nilainya bagiku. Hal ini jarang  dimiliki oleh  setiap orang. Alhamdulillah,  ternyata di balik tetesan keringat yang penuh dengan perjuangan, Allah melariskan apa yang aku jual. Apa yang kulakukan ini tidaklah sia-sia dan menghasilkan keuntungan meskipun hasilnya tidaklah seberapa.

Tamat SMA, akhirnya kuputuskan kuliah di Yogyakarta. Sebuah kota yang menghimpun para penuntut ilmu dari seluruh penjuru Nusantara. Aku harus berpisah dengan ibuku yang paling kusayang, dan keluarga lainnya. Aku yakin di balik kepergianku ini, suatu saat nanti akan membawa kebahagiaan. Sebelum  berangkat ke Jogja,  aku tanamkan dalam diri bahwa akan kuliah sambil bekerja, agar bisa mengurangi beban ibu. Ibu nomor satu di dunia. 

Beberapa bulan di  Jogja, aku pun berusaha  mencari lowongan. Aku sudah berusaha sekuat tenaga dengan maksimal, tetapi  nasibku belumlah beruntung. Tanpa putus asa, aku pun terus berusaha. Nasib mujur pun menghampiri, beberapa hari kemudian  alhamdulillah ada  lowongan pekerjaan menjaga toko cemilan. Aku membaca persyaratan di depan toko itu, dan melamar sebagai karyawan. Tak lupa doa aku panjatkan kepada yang kuasa, siang  juga malam.  

Satu minggu kemudian, aku di-es-em-es  agar bisa ikut training. Alhamdulillah aku diterima bekerja. Awalnya aku grogi dan takut salah di mata bos. Saat itu bosnya datang. Hatiku gemetar hingga badan ini merasakan panas dingin secara tiba-tiba. Kuberusaha  tersenyum, meskipun  senyuman yang kurang enak dipandang. Sebuah senyuman yang menyimpan noda. Ternyata bosnya juga tersenyum.  Ia baik dan bisa diajak bercanda.  Beliau selalu memberikan motivasi untuk menjadi perempuan yang  pekerja keras.

***

Satu bulan tidak terasa, akhirnya aku menerima gaji pertama. Ya, meskipun gajinya hanya Rp. 300/bulan. Lumayan, bisa beli buku. Aku berharap agar tetap bisa bekerja di sini. Tapi harapanku tak menjadi kenyataan. Saat itu kuhanya bekerja tiga bulan, karena saat itu bosnya menggantikan  aku dengan karyawan yang baru. Demi penyegaran, kata bosku. Ternyata, kehadiranku hanya  sementara. Hatiku sangat sakit, hingga kumeneteskan air mata. Kuteringat motivasi ayah, harus optimis  dan terus berusaha. Mungkin saja Tuhan ingin memberikan pekerjaan yang lain buatku.

Hari pun berganti bulan, tetap saja pekerjaan belum kudapatkan. Akhirnya kuputuskan untuk menjual gorengan. Aku menjualnya saat pulang kampus. Keliling dari kos ke kos.  Alhamdulillah sangat laris. Menjadi perempuan penjual gorengan mengangkat derajatkku. Aku dikenal di kalangan teman-teman dengan sebutan “si penjual gorengan”. Sebenarnya gengsi juga melakukan ini, tapi harus bagaimana lagi. 

Aku bertahan jualan lebih kurang dua minggu karena sangat melelahkan. Aku harus berjalan  kaki di berbagai tempat. Aku tidak  bisa memaksakan tenaga. Akhirnya aku pun tidak berjualan lagi. Namun, secara tiba-tiba  saat itu aku diajak  oleh kakak  Rice  untuk  jualan di kampus. Alhamdulillah, aku mendapatkan gaji Rp.300/bulan. Ditanggung  makan.

Satu bulan kemudian aku tidak berjualan lagi karena mau ujian, ditambah lagi dengan “Maba” yang menyongsong di hadapan. Akhirnya, aku menunggu kapan bisa jualan lagi. Ternyata seperti yang dulu-dulu lagi. Aku kehilangan pekerjaan karena sudah ada yang duluan berjualan di kampus. Sepertinya hidupku  ditakdirkan sial terus. Tapi kuyakin di balik semua itu ada hikmahnya. Kuharus berusaha bangkit lagi. Tuhan itu tidak  pernah tidur. Ia maha melihat setiap  apa yang dikerjakan  hambanya.  Kutetap semangat menjalani hidup ini dan tidak akan pernah menyerah. ***

Profil Penulis:
Nurwahidah A.Md adalah perempuan kelahiran Bulukumba, 09 Nopember 1994. Hobby naik sepeda dan berkelana. Pernah kuliah di Ama Yogyakarta jurusan Manajemen  Obat dan Farmasi.  Salah satu karyanya  sebuah cerpen. Dimuat di Majalah Nusantara Yogyakarta “Burusaha Bangkit.” “Kutitip Kau di Lantunan Adzan.” Dan  sebuah antologi puisi ”Tunggu Aku Mengucap Cinta”. Modal nekad dan ijazah, ia putuskan mencari nafkah di Samarinda. 

HARAPAN ITU MASIH ADA

HARAPAN ITU MASIH ADA

Karya Murni Oktarina

Cerpen Perjuangan -  “Ibu, Nayla ingin berjualan pempek di tempat lain saja. Supaya kita mendapatkan uang lebih banyak,” kataku membujuk ibuku yang sedang menuangkan air ke dalam baskom berisi ikan yang telah digiling halus.

“Nayla di rumah saja! Masak, membereskan rumah, mencuci. Biarkan Ibu saja yang mencari uang.” Balasnya lembut sembari menatap wajahku. Ibu tersenyum dan mulai meratakan ikan dengan air lalu memasukkan sagu sedikit demi sedikit ke dalam baskom.

Aku tersenyum dan beranjak untuk mendidihkan air guna merebus pempek yang dibuat oleh mak. “Nayla ingin menjual pempek di Unsri, Bu. Kata Laysa, di kampus Unsri belum banyak yang menjual pempek.” kataku lagi sembari kembali duduk di hadapan ibuku yang terlihat sibuk membentuk adonan pempek.

“Apa Nayla tidak malu dilihat teman-teman kalau Nayla berjualan pempek di Unsri?” tanya Ibu serius padaku.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Ibu pun ikut tersenyum. Wajahnya tampak letih dan sudah ada kerut-kerut yang seharusnya belum muncul di usianya yang masih 40 tahun. Mungkin beban hidup yang berat membuat Ibu terlihat lebih tua dari usianya. Sejak Bapak meninggal dua tahun yang lalu, Ibu sendirian bersusah payah mencari uang untuk membiayai hidup kami. Awalnya Ibu berjualan sayur di Pasar 16 Ilir, namun sejak satu bulan yang lalu Ibu memutuskan untuk berjualan pempek saja di area Benteng Kuto Besak (BKB) karena tak sanggup lagi membayar uang sewa tempat.

Kehidupan kami sangatlah sederhana, namun aku masih bersyukur karena sempat menuntaskan pendidikanku di bangku SMA. Sebenarnya aku sangat ingin menyambung pendidikanku di bangku kuliah. Sejak kelas dua SMA, Universitas Sriwijaya (Unsri) Inderalaya adalah kampus impianku. Setelah Bapak meninggalkan kami saat kenaikanku di kelas dua, impian untuk kuliah hanya menjadi kenangan semata. Walau kata guru di SMA-ku, aku pasti bisa menembus satu kursi di Unsri dan ada beasiswa bagi yang berprestasi, aku tetap saja meninggalkan impian itu karena memikirkan ongkos ke kampus dan keperluan lainnya. Aku tak ingin menambah beban Ibu.

Dua jam kemudian, ibuku sudah siap dengan bakul pempeknya dan perlengkapan lain. Ia terlihat letih tapi wajahnya menggambarkan kekokohan dan semangat yang tak pernah padam.

“Nayla, Ibu pergi berjualan dulu. Doakan hari ini pempek kita laku banyak ya!” pinta Ibu sambil menyunggingkan senyum.

“Hati-hati di jalan, Bu! Nayla pasti mendoakan,” kataku ceria seraya mencium tangan Ibuku tersayang.

“Assalamualaikum,” pamit Ibu. Lalu langkah kakinya keluar meninggalkan rumah kami yang sederhana.

“Waalaikumsalam,” balasku yang kemudian mengunci pintu lalu mulai membereskan rumah dan masak dengan bahan seadanya.

Sudah pukul 10.00, pekerjaan rumah sudah rampung. Segera kuambil air wudhu untuk menunaikan shalat Dhuha. Ah, seharusnya tadi aku shalat saja dulu baru kemudian menyelesaikan pekerjaanku, biar tidak sesiang ini baru menunaikan Dhuha. “Maafkan kekhilafanku, ya Allah.” kataku dalam hati memohon ampun.

***

Kulirik jam usang yang menempel di  dinding kayu rumahku. Sudah pukul 14.00 dan biasanya setengah jam lagi Ibu akan pulang. Aku menyiapkan makan siang untuknya. Kasihan sekali dengan ibuku, setiap hari makan siangnya di atas jam dua apalagi dia harus berjalan kaki melintasi Jembatan Ampera untuk sampai ke BKB, tempatnya berjualan. Sambil menunggu Ibu pulang, kunyalakan televisi, satu-satunya barang berharga di rumah kami.

Dari arah jendela, kulihat Laysa yang baru pulang kuliah. Segera kuberanjak dari dudukku dan mengenakan jilbab, kemudian keluar rumah untuk menyapa sahabat sekaligus tetangga terbaikku itu.

“Laysa…!” panggilku cukup kuat karena Laysa sudah lewat dari rumahku.

Laysa menoleh ke belakang dan tersenyum melihatku. Ia membalikkan langkahnya menghampiriku. “Kenapa, Nay? Kangen sama aku ya? Haha…!” kata Laysa bercanda lalu ia tertawa.

“Hahaha, tidak tuh! Setiap hari bertemu sama kamu kok. Kenapa harus kangen,” jawabku yang ikut tertawa. Aku mengajak Laysa untuk mampir ke rumah sebentar.

“Enak sekali jika setiap hari mendapat pempek gratis nih!” ujar Laysa sambil mengunyah pempek dengan semangat.

Aku hanya tertawa. “Jadi bagaimana, Sa? Kira-kira bisa tidak aku berjualan pempek di tempat kuliah kamu?” tanyaku serius sambil memandangi Laysa yang kepedasan oleh cuka pempek.

“Ssshhh…. Tenang saja! Itu aku yang urus semua,” Laysa menjawab pertanyaanku lalu tergesa-gesa meneguk air di dalam gelas hingga tak tersisa.

“Ah, Laysa. Aku sangat berterima kasih! Kamu memang sahabatku yang paling baik.” kataku bahagia.

“Sama-sama, Nayla. Biasa saja, ah!13” ujar Laysa sambil mengerlingkan mata indahnya.

Beberapa menit berlalu dan Laysa minta izin untuk pulang. Baru saja kami keluar, ibuku sudah pulang dan tersenyum pada kami. Aku mencium tangan Ibu kemudian disusul oleh Laysa yang juga mencium tangan Ibu.

“Laysa pulang dulu, Bu!” pamit Laysa pada Ibu. Ibu mengangguk kemudian masuk ke dalam rumah.

“Besok langsung saja bawa pempeknya. Bareng aku ke Unsri, jam 07.00 tepat, jangan telat!” pesan Laysa padaku. Aku mengangguk lalu melambaikan tangan pada Laysa yang berlalu pulang.

Aku masuk ke dalam menemui Ibu yang sedang makan. Wajahnya terlihat  dirundung kesedihan. Namun saat ia melihatku, wajah itu dipasang seriang mungkin dan mengembangkan senyuman. Aku membalas senyum Ibu dan masuk ke kamar, merapikan jilbabku. Sekalian mempersiapkan diri ke rumah Mang Teguh. Setiap pukul 15.00, aku dan Ibu bekerja mengupas bawang di rumah Mang Teguh untuk menambah penghasilan kami.

Aku terpaku di sisi jendela kamarku, memperhatikan keramaian daerah sekitar. Rumahku berada di Seberang Ulu, tepatnya di daerah 10 Ulu. Cukup dekat dengan Jembatan Ampera dan Sungai Musi, kebanggaan kotaku, Kota Palembang. Airmata jatuh perlahan membasahi pipiku. Ketika aku dilahirkan hingga berusia 18 tahun sekarang, kami sudah berkali-kali pindah rumah kontrakan. Hidup pas-pas’an dan aku sama sekali belum pernah merasakan masa remaja seperti remaja seusiaku lainnya yang bisa jalan-jalan, pergi nonton di bioskop, atau apapun itu. Bukan aku tidak bahagia dan tidak bersyukur atas nikmat hidupku, tapi aku hanya mengingat perbedaanku dengan mereka. Mereka yang hidupnya lebih beruntung dariku.

***

Ada rasa bahagia terselip di hatiku, menyaksikan kehijauan kampus Unsri Inderalaya. Angin sejuk berembus dan memainkan ujung jilbab putihku. Gedung-gedung kokoh yang indah dan nyaman, bus-bus mahasiswa yang terparkir rapi di terminal kampus, mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang dengan kesibukan masing-masing dan semuanya, semuanya menarik perhatianku. Inilah kampus impianku. Lebih tepatnya impianku dahulu. Sekarang? Tidak. Ah, sepertinya masih. Hanya saja aku berusaha untuk melupakannya.

Ternyata Laysa menyuruhku berjualan di area Fakultas Ekonomi, fakultas tempatnya kuliah. Laysa beruntung sekali memiliki kesempatan belajar di sini. Aku teringat saat kami berdua tertawa bahagia sehabis membaca koran di halaman Masjid Agung. Namaku dan Laysa tertera di pengumuman, kami sama-sama lulus di jurusan Akuntansi. Ya, aku memang sempat ikut tes SNMPTN (Seleksi Nasonal Masuk Perguruan Tinggi Negeri) untuk menyenangkan hatiku. Tapi semua mesti dilupakan karena kulihat wajah Ibu bersedih saat kukabarkan kelulusanku tersebut.

“Nayla, kamu jualan di sini? Jualan apa?” tanya Daira, teman satu SMA-ku. Ia membuka penutup bakul yang berisi pempek. Keningnya tiba-tiba berkerut, lalu menatapku tajam, tatapan merendahkan.

“Oh, pempek buatan ibu kamu pastinya, bukan?” tebak laki-laki tampan dan kaya itu dengan benar.

Aku hanya mengangguk dan berusaha untuk tersenyum. “Mau, Daira?” tanyaku basa-basi, aku tahu ia tak akan membelinya.

“Tidak, ah! Aku takut tidak steril. Oh, ya, jangan berjualan di sini! Nanti kampus kita jadi bau ikan busuk dari pempek itu,” hina Daira memandang sinis padaku dan menunjuk ke arah tumpukan pempek, jualananku.

“Sirik aja jadi orang! Tidak ada yang melarang Nayla jualan di sini, aku sudah minta izin pihak fakultas kita, kok!” tiba-tiba Laysa datang membelaku. Aku menarik napas lega karena Daira langsung pergi begitu saja.

Laysa menepuk bahuku, menenangkanku. Dia tersenyum dan duduk menemaniku berjualan.

Tepat pukul 15.00, aku sudah sampai di rumah. Kulihat ibuku sedang tertidur pulas di lantai menghadap televisi yang masih menyala. Aku mengecup kening ibuku tersayang lalu masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian. Hari pertama berjualan di Unsri sudah cukup lumayan. Aku sangat bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah kepada kami, walau sempat kesal di kampus tadi karena Daira sangat menghinaku. Sejak SMA, ia memang tak menyukaiku. Ada-ada saja hal yang diperbuatnya untuk menghinaku habis-habisan. Namun, Laysa selalu membelaku. Daira akan segera diam jika ada Laysa, karena laki-laki sombong itu menyukai Laysa.

Kulihat Ibu sudah bangun dari tidurnya. Ia tersenyum melihatku dan bertanya, “Bagaimana, Sayang? Laku pempeknya di Unsri?”

“Alhamdulillah, Bu. Pempek kita masih bersisa sedikit,” jawabku sumringah sambil menyerahkan lembaran uang padanya.

Ibu tersenyum bahagia menerima uang dariku. “Ayo kita berangkat sekarang saja ke rumah Mang Teguh!” ajak  ibuku sambil membenarkan letak kerudungnya.

***

Sudah dua minggu ini Ibu sakit. Sering terdengar ia batuk-batuk walau berusaha untuk dinahannya agar tak terdengar olehku. Tubuhnya pun semakin kurus dari hari ke hari. Sudah sering aku menyuruh Ibu untuk ke puskesmas dan istirahat dulu dari berjualan pempek., namun Ibu selalu menolaknya dengan alasan hanya demam biasa yang sebentar lagi akan sembuh. Aku sangat mengkhawatirkan ibuku dan takut terjadi apa-apa karena dua minggu ini belum sembuh-sembuh juga.

Dan hari ini, Ibu sama sekali tak bisa duduk apalagi berdiri. Ia hanya tergolek di atas kasur tipis. Aku menjaganya dan memutuskan untuk tidak berjualan dan mengupas bawang dulu hari ini. Setelah menyuapi ibuku makan, aku memberikan obat yang kubeli di warung pada Ibu. Ibu meneguk obat itu perlahan dan memejamkan mata sesaat seperti menahan sakit.

“Nayla, anak Ibu yang Ibu sayangi! Bisa bukan membuat pempek sendiri besok-besoknya? Uhuuuk…. Tetaplah berjualan pempek kalau belum mendapatkan pekerjaan. Ibu selalu mendoakan Nayla agar bisa menjadi orang sukses, bisa kuliah seperti cita-cita Nayla dulu. Mungkin Ibu tidak bisa lama-lama bersama Nayla. Jika nanti Ibu telah tiada, Nayla tinggal saja bersama Tante Sari yang di Kertapati itu. Dia pasti bersedia mengajak Nayla tinggal di rumahnya,” kata Ibu dengan lirih sambil terbatuk-batuk.

Hatiku berdesir dan cemas mendengar perkataan ibuku. Aku merasakan ada hal buruk yang akan terjadi. Ingin rasanya aku menangis namun tetap kutahan agar mak tidak melihatku bersedih. “Ibu pasti sembuh. Ibu bisa lama-lama bersama Nayla kok,” ujarku berusaha riang. Aku ingin tersenyum pada Ibu, tapi malah airmata yang bercucuran. Ibuku merentangkan tangannya dan kami berpelukan.

“Ya, Allah. Semoga ini bukan hal buruk tentang ibuku. Aku memohon padamu, sembuhkanlaH ibuku. Aku sangat menyayanginya. Hanya dia yang kumiliki sekarang, ya Allah. Berikanlah yang terbaik buat dia, aamiin…,” doaku setelah selesai menunaikan shalat ashar.

Aku melepas mukena dan masuk ke dalam kamar untuk melihat ibuku Walau sakit, biasanya Ibu tetap ingin menjalankan shalat dalam posisi berbaringnya, jadi kubawakan air bersih dan mukena untuknya.

“Ibu, Nayla sudah shalat ashar. Ibu juga mau shalat, kan?” tanyaku lembut pada Ibuku yang hanya terdiam kaku dan matanya telah terpejam dalam damai.

***

Satu tahun kemudian.

Aku berdiri di pinggiran Sungai Musi yang berada tepat di depan BKB. Kupandangi aliran air yang cukup deras dan ombak yang bermain naik turun karena baru saja dilewati ketek-ketek (perahu bermesin khas Palembang). Sesekali aku mengamati  ibu-ibu yang menjual makanan dan minuman yang duduk di bebatuan menunggu pembeli. Pikiranku melayang mengenang ibuku yang sudah satu tahun meninggalkanku, menghadap Sang Ilahi. Aku mengikhlaskannya karena tak ada gunanya bila disesali. Semua adalah takdir yang telah ditentukan Allah. Aku pun yakin, jika sekarang Ibu telah bertemu Bapak dan berbahagia di surga-Nya.

“Nayla, kita pulang yuk! Besok ada ujian di kampus, kan? Pulang ini kamu langsung belajar saja, Sayang.” ujar Tante Sari sambil merangkul bahuku. Kini ia menggantikan ibuku untuk menjagaku. Tante Sari dan suaminya sudah menganggapku sebagai anak mereka dan membiayai hidupku, termasuk kuliahku di Unsri.

Aku mengangguk lemah sambil menghapus bulir bening yang keluar dari pelupuk mataku. “Ibu…. Nayla berjanji, nanti Nayla akan menjadi orang sukses supaya Ibu dan Bapak bisa bangga punya anak seperti Nayla. Semoga Ibu dan Bapak bahagia di sana. Suatu saat nanti, kito bertiga pasti bisa berkumpul lagi. Oh iya, sekarang Nayla sudah bisa kuliah di Unsri sambil berjualan pempek, Bu. Nayla kangen sama Ibu juga sama Bapak!” teriakku cukup keras ke arah Sungai Musi di hadapanku. Riaknya kini kembali tenang setelah ketek-ketek sudah menjauh. Setenang hatiku sekarang.

Tante Sari menuntunku sambil menghapus airmataku. Kami menuju ke area parkir. Om Usman, suami Tante Sari sudah berada di parkiran, menjemput kami dengan mobilnya.

“Ya, Allah. Ya, Tuhanku. Aku sangat bersyukur atas semua karunia dan nikmat yang masih Engkau berikan untukku. Engkau telah memberikan dua orang yang amat baik, sebagai pengganti kedua orangtuaku yang telah tiada. Engkau telah memberikan kehidupan yang layak untukku. Engkau juga telah mengabulkan impianku untuk menuntut ilmu di Unsri. Semuanya telah Engkau berikan padaku, semua kenikmatan-Mu. Semoga dengan semua ini akan membuat diriku semakin beriman dan bertakwa kepada-Mu, ya Allah. Semoga kelak Engkau izinkan diri ini untuk bertemu kembali dengan Mak dan Bapakku, aamiin Ya Rabb….”

Pesan Rantai Kasih Sayang

Pesan Rantai Kasih Sayang

Cerpen Motivasi - Aku bukanlah siapa. Aku hanya seorang yang tahu apa arti hidup. Jika bagi dia hanyalah air es. Bagiku adalah sebongkah emas. Dia tahu namaku. Dia tahu dari mana aku berasal. Dan dia tahu siapa aku. Aku memang tidak sepertinya. Aku memang tidak seperti wajahnya. Dan aku memang tidak seperti dia. Namaku tak sebagus jabatan yang dia kasihkan untukku. Jabatan yang dia berikan memang tak sebanding dengan arti kehidupan yang telah dia berikan dalam hidup ini. Tin adalah jabatan untuk diriku.

“Tin sedang apa kau di sana?” suara riang terdengar dari belakang.
“Hai senang ada kau, aku sedang memancing ikan” , jawabku tersenyum untuknya.

Dia adalah perisai untukku. Wajahnya jelita, heraian rambut terurai nan indah, senyum lembut terlukis oleh bibirnya serta matanya yang berkilauan bagai berlian. Kusapa dia dengan sebutan Lulu. Lulu memang selalu ada untukku, dia selau menemaniku dan mengerti keadaanku. Kami selalu bermain bersama-sama di dekat kolam.

“Mengapa kau terus melamun Tin, apakah masih teringat amplop itu? ”, tanya dia keheranan.
“Entahlah, semua yang ada dipikiranku saat ini hanyalah ikan” , jawabku untuk mengilangkan keheranannya.

Pikirannya berhenti sejanak. Wajahnya lesu dengan kepala menunduk. Menelan ludah untuk dirinya terlihat satu kali. Tarikan nafas dalam ikut melukiskan keadaan.

“Aku tak tahu pikiranmu, tapi aku tahu perasaanmu Tin” , ucapnya menenangkan diriku.
“Sudahlah lupakan, mungkin itu suatu hadiah. Iya kan? ”, jawabku dengan pertanyaan yang tak ingin kutanyakan.

***

Sejak hari itu tak pernah lagi aku bertemu dengannya. Hari ke hari Lulu semakin menghilang. Mungkin dia lelah. Mungkin dia sedang pergi. Mungkin dia sakit. Dan mungkin dia bosan. Seluruh ingatan ini tertuju untuknya. Tak tahan rasanya tak bertemu dia selama enam hari ini.

“Lulu, Lulu, Lulu.....kau dimana?”, teriakku keras di pinggir kolam.

Aku masih ingat cerita yang pernah kau katakan padaku. Aku mengingatnya. Waktu itu aku sedang duduk di pinggir kolam. Kau jatuhkan amplop coklat itu dari atas kepalaku. Kau peluk aku dan kau basahi baju merahmu dengan air mata. Aku tak tahu apa isi amplop itu. Memang aku sudah menduganya, sejak kau berkata padaku kau akan periksa ke dokter karena kau sakit kepala. Ku sengajakan  tak membacanya.

Wajah lesu terungkap. Air suci tubuh berjatuhan dari mata air. Mungkin itu sebuah penyesalan yang tak ada habisnya. Aku berlarian kesana kemari mencari dia. Ya dia Lulu, aku tak tahan jika tak ada wajah jelita itu. Sampai saat ini memang aku tak pernah mengalami kemarahanku untuk dia. Namun, mengapa dia tak ada.

Kujalani hari-hari tanpanya. Langkahku semakin hari kian meredup. Angin yang bertiup dari barat berubah menjadi timur. Dalam hati masih terdapat segumpal luka yang belum terjawab. Berandai-andai aku untuk dirinya. Berandai-andai aku untuk menemuinya. Aku tak malu. Aku tak heran. Namun, aku yang menjadi sebuah keheranan dan kemaluan itu untuk dia.

“Apakah kau masih mengingatku?”, pertanyaaan terdengar dari belakang.
“Aku tak tahu apa yang telah aku katakan padamu dulu, sehingga kau marah padaku.” , jawabku untuknya.
“Mungkin itu yang menjadi kemarahanku untuk diriku sendiri, maafkan aku teman, aku yang telah melupakanmu.” , tanya terus terdengar.
“Kau siapa, aku tak tahu harus berbuat apa untuk memaafkanmu?”, tanyaku untuknya.
“Aku tak pernah menghilang, aku selalu ada, aku selalu ada dihatimu. Kau tak usah khawatir, aku akan selalu bersamamu sampai kapanpun” , jelasnya dengan suara lembut.
“Kau tak tahu betapa luka dihatiku belum terguyur air, kau tak tahu?” , rayuan itu dengan wajah lesu.
“Mungkin itu hanyalah kegagalan yang tertunda” , jawabnya sambil tersenyum

Berkatalah aku dalam hati. Aku akan memelukmu walau hanya sekejap saja. Aku tahu tak banyak yang telah kau lakukan untukku. Aku tahu tak banyak yang telah aku lakukan untuknya. Tapi aku tahu bahwa dia telah banyak melakukan kebaikan dalam hidupnya. Hatiku rasanya senang sekali bisa bertemu dengannya. Aku ingin selalu ada untuknya.

Entahlah, aku terbangun dari tidurku. Aku membuka mata dan aku menyadarinya bahwa dia telah tiada. Mungkin, memang itu yang harus aku katakan padanya bahwa aku selalu ada untuknya dan tidak mungkin aku melupakannya. Hariku selalu ada untuk menemani dirinya.

Aku ingat ceritamu. Ya, ceritamu saat kamu dekati aku di pinggir kolam itu. Kau luluhkan, kau senderkan pundakmu padaku untuk yang kesekian kalinya. Entah apa yang sedang kau pikirkan. Namun, itu mungkin suatu kesedihan. Kau pesankan aku agar mengikuti pentas itu, dan sampaikan salammu untuk dia yang hebat.

“Percayalah, kamu akan berhasil jika kamu lihat di bawahmu!”

Kata itu selalu teringat untukku yang takkan pernah kulupakan. Kini aku telah menggapainya. Kini kulakukan semua yang kau ajarkan. Untukmu  yang selalu ada untukku. 

***

Tertawaan dan cercaan bergemuruh ketika aku hendak bacakan puisiku untukmu. Kau berada di sana. Ya, aku merasakannya. Katamu selalu ku ingat dan ku pendam dalam hati. Perlahan-lahan ku hembuskan nafas. Sampai akhirnya akupun menemukan titik kepadatan hatiku. Ya, sekarang. Ini adalah keinginanmu. Ini adalah cita-citamu. Ini adalah peluang emasmu. Kini tak ada lagi yang bisa kutunda.

“Wahai kau yang berada di sana, dengarlah ucapku ini. Berdiri luang penuh dengan kepantasan. Menemui keanggunan bunga nan suci. Kau tak akan pernah. Tak akan pernah berhenti. Tak akan menjadikan bunga layu tak tersiram air”
        
Sorakan suara seorang penonton terdengar di antara heningnya panggung. Tak ada orang yang bersorak selain dia yang tengah memberikan semangat padaku. Semua penonton menyambut dengan meriah penampilanku. Seiring dengan sorakan penonton aku pun teringat kau. Aku merasakannya. Kau ada dalam hatiku, saat ini juga. Aku menganggukan kepala. Tak tertahan rasanya hembusan nafas lega untukku keluar dari panggung.

Saat yang paling aku tunggu telah datang. Hati berdetak kencang seolah tak tahan ingin mengetahui hasilnya. Entah apa yang ada pada kertas putih itu. Ku sebut namamu, kusebut dengan penuh kesabaran. Tak akan lupa kusebut Tuhan Yang Maha Kuasa. Detak jantung tetap terdengar keras. Tangan bergetar dan tak bisa bertahan untuk memohon doa, mulut seakan tengah menjalankan tugas dengan penuh cepatnya. Keringat dingin membasahi pipi. Saatnya, ku temukan jawaban untuk pertanyaanku selama ini. Pertanyaan yang memang harus ku cari tahu jawabannya.

Riuh tepuk penonton mengakhiri jumpa itu, tak ada satupun orang yang menghampiriku. Tubuh bersandar lengah di dinding tak ada tenaga untuk menghampirinya. Menghampiri dia yang hebat. Tetesan air mata telah membasahi pipiku. Telanan ludah kulakukan sesekali aku melihat juara itu. Ya, juara itu yang tak akan pernah kujumpainya.

“Ibu, kenapa aku tak dapatkan piala itu?”, suara tangisan kecil dengan rintihan yang mengharukan terdengar dari belakang. 

Tak tahan rasanya kepalaku untuk menoleh ke arahnya. Aku pun teringat. Teringat ceritamu. Ceritamu perisaiku. Untuk yang kesekian kalinya aku mengucapkan kata itu. Lihatlah ke bawah dan aku akan menyadarinya. Aku tersadar dan tak ada tangisan lagi yang terlihat di wajahku. Ku usap bersih air mata itu dengan sapu tanganku. Sekarang lautan telah menjadi daratan kering. Hatiku telah baku. Aku akan tetap bersyukur dengan apa yang telah ku lakukan sekarang.

“Wahai wajah kecil, bangunlah?”, suara keras dan besar mendekatiku.
“Aku?”, tanyaku padanya.
“Ya kamu gadis manis, berdirilah!”, tegasnya sekali lagi untukku.

Ku intip perlahan-lahan wajahnya. Kusadari dirinya. Seakan ku pernah mengenalnya. Tak ada sekali pun ingatanku untuknya. Tak ada sekalipun ku kedipkan mataku. Ku amati dengan penuh seksama. 

Ya, kini aku mengenalinya. Dia yang hebat. Dia yang terkenal. Oh, apakah ini mimpi. Seakan ku tak sanggup untuk menatap matanya. Dia adalah orang hebat dengan karya tulisnya yang terkenal yang telah menginspirasiku selama ini. Dia apakah dia, aku terheran melihatnya.

“Hei mengapa kau menatapku seperti itu?”, herannya dia untuku.
“Apakah kau yang selama ini menginspirasiku?”, tak ada kata lagi yang kuucapkan selain itu.
“Memang siapa penginspirasimu?”, tanyanya sambil tersenyum manis untukku.
“Kau penulis yang selama ini kukagumikah?”, ulangku sekali lagi.
“Mungkin, ayo berdirilah sejenak!”, tegasnya sambil mengangkat tanganku.

Tak ada yang bisa kuperlihatkan untuknya. Tak ada pula hasilku untuk ku perlihatkan padanya. Aku tak mungkin bisa sepertinya. Kuucapkan segala kekuranganku padanya. Aku sangat mengaguiminya.

“Kau hebat nak, kau penulis masa depan.” , tegasnya untukku.
“Apa yang hebat dari diriku? Aku tak juara, aku tak dapat sorakan penonton, dan aku tak memegang piala itu. Apa yang bisa aku lakukan?”, tanyaku sambil tersendu gelisah.
“Siapa yang mengira aku bisa seperti ini. Siapa pula yang mengira aku bisa sehebat yang kau bayangkan. Tak ada lagi yang mengira jika bukan diriku sendiri. Kau hebat nak, kau beranikan dirimu untuk pentas di depan umum, dengan penuh kepercayaan menggunakan bahasamu yang memang sulit kita pahami. Aku tak tahu apa isi puisi yang kau bacakan sangat pendek itu. Tapi aku yakin, bahwa itu merupakan puisi terbagus yang kau buat untuk pentas ini bukan?”, jelasnya panjang lebar padaku.
“Ya, memang ku membuatnya sesuai dengan isi hatiku pada waktu itu. Aku menceritakan perisaiku yang telah hilang entah kemana. Itu suara hatiku. Itu ungkapan rasa kasih sayangku untuknya. Mungkin itu sulit kau pahami, karena kau terlalu tinggi untuk memahaminya. Itu hanyalah kumpulan kata-kata yang biasa dia ucapkan untuk memotivasiku pada pentas ini. Dia sangat mengertiku, dia beri kepercayaan padaku. Entah apa yang membuat kita terpisah. Tapi aku yakin, dia pasti mendengarkanku pada saat aku membacakan puisi tadi. Bahkan,  ada satu kalimat yang tak bisa ku ungkapkan pada puisi itu. Karena kalimat itu yang selama ini menginspirasiku. Itu adalah kalimat dimana dia memberiku motivasi dengan penuh kepercayaan untuk menemuimu, dia menitipkan salam padamu lewatku” ,  jawabku dengan tatapan tajam padanya.
“Percayalah, aku telah bertemu dengannya. Kau beruntung mempunyai perisai sepertinya. Perisaimu kini aku, bukan dia. Sekarang dia telah menitipkan kau padaku” , jawabnya sambil tersenyum manis.
“Dari mana kau tahu bahwa dia menitipkanku padamu. Aku tak punya siapa-siapa selain dia. Bahkan aku tak tahu orangtuaku ada dimana. Ingatlah dia dan aku yang mengagumimu”, heranku padanya.

***

Memang semua keadaan tak bisa kita duga. Dengan penuh percaya diri aku ungkapkan semua isi hatiku padanya. Kuanggap dia seperti Lulu. Tak tahu apakah firasat ini benar. Namun, ku yakini Lulu tahu apa yang terbaik untukku.

Kini saatnya ku pastikan bahwa selalu ada jalan bagi orang yang mau berusaha. Itu katamu yang terakhir untukku Lulu. Ku ingat itu sampai aku akan bertemu lagi dengan Lulu yang selanjutnya. Terimakasihku untukmu tak akan pernah bisa dijual untuk menggantikan satu karung berlian yang bersinar terang di bawah laut. Kau pastikan keberhasilan untukku. Kau percayakan bahwa aku bisa. Itulah yang kini menjadi tanggung jawabku Lulu.

Seolah tak sadar dengan apa yang tengah aku raih. Dia mempercayaiku untuk menampilkan puisinya yang sudah dia rancang. Dia Lulu yang kau titipkan untukku. Bagiku tak ada Lulu pengganti selain kau yang selalu menungguku di dekat kolam. Namun, mungkin itu kau yang selama ini selalu ada untukku. Dia yang hebat, kini menjadi orang tuaku. Terimakasih Lulu.

SANG AKASIA PENGABDI RINDU SUNGKAWA

SANG AKASIA PENGABDI RINDU SUNGKAWA

Karya Ledy Triananda

Cerpen Perjuangan - Hari ini tak seperti biasanya. Tak segan-segan kupandang dengan tatapan canggung pada langit dunia. Awan tebal itu berarak menyelimuti sang mega lazuardi. Senja ini, tak ada lagi kicauan burung yang biasa temani sang surya terbenam pada ufuknya. Entah kemana perginya mereka. Bersembunyi karena mistisnya suasanya, atau pergi berkelana mencari tempat yang layak baginya. 

Suara denting waktu itu masih terngiang miris di telingaku. Teringat pada suatu kejadian yang tak mampu kujabarkan terlalu dalam. Luka pedih itu kian lama kian menyayat benak ini saat mengingat keberadaan Bapak dan Ibu yang tak lagi di sisiku. Aku masih tak percaya, mengapa Bapak dan Ibu begitu cepat meninggalkanku. Satu tahun yang lalu, Bapak dan Ibu meninggal karena tertimpa pohon Akasia yang sengaja di tebang oleh orang-orang yang tak beradab. Dan kini, aku hidup seorang diri. Hidup dalam kesederhanaan. Tak ada yang menemaniku. Aku hanyalah gadis yang tinggal di sebuah desa penuh dengan arti kenangan yang tak pernah rapuh. 

Inilah sosokku. Seorang gadis cilik yang tak mengerti makna kehidupan sebenarnya. Aku hanya dapat menghabiskan waktu luangku untuk duduk di atas pohon Akasia. Di sinilah, aku merenung segalanya. Merenungkan impianku. Membangun sebuah mimpi, dan merenung segala hal yang akan membawaku pergi menuju ambang batas tujuanku. Sekarang, aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ini adalah tahun pertama aku bersekolah di sana. Setelah kejadian yang menimpa Bapak dan Ibu, Bibi yang selalu mengurusku, membiayayai urusan sekolahku, dan keseharianku. Tetapi, kami tidak tinggal satu rumah. Bibi harus tinggal bersama keluarganya di desa seberang. 

Senja ini, aku masih terduduk di antara jajaran pohon Akasia menjulang. Melihat mentari yang akan kelam digua bibir misteri, melihat hamparan sejuk rerumputan yang menabur benih suka dalam sukma, dan menatap tatapan tajam pada sinar surya yang telah berubah menjadi jingga. Begitu memukau untuk menujukkan beribu rasa takjubku pada ciptaan Tuhan yang elok ini. 

“Hei, Pertiwi!” teriak seseorang dari bawah pohon. Aku masih tak sadar dengan teriakkan itu, “Hallooooooo!!!” teriaknya semakin keras. Aku terkejut. Segera aku melihat kebawah. Ku lihat, ketiga sahabatku sedang berdiri menatapku. Ya, merekalah sahabat terbaikku. Agus, Erna, dan Garuda. Tak ada satu kata yang terucap dari bibirku. Aku masih terdiam. Diam seribu kata.

“Bolehkah kami naik ke atas?” Tanya Erna. 

“Silahkan!” Jawabku seadanya. Mereka satu per satu segera memanjat, naik ke atas pohon. Selang beberapa menit, Garuda, Agus dan Erna sudah terduduk di ranting pohon Akasia.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Agus memulai pembicaraan.

“Apa yang biasa kau lakukan di atas pohon saat senja telah tiba seperti ini, makan ketela? Lagi pula kau sudah mengerti kebiasaanku duduk di atas pohon ini bukan?” Jawabku dingin tak menghiraukan senyumannya.

“Hahaha…” Agus tertawa, “Aku bercanda, Wi.” Kata Agus menepuk pundakku. Aku tersenyum kepada mereka bertiga yang menertawakanku.

“Oh iya, Wi. Kami sudah lama tidak mengunjungi makam orangtuamu bersama-sama bukan?” Tiba-tiba saja Erna membuatku berpaling menatap kedua matanya dalam-dalam. Pikiranku mulai melayang pada kejadian satu tahun yang lalu. Lagi-lagi, ingatan tragis itu memenuhi benak dan pikiranku. Sejenak, aku menahan air mata yang mulai terbendung di mataku. 

“Maaf jika aku mengingatkanmu pada masa lalu yang sebenarnya tak ingin kau ingat kembali, aku tak bermaksud membuatmu sedih seperti ini. Kami hanya ingin mengunjungi-” Erna tidak melanjutkan apa yang ingin ia biacarakan, ia malah menundukkan kepalanya. 

“Bagaimana kau bisa tahu?” Tanyaku pada Garuda. Dahiku mengernyit.

“Kepalamu begitu transparan, sehingga dengan mudah aku dapat menebaknya!” Timpal Garuda. Cibiran di mulutnya membuatku semakin tertawa terbahak-bahak dengan apa yang ia katakan. Air mataku tiba-tiba saja hilang, terganti dengan tawa yang sedang kurasakan.  

“Ada-ada saja kau ini.” Aku memukul lengan Garuda, “Terimakasih, teman-teman! Tetapi jujur saja, aku tidak ingin merepotkan kalian semua.” Lanjutku.

“Kami tidak merasa keberatan sama sekali, Wi. Kau harus bersabar. Meskipun kami tak pernah merasakan hal yang kini kamu rasakan. Tetapi, kami akan selalu ada untukmu.” Ujar Agus. Aku mengangguk mantap. 

“Iya! Tidak ada salahnya kan kami ikut mendoakan kedua orangtuamu? Wi, ini semua takdir Tuhan. Ingatlah pula, rencana Tuhan itu jauh lebih indah dari pada yang kita bayangkan.” Erna membeberkan senyum yang indah. Sesaat, aku tak bisa berkata apa-apa. Semua kata-kata yang Agus dan Erna ucapkan seolah mampu menyihir kepribadianku, untuk belajar bersyukur dengan keadaan yang kini kualami.

“Hari semakin gelap, bagaimana kalau kita pulang saja.” Kataku mulai turun dari pohon, menapaki anak tangga perlahan-lahan. Garuda, Agus, dan Erna mengangguk dan segera turun mengikutiku. Kami berempat telah turun dari pohon, “Kalian mau mampir sejenak di rumahku mungkin?” Aku mulai berjalan mendahului Garuda, Agus, dan Erna.

“Tidaklah, terima kasih. Nenek telah menungguku di-” perkataan Garuda terpotong saat Agus berhenti berjalan.

“Besok kita berangkat ke pemakaman, pukul sembilan pagi ya! Aku tunggu kalian di tempat biasa. Di pohon Akasia!” Kata Agus sembari menunjuk pohon Akasia yang baru saja kami duduki. Ia bergegas pulang meninggalkanku, Erna, dan Garuda, “Oh iya, dan jangan lupa! Pamitlah kepada orangtua kalian masing-masing!” Lanjutnya sebelum pergi meninggalkan kami yang masih diam terpaku. 

***

Pagi harinya, aku telah selesai bersiap-siap diri. Jam dinding menujukkan pukul delapan pagi. Aku tidak sabar untuk pergi ke pemakaman Bapak dan Ibu. Aku putuskan untuk menunggu Garuda, Erna, dan Agus lebih cepat di tempat semula kami putuskan bersama. Aku menaiki pohon Akasia. Duduk termenung, menunggu kedatangan ketiga sahabatku. 

Satu jam berlalu dengan cepat, aku yakin kini jarum jam telah menunjukkan pukul sembilan pagi, dan sampai saat ini pula, mereka belum juga datang menemuiku.

‘Apa mereka lupa jika harus menemuiku di sini pukul sembilan?’ batinku. Aku tak yakin, ‘Tapi, kemarin Agus sendiri yang bilang harus berkumpul di sini pukul sembilan pagi.’ Aku mulai resah, memikirkan keterlambatan ketiga sahabatku. Aku khawatir rencana yang kami buat tidak berjalan dengan lancar.

“Apa aku menjemput mereka saja? Tapi rumah mereka lumayan jauh dari sini.” Perasaanku mulai bimbang, antara turun dari pohon untuk menjemput Garuda, Erna, dan Agus atau menunggu hingga mereka bertiga datang. Tanpa berpikir lama, kuputuskan untuk menunggu kedatangan mereka.

“Pertiwi, turunlah! Orang-orang itu kembali lagi untuk menebang pohon-pohon ini!” teriak Asri, temanku, dari bawah pohon. 

“Benarkah? Di mana mereka berada?” Aku menongah ke bawah pohon. Perkataan Asri membuatku masih bertanya-tanya.

“Iya! Sekarang mereka masih ada di gapura desa! Kita harus mencegahnya. Erna, Garuda, dan Agus sedang mencegah mereka agar tidak masuk desa!” Jelas Asri. Aku spontan terkejut dengan apa yang baru saja Asri katakan. Ternyata Erna, Agus, dan Garuda sedang mencegah orang-orang itu. Orang-orang itu kembali lagi untuk menghancurkan desa ini. Pohon-pohon ini akan ditebang.

“Baiklah, kita harus turun menghentikan mereka.” Jawabku tegas. Aku segera turun dari pohon.

Bruk… “Aduuuuuh! Pinggangku!” teriakku tak karuan. Aku terjatuh dari pohon. Asri tertawa geli melihat insiden ini. 

“Ceroboh sekali kau ini, Wi. Yasudahlah, abaikan dulu rasa sakit di pinggangmu itu. Mari kita cegah mereka!” Asri segera menarik tanganku. Kami berlari menuju gapura desa. Aku dan Asri berlari sekencang mungkin menghentikan mereka yang berusaha memasuki desa untuk menebang pohon-pohon kehidupan kami. Beberapa menit kemudian, aku dan Asri tiba di gapura desa, kudapati teman-temanku sedang menghadang mereka agar tidak masuk kedalam desa. 

“Hei, kalian! Pergi dari desa kami!” teriakku dari kejauhan, orang-orang itu terdiam menatapku. Aku berjalan mendekati mereka yang sedang menyandra sahabat-sahabatku. Tiba-tiba saja mereka tertawa saat aku datang mendekati mereka.

“Tahu apa kau ini! Tak mengerti urusan uang saja, ikut campur. Menyingkirlah kalian, atau kami yang akan menyingkirkan kalian dengan cara kekerasan!” Ancam salah satu lelaki dari mereka. Badannya begitu kekar dan gagah, jika kami melawan secara fisik, pasti kami akan mati sia-sia, “Hei, bocah cilik, tak usah menjadi pahlawanlah! Ke mana perginya sandalmu yang satu? Hahaha…” Lanjutnya mencemoohku. Mereka semua tertawa terbahak-bahak. Aku pun baru saja menyadari bahwa aku hanya memakai sepasang sandal di kaki kananku, dan di kaki kiriku hanyalah sebuah kaki polos tanpa alas. 

“Wi…” Panggil Garuda lirih dengan tatapan yang sontak membuatku merasa malu.

“Terserah kalian ingin mencemoohku seperti apa! Kami tidak akan rela kalian menebang pohon-pohon yang ada di desa kami. Kami tidak akan mengizinkan kalian menebang pohon-pohon kami untuk kedua kalinya. Tidak akan! Kalian ini bisanya hanya menggunakan cara licik! Datang saat Kepala Desa kami sedang pergi ke kota.” Elakku tanpa ada rasa takut dari dalam diri terhadap orang-orang tersebut. Sesungguhnya, mereka-mereka itu adalah manusia yang hidupnya hanya bergantung pada besarnya jumlah uang yang akan mereka terima selama nyawa masih dikandung badan, tak pernah memikirkan dampak buruk lingkungan apabila pohon-pohon itu ditebang. 

“Hahaha…” Mereka dengan serentak menertawakanku, Asri, Erna, Garuda, dan Agus, “Hei, bocah! Kau ini tak tahu apa-apa. Jadi diam dan tutup mulut kalian! Pulanglah kerumah kalian masing-masing, jangan membuat kami pusing sendiri memikirkan kau-kau ini!” Tampaknya mereka sudah habis kesabaran menghadapi kami berlima, mereka semakin geram terhadap kami. Salah satu dari mereka, segera menghidupkan mesin truk, dan menjalankan truk masuk ke desa untuk mulai menebang pohon-pohon Akasia berjajar indah pada wajarnya. Kami berlima resah memikirkan bagaimana caranya kami mencegah orang-orang itu agar tidak menebang pohon-pohon Akasia tumbuh. 

“Hei, Bung! Ayo kita kejar mereka, kita tak boleh menyerah. Lingkungan lebih penting dari pada di sakiti oleh orang-orang celaka itu! Kita lindungi pohon-pohon itu! Cintailah lingkunganmu!!!” teriakku.

“Hingga titik darah penghabisan!” Gertak Garuda semakin membara. Ia berlari lebih dulu dari pada kami. Aku, Asri, Erna, dan Agus segera mengikuti Garuda yang sudah ada di depan kami.  Kami mengejar truk itu. Rasa amarah kami mulai meletup-letup.

“Tunggu sebentar!” Kata Asri terhenti, ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya, “Pertiwi! Mengapa kau masih mau memakai satu sandal di kaki kananmu? Lepaslah! Lebih baik tidak memakai alas kaki, daripada warga mengira kau sudah gila.” Ujar Asri mengingatkanku.

“Hehehe…” Aku tersenyum malu. Pipiku berubah menjadi merah merona. Aku segera melepaskan sandal yang mengapit ibu jari dan jari telunjuk kakiku. Ku arahkan sandal itu tepat pada mukaku. Kuputar-putar sandal itu lalu kubuang jauh-jauh sandal itu dari pandanganku. Entah ke mana dan di mana sandal itu akan jatuh. Entah akan mengenai para petani yang sedang panen di sawah atau tidak. Entahlah. Aku tak memikirkan itu. Kali ini, aku tak memikirkan lagi sakit pinggang dan akibat sandal sial yang membuatku malu sendiri dihadapan orang-orang itu dan para sahabatku, aku akan berusaha menghentikan mereka menebang pohon milik kami. Terpikir tiba-tiba tentang rencanaku bersama ketiga sahabatku pergi menuju pemakaman Bapak dan Ibu. Rasa risau itu mengiringi laju langkahku. 

‘Pak, Bu, Pertiwi akan berusaha menghentikan mereka! Pertiwi akan datang ke pemakaman Bapak dan Ibu dengan membawa kabar bahagia. Tuhan, akan selalu ada untuk Pertiwi. Pertiwi ingin Bapak dan Ibu melihat usaha Pertiwi di sini. Bapak dan Ibu masihlah menjadi jiwa inspirasi bagi Pertiwi untuk tetap melindungi lingkungan dan pohon-pohon di desa.’ Batinku. Aku berlari dengan senyum tulus yang melengkung di bibirku. Berusaha sekuat tenaga kuabaikan perasaan bimbang itu dan kembali mengejar truk yang mulai menjauh dari tatapanku. Aku berlari mengejar truk itu. Meskipun langkahku masih tak mampu menandingi kecepatan truk tersebut. 

Sesampainya di sana. Aku melihat mereka sudah mengeluarkan gergaji besar untuk menebang pohon-pohon itu dengan segera. 

“HENTIKAN!!!!!!!” Teriakku lebih keras. Mereka semua keluar dari singgasana mereka berada. Tetanggaku, menghentikan aktivitas yang mereka lakukan dan berkumpul mengerubungiku. Aku maju satu langkah dari titik di mana aku berdiri, “Memang, desa ini adalah desa terpencil yang mungkin memang bisa di abaikan oleh Negara. Tapi kami tidak bodoh! Kami tidak patut dikelabuhi oleh orang-orang yang tak punya hati, dan tak punya adab seperti kalian!” Timpalku lebih tajam. Orang-orang itu hanya memandangku remeh. 

“Tidak ada gunanya kau melarang kami untuk menghentikan penebangan ini. Kami akan tetap menebang pohon-pohon ini!” Mereka-mereka semakin membuatku marah. Aku berlari menuju pohon-pohon Akasia berjajar. 

“Jangan kalian tebang pohon-pohon ini! Mereka butuh hidup! Mereka butuh mempertahankan hidupnya di dunia ini. Mereka masih muda, mereka belum rapuh. Merekalah yang memberikan oksigen terhadap kami.” Aku berteriak mempertahankan pohon-pohon ini agar penebangan segera di hentikan. Sahabat-sahabatku hanya melihatku dengan pandangan putus asa, “Hei, Garuda, Erna, atau siapalah kalian yang berdiri di sana! Kalian mengapa masih saja diam? Tidakkah kalian peduli dengan pohon-pohon ini? Jawab!!!” Air mataku mulai berlinang, membasahi kedua pipiku, segera Erna, Garuda, Agus, dan Asri datang membantuku menghadang orang-orang itu untuk tidak menebang pohon kehidupan kami.

“Aaahhh! Minyingkirlah kau anak tidak tahu diri!” Mereka mendorongku dan sahabatku. Aku dan yang lainnya terpental jauh dari pohon-pohon tersebut, segera Erna, Garuda, Asri, dan Agus menjauh dari tempat mereka jatuh. Aku hanya dapat menangis dengan keadaan ini, aku tak ingin dan tak mampu beranjak dari tempat aku terpuruk. Mereka mulai menyalakan mesin dan menggergaji batang pohon Akasia yang cukup besar. Sahabat dan tentanggaku masih melihatku dengan perasaan iba yang terurai terlalu dalam. Aku masih saja menangis, tidak tega menjalani kenyataan ini. Satu pohon Akasia besar telah tertebang.

“Pertiwi! Awas!!!” Jerit Erna dari kejauhan, aku segera mengalihkan pandanganku pada batang pohon Akasia yang jatuh mengarah padaku. Aku tak dapat menghindarinya. Batang Akasia tersebut sangat cepat menjatuhi tubuhku. Aku tertimpa batang pohon Akasia. Entah bagaimana ini bisa terjadi. Aku tak tahu. Aku tak mengerti. Dalam raga ini tak lagi terpahat jiwa syahdu elok empati rindu. Kejadian tragis itu terulang kembali. Satu tahun silam, batang Akasia yang mereka tebang juga menimpa Bapak dan Ibu, sehingga mereka berdua meninggal. Pada waktu yang bersamaan. Tetangga dan sahabatku segera mendatangiku yang tak sadarkan diri. Aku tergeletak lemah tak berdaya. Suasana sunyi, telah terasa. Kini, mulutku yang dahulu mampu tersenyum, tertawa bahagia, dan berkata hal yang memukau, kini hanya terkatup rapat dan pucat. Kedua tanganku yang dahulu mampu meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhku yang kian tak ada dayanya ini. Seketika, situasi di sekitar sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan tiap detik yang begitu menyedihkan. Aku telah tiada. Orang-orang yang tak tahu diri itu, segera pergi meninggalkan desa tanpa membawa sebatang pohon Akasia. Sesaat, semua rencanaku berubah menjadi hal semu. Aku tak bisa pergi ke pemakaman Bapak dan Ibu dengan membawa kabar bahagia untuknya. Mataku memang terpejam. Tapi aku masih dapat melihatmu. Tuhan… Mungkin memang satu pejamlah, aku bisa melihatmu, melihat keindahan ini, melihat orang-orang sekitarku dapat tersenyum karenaku. 

Keesokan harinya, aku telah di makamkan didekat makam Bapak dan Ibu, kenangan manis itu akan selalu ada untukku di desa ini. Semua warga di desa lebih mencintai lingkungan mereka. Mereka telah menanam benih pohon Akasia dan pohon-pohon lainnya lebih banyak. Mereka juga membersihkan desa dari sampah berserakan yang menganggu. Aku tak lagi ada di sana, tetapi aku yang di sini, jauh lebih bahagia dengan segala hal yang kalian ubah menjadi lebih baik di sana. Kali ini, aku telah sampai di ujung perjalananku. Seperti hujan. Aku penasaran bagaimana nanti aku akan dikenang, kuserahkan semua pada kalian. Salamku, untuk Akasia yang temaniku saat senja tiba, wahai sang pengabdi rindu sungkawa, yang mampu mengurai segala cinta yang menjalar pada luka sirna. Aku di sini, akan merindukan tiap hembusan nafas yang mampu iringi hidupku di sana. Dunia.

ANJING YANG BURUK DAN KELINCI

ANJING YANG BURUK DAN KELINCI


Cerpen Motivasi - Anjing Yang Buruk dan Kelinci - Pada zaman dahulu hiduplah seekor anjing yang buruk rupa bernama Frasca. Ia adalah seekor anjing yang tak ada artinya di mata para hewan yang lain. Dan, hampir setiap hari Frasca selalu sedih dengan penampilan buruk yang dimilikinya. Bahkan dia pernah menganggap TUHAN tidak adil padanya karena telah memberi kutukan bukan anugrah yang indah padanya. Mereka menganggap Frasca adalah seekor anjing buruk yang tak ada gunanya. Karena dia sangat malu, ia mencari berbagai cara untuk dapat mengubah penampilannya agar dapat dipandang baik oleh orang lain. Suatu hari, Frasca bertemu dengan seekor kura-kura yang sudah sangat berumur, saat itu Frasca sedang berkeliling untuk mencari makanan yang akan dimakannya. Ketika melewati kura-kura tersebut, Frasca dipanggil oleh kura-kura tersebut lalu meminta bantuan agar Frasca mau membantu mengangkat tubuhnya yang sedang masuk di dalam sebuah lubang yang lumayan besar.

Setelah membantu kura-kura tersebut, sang kura-kura mengucapkan banyak terima kasih kepada sang anjing yang tidak lain bernama Frasca. Saat akan melanjutkan perjalanan, Frasca dipanggil oleh kura-kura tersebut. “Nak, siapa nama kamu? Dan sedang apa kamu disini ?”. “Na, Na.... Nama saya Frasca. Saya disini untuk mencari makan dan mencari cara agar penampilan saya dapat berubah menjadi lebih baik”. “Nak, karena kamu telah membantu saya, saya juga akan membantu kamu. Saya akan memberitahu kamu sesuatu yang dapat mengubah penampilan kamu menjadi lebuh bagus. Akan tetapi itu tidak akan mudah” kata kura-kura tersebut pada Frasca. “Yang benar kek? Bagaimana caranya ?” tanya Frasca. “Frasca, ada sebuah hutan dibalik gunung tersebut. Dan dihutan itu, ada sebuah bunga yang bernama Reflay, konon bunga itu dapat mengabulkan sebuah permintaan sang pengguna. Namun tidak akan mudah untuk mendapatkan bunga itu. Ciri-ciri bunga itu berbetuk lebar dan berdaun ber-tangkai emas, jika ingin menggunakannya cukup untuk memakan tangkai daun tersebut. Hanya itu yang saya tau tentang bunga tersebut, semoga informasi ini cukup membantu kamu, Frasca.”. Jawab kura-kura tersebut. Setelah mengucapkan terimakasih, Frasca langsung pergi kerumah pohonnya untuk menyiapkan beberapa bekal yang akan dia bawa untuk berpergian jauh.

Diperjalanan, Frasca bertemu dengan seekor kelinci berbulu abu-abu halus yang juga sedang dalam masalah. Sang kelinci sedang terjerat oleh akar pohon dan tampaknya ia tidak dapat lepas dari jeratan tersebut. Lalu dengan sigap Frasca menolong sang kelinci dari akar pohon itu dengan menggigit akar dari pohon tersebut. Setelah dapat melepaskan kelinci tersebut, Frasca langsung bertanya kepada sang kelinci, “Saya Frasca, nama kamu siapa?” tanya Fraska kepada kelinci abu-abu itu. “Nama saya Frida, oh ya, terimakasih ya karena kamu telah menolongku, kalau tidak aku akan terperangkap disana hingga besok”, balas Frida. “Kamu mau kemana, kenapa bisa sampai ke sini?”. “Saya adalah seorang pengembara, saya hanya lewat saja disini, kalau kamu sedang apa?”. “Saya sedang dalam perjalanan untuk mencari bunga Reflay, saya berpenampilan sangat buruk sehingga saya dijuluki POOR DOG di lingkungan sekitar saya, konon bunga Reflay itu dapat menabulkan kainginan orang yang memakan bunga tersebut. Jadi saya kesini untuk mencari bunga itu dan meminta agar saya dapat berpenampilan yang menarik”, jawab Frasca. “Kalau begitu apakah saya boleh ikut dengan kamu untuk mencari bunga tersebut?”, tanya Frida. Lalu Frasca menjawab, “Tentu, dengan senang hati”. Lalu mereka berdua pun melanjutkan perjalanan untuk mencari bunga tersebut.

Sudah 2 hari perjalanan berlangsung, akan tetapi merka belum juga sampai dibukit. Setelah lama perjalanan sudah genap 4 hari. Mereka baru dapat melewati bukit yang sangat tinggi tersebut. Saat akan memasuki kawasan hutan, tiba-tiba seorang pemburu liar sedang berburu binatang dihutan tersebut. Frasca dan Frida kemudian berlari untuk memasuki hutan dari arah yang lain saja. “Frasca, bagaimana ini. Apakah kita harus melewati jalan ini?”. “Tentu tidak Frida, dari pada menantang maut, lebih baik kita melewati jalan yang lain saja. Meskipun dengan melewati jalan yang lain kita akan menempuh waktu yang lebih lama”, kata Frasca. Kemudian Frida menjawab, “Kamu benar Frasca, kita akan lebih aman melewati jalan yang lain, walaupun akan memakan waktu yang cukup lama”. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan kehutan.

Entah nasib naas yang telah mengejar mereka, tetapi, yang pasti mereka telah dalam keadaan bahaya karena telah melewati jalur yang salah. Saat mereka hendak melewati jalur yang telah mereka tentukan tersebut. Ternyata terdapat lebih banyak pemburu liar di kawasan tersebut. Dan mereka dekejar oleh pemburu liar itu. Sudah hampir 10 menit mereka dikejar, akhirnya para pemburu tersebut telah menyerah. Tak terasa, mereka telah sampai di tempat tujuan. Bunga Reflay sudah ada di depan mata, Frasca tidak langsung menuju ke bunga itu.

Akan tetapi dia malah menatap bunga itu bagaikan sedang melakukan pertandingan tatap mata. Selang beberapa saat, Frasca kembali berjalan menuju Frida yang dari tadi sudah mengamati bunga tersebut. “Sungguh indah, sobat” ucap Frida. “Tentu Frida, sungguh menakjubkan, aku tak menyangka akan melihat bunga seindah ini seumur hidupku.

Maka terkagum-kagumlah Frasca melihat bunga tersebut. “Bunga seindah ini, pasti memang sangat ajaib. Namun dibalik kesuburan tumbuhnya bunga tersebut, pasti bunga ini hanya tumbuh 10 tahun sekali. Tidak-tidak .Pasti, 100 tahun sekali, atau mungkin 1000 tahun sekali, atau mungkin lebih lama. Yang pastinya bunga ini tidak tumbuh begitu cepat. Aku jadi tidak ingin menggunakan bunga ini, kemungkinan bunga ini akan lebih dibutuhkan oleh orang lain dengan kepentingan yang lebih besar resikonya”. “Kamu benar Fras, tapi apa kamu mau hidup dengan wajah seperti itu?”. Sambil menatap langit, “Aku akan lebih senang jika hidup dalam karunia TUHAN YANG MAHA KUASA. Dan tentunya, aku diciptakan dengan penampilan begini agar aku dapat lebih mngerti apa itu KARUNIA dan aku akan mensyukuri anugrah apa yang telah ada padaku!”. “Kau memang teman terhebat yang pernah kutemui kawan. Kau telah rela mengorbankan keinginan yang sudah hampir tercapai, demi kepentingan yang lebih besar tentunya”. “ya kau benar, dan terimakasih juga untu
kmu karena telah mau membantuku untuk sampai pada saat ini di tempat ini, Frida”. Dengan cepat Frida menjawab, “Terimakasih juga Frasca.

Dan kemudian Frasca hidup tenang dan damai, cerita tentangnya mengorbankan keinginan telah tersebar di berbagai daerah. Kini penampilan buruk baginya bukan merupakan sebuah masalah lagi. Dan orang orang yang dulunya menjauhinya telah menjadi sahabat bagi dirinya dan dia diangkat sebagai pemimpin dari kelompok pada lingkungan itu.

Aku Ingin Kuliah

Aku Ingin Kuliah


Cerpen Pendidikan - Kita sebut saja namanya Ryan, Ryan adalah siswa Alumni MAN di daerahnya yang baru saja dinyatakan lulus, malam itu setelah pengumuman kelulusan UN pada siang hari di seluruh indonesia secara bersamaan, keesokan harinya adalah pengumuman kelulusan bagi calon mahasiswa baru yang mendaftar melalui jalur SNMPTN. Sebelum pengumuman UN ryan dan ayahnya sempat berbicara mengenai kelanjutan pendidikannya, karena faktor ekonomi yang kurang kondusif pada masa itu, setelah lama berbicara akhirnya lahir sebuah keputusan dimana ryan tidak akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi (KULIAH).

Malam itu, adalah pengumuman kelulusan calon mahasiswa baru yang mendaftar melalui jalur SNMPTN, beberapa pesan singkat sempat masuk kedalam telepon genggam milik Ryan, yang isinya “selamat ya Ryan” dan kebetulan esok adalah hari kelahiran Ryan, Ryan lantas berfikiran apa kawan-kawannya lupa dia lahir esok hari, bukan hari ini. Dengan sedikit merasa aneh dan lucu kemudian ryan membalas pesan singkat dari teman-temannya, “maaf kawan-kawan saya ultahnya besok, bukan hari ini, apa kalian sudaah lupa? hehehe” ujar Ryan, lantas salah satu dari sahabatnya kembali membalas, “eh, ini kado terindah yang tuhan berikan, kami tahu kamu ultahnya besok, tapi kami ucapkan selamat karena kamu lulus SNMPTN” pungkas temannya.

Lantas Ryan terbaring di kamar sambil menatap langit-langit kamarnya, seraya memikirkaan bagaimana caranya mengambil kesempatan ini setelah adanya keputusan sebelumnya bahwa ryan dan orangtuanya sepakat Ryan tidak melanjutkan pendidikan tahun ini. Tiba-tiba telepon genggam milik Ryan berdering, kemudian ryan melihat ke layar hp ternyata nomor baru, tanpa berlama-lama kemudian ryan mengangkat telponnya, ternyata itu panggilan masuk dari kepala sekolahnya Ryan.
“hallo… maaf ini siapa?”. Tanya Ryan
“kamu dimana? Kamu lulus SNMPTN, ini saya kepala sekolah, silahkan datang ke ruko sebentar” ujar Kepala sekolah Ryan.
“iya pak, iya, saya sudah dengar kabar juga barusan, baik pak.. saya segera kesana..” akhir Ryan

Dengan langkah tergesa-gesa Ryan mengganti pakaian dan keluar kamar, dan mengambil kunci motor yang tergantung di tengah-tengah rumah. Melihat Ryan tergesa-gesa orangtua Ryan bingung ada apa sebenarnya, begitu hendak keluar Ayah Ayan bertanya, “kamu kenapa? ada apa? ini kamu mau kemana?” dengan tergesa-gesa Ryan menjawab “saya mau jumpain kepala sekolah, katanya saya lulus untuk menjadi calon mahasiswa yah, dan saya ingin kuliah Ayah” jawab Ryan seraya menghidupkan kendaraannya dan pergi begitu saja.

Kini Ayah Ryan tidak lagi sepemahaman dengan Ryan, Ayah ryan tiba-tiba kaget karena Ryan mengingkari janjinya, dan langsung masuk ke dalam dan bercerita kepada Ibunya Ryan.

Sesampai di tempat ryan langsung menyalami dan mencium tangan kepala sekolah, dan kepala sekolah tersenyum kepadanya serta berkata, “wah, selamat ya Ryan kamu lulus ni, gimana? jadi diambil kan? Ini kesempatan bagus buat kamu, karena kamu satu-satunya laki-laki yang lulus!.” dengan senyuman dan anggukan Ryan menjawab pertanyaan kepala sekolah. Dan melihat-lihat pengumuman. Kemudian Ryan bercerita kepada kepala sekolah, bagaimana keadaan sebenarnya, bahwasanya ryan tahun ini rencananya akan menganggur. Kemudian kepala sekolah memberikan soslusi agar Ryan kembali mendiskusikannya dengan ayah.
“begini saja, coba bicara baik-baik kepada Ayah kamu, dan perlihatkan kesungguhan kamu untuk kuliah”, dengan wajah yang terlihat ragu Ryan menerima solusi tersebut dan pamit pulang ke rumah.

Di perjalanan ryan hanya berpikiran bagaimana cara menceritakan hal ini kepada Ayahnya, bahwa dia benar-benar ingin kuliah dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut, Ryan berpikiran bahwa memang betul ekonomi kami memang lagi tidak stabil, jika memang rezeki tidak dari ekonomi kami yang sekarang, mengapa Allah harus memberikan kesempatan ini? Allah tidak akan lupa dengan ekonomi kami sekarang artinya allah tahu jika memang tidak ada kemungkinan kuliah, dia tidak akan lulus, singkatnya Ryan berpikiran bahwa. “Allah menitipkan sesuatu untukku kelak setelah menyelesaikan kuliah ini, sehingga iya memberikan kesempatan ini kepadaku, dia tahu aku akan mampu menjalaninya” begitulah isi hati Ryan yang memotivasinya untuk memberanikan diri membicarakan kembali kepada ayahnya.

Sesampainya di rumah, ryan langsung menjumpai ayahnya dan berkata, “saya lulus, pokoknya saya mau kuliah” dengan sikapnya itu lantas ayahnya membesarkan suara kepadanya, “kamu ini bagaimana? Apa kamu lupa, kemarin kita baru membicarakannya, jika saya memang mampu untuk tahun ini, rizky pun ada, tanpa kamu minta saya akan kuliahkan kamu, terserah mau dimana, tapi keadaan kamu lihat sendiri, hah, kamu ini, sudah bersabarlah, tahun depan kita akan kuliahkan kamu, kali ini, kita selesaikan dulu abang kamu yang akan diwisudakan sebentar lagi, sudah besar tapi masih minta dimarahin!!” ujar Ayah Ryan dengan nada yang lantang.

Mendengar pernyataan sang Ayah, tidak ingin memperpanjang perdebatan Ryan lebih memilih masuk ke kamarnya dengan perasaan yang sangat sedih dan kecewa. Ryan pun terbaring lemas, seraya meteskan air mata dan berdo’a, “ya Allah, tunjukkanlah yang mana yang benar bagimu, walaupun aku tahu ini memang yang terbaik, tapi berikanlah cara agar hati ini bisa menerima pernyataan, dan bisa dimengerti”. Di dalam hati ryan terus berkata-kata seraya memjamkan mata, hingga akhirnya terlelap.

Seminggu sudah berlalu, namun ryan tidak banyak berbicara dengan Ayahnya, karena kejadian malam itu, namun Ryan terus berupaya bagaimana cara bisa mengambil kesempatan itu, setelah malam itu Ryan hanya bekerja di usaha milik keluarga mereka, sebagai penjual jasa mencuci mobil dan motor (doorsmir), rupiah demi rupiah dikumpulkan oleh Ryan. Di samping itu ternyata Ibu Ryan selalu mengamati gerak gerik Ryan setelah malam itu.

Sepulang Ayah Ryan dari kantornya, Ayah Ryan langsung ke meja makan. Tidak lama kemudian, melihat ayah Ryan telah menyelesaikan makan siangnya, ibu Ryan menghampiri Ayah Ryan yang baru pulang dari kantor di meja makan, “yah, Umi (panggilan untuk ibu Ryan sehari-hari) mau bicara, ini soal Ryan yang katanya ingin kuliah” kata Ibu Ryan dengan nada lembut. “iya Mi, ada apa dengan Ryan, bicara saja” jawab ayah Ryan dengan spontan. “akhir-akhir ini Umi perhatikan tingkah ryan berbeda sekali dari biasanya” sambung Ibu Ryan, “lah beda gimana mi?” dengan kagetnya.. “begini lo yah, Umi tahu apa yang Ayah pikirkan, tapi Umi juga kepiran tentang yang disampaikan Ryan, mungkin ayah lebih sering di luar, Ryan setelah kejadian itu, dia menjadi lebih giat bekerja, dan sepertinya dia mengumpulkan uangnya untuk berangkat, Umi khawatir, jika suatu saat dia pergi tiba-tiba, karena dia begitu bersikeras ingin kuliah, percuma kita terus menahannya, nanti yang ada kita menyesal yah..” akhiri ibu Ryan sambil termenung.

Melihat ibu Ryan yang begitu khawatir akhirnya sang Ayah mencoba berbicara kembali dengan Ryan, kemudian sang ayah meninggalkan ibu di meja makan dan ke luar memanggil Ryan, “Ryan, kemari sebentar, ada yang ingin ayah bicarakan dengan kamu” ucap ayah Ryan sambil melambaikan tangannya ke arah Ryan. Kemudian ryan tanpa menjawab sang ayah langsung menghampiri Ayahnya yang kembali berada di sebelah ibu Ryan, dan duduk di samping Ayahnya.

“Ryan, barusan Umi kamu bercerita kepada Ayah, Ayah mau tanya sesuatu sama kamu, apa benar kamu masih ingin mengambil jurusan kamu itu?” tanya ayah Ryan, “iya Ayah” jawab Ryan dengan singkat. Kemudian ayah Ryan berkata “Ryan, kamu tahu jurusan kamu itu, itu orang-orang yang menentang pemerintah, melakukan aksi demo, Ayah takut kamu kenapa-kenapa, kita tunggu saja saat yang tepat, itu nanti hanya jadi orang-orang pemberontak pemerintah, ayah bagian orang pemerintahan, kamu tahu Presiden? dengan intruksi “Bumi Hanguskan” semua pendemo bisa dipukuli, bahkan dimusnahkan pihak tentara, kamu tahukan kejadian 98?!” sambung ayah ryan yang berusaha menghentikan iktikad Ryan yang ingin mempertahankan kemauannya dengan nada sedikit kencang.
Lantas dengan lembut dan sedikit takut Ryan menjawab
“yah, anakmu kini diberi kesempatan untuk kuliah, walaupun kita sama-sama tahu kondisi sekarang abang bulan ini akan diwisudakan, juga butuh uang, hal yang tidak mungkin saya bisa kuliah, tapi ayah, kenapa Allah meluluskan Ryan jika Allah lebih tahu segalanya, bukankah ini memang rizky yang allah berikan?, dia tahu ada jalan, rizky dia yang atur yah, percayalah yah, dengan kesederhanaan aku bisa bertahan dan berjuang di sana.” Jawab Ryan. “Kemudian mengenai jurusan itu, aku sudah serahkan kepada Allah apa yang terjadi esok, yang Ryan pikirkan bagai mana cara memulai hari ini, dan menjawab hari esok” pungkas Ryan dengan bijak dan mata yang berkaca-kaca.
Melihat sikap Ryan dan pernyataannya, Ayah Ryan termenung, tidak tahu apa yang sedang dipikirkan. Kemudian Ayah Ryan menyambung kembali pernyataannya, “baiklah Ryan, jika keputusanmu memang benar-benar bulat, Ayah akan usahakan bagaimana supaya kau juga bisa kuliah, namun Ayah ingin memberitahu kamu satu hal, jika kamu merantau, jangan pernah dekati nark*ba, jangan berbuat yang merugikan diri kamu, apalagi orang lain, ingat visi dan misi kamu kuliah untuk apa”.
Dengan sedikit terharu Ryan mengangguk-anggukkan kepalanyanya dan berkata “iya Ayah” pada setiap ucapan Ayahnya yang menyampaikan pesan moral kepadanya.

Dan siang itu berakhir dengan percakapan yang sangat haru bagi Ryan, dengan bangganya Ryan kembali bersemangat, dan mempersiapkan bekal untuk keberangkatannya yang menjelang beberapa hari lagi.
Tiba saatnya Ryan hari ini harus berangkat ke tempat kuliahnya, dan meninggalkan rumah untuk sementara, sebelum berangkat Ryan berpamitan kepada ayah dan ibunya, saat bersalaman Ayah Ryan kemabli mengulang ucapannya, dan menasihati Ryan agar tidak lupa tujuan kelak di rantau orang. Tampak di sebelah Ayah ada Umi Ryan yang menatapi Ryan dengan linangan air mata, tetesan air mata ibu Ryan mengiringi suasana yang menjadi begitu semakin sedih, seakan-akan khawatir karena jauh darinya, Anaknya yang ke dua itu dikenalnya sedikit nakal dulunya akan berada jauh dari sisinya, dia seakan-akan sedikit resah dan gelisah dengan keberangkatan Ryan.
Kemudian ryan menghampiri Ibunya untuk pamit, “mi, Umi jangan nangis, insya Allah Ryan baik-baik saja nanti di rantau orang, Ryan hanya minta do’a restu, doakan ryan agar menjadi orang yang sukses, dan selalu dalam lindungan allah” ucap Ryan juga dengan mata yang berkaca-kaca, “nak, jika do’a yang kamu minta, dalam do’a selalu ada nama kalian Anak-Anakku, aku ini Ibu kandung kalian nak, setiap Ibu selalu mendoakan anaknya agar diberi yang terbaik, dan dilindungi Allah” sambung ibu Ryan dengan suara yang berbaur dengan tangisan.

“nak, jangan pernah tinggalkan sholatmu, selalulah berdo’a jaga diri baik-baik di rantau orang” pungkas ibu Ryan seraya memeluk ryan, mendengar ucapan ibu Ryan, ryan tak kuasa menahan air mata, akhirnya ryan meneteskan air mata, semua yang berada di dalam itu terbawa suasana yang begitu haru.

Tidak lama kemudian, angkutan umum yang akan ditumpangi Ryan akhirnya tiba di depan rumah Ryan, dan pengemudinya langsung turun dan mengambil barang-barang yang akan dibawa Ryan. Setelah semua dibawa naik ke dalam mobil, supir memberikan tanda isyarat dengan membunyikan klakson mobil, menandakan mobil akan segera berangkat. Kemudian Ryan berjalan ke arah mobil seraya menghusap airmatanya dan segera naik ke dalam mobi. Sebelum berangkat Ryan melambaikan tangan kanannya ke arah keluarganya yang berada di halaman rumah sebagai tanda perpisahan dari Ryan.

“If you just stop with what is happening in front of you today without any effort, it means that you are no better than those who never tasted failure but would prefer just stop.”
– Sadryansyah Berutu –

Cerpen Karangan: Sadryansyah Berutu
Blog: Https://sadryansyahberutublog.wordpress.com
saya Sadryansyah Berutu, Mahasiswa Ilmu Politik FISIP Unsyiah Banda Aceh
lahir tanggal 28 Mei 1995

Sepercik Cahaya Pembangkit Semangat

Sepercik Cahaya Pembangkit Semangat


Sepercik Cahaya Pembangkit Semangat - Bogor, 29 Mei 2007
Hari itu Adalah Hari Yang tak Mungkin Aku dan Keluargaku Lupakan, hari dimana Perusahaan Ayahku Bangkrut, semua Aset Perusahaan tergadaikan, Rumah, Villa, Mobil, Semua Habis dijual untuk Membayar Hutang Ayahku kepada Bank, Ibuku terus Menangis Merenungi Nasib Kami Kedepan, Aku coba Menenangkannya, tapi aku juga memikirkan Entah bagaimana caraku melanjut kan Pendidikan

Sekarang aku duduk di Bangku kelas 3 SMA, dan Sebentar Lagi Akan Kuliah, Semua teman Sebayaku Akan Melanjutkan Kuliah di Universitas ternama baik di Indonesia maupun Luar Negeri. Aku Hanya Bisa terdiam Ketika Temanku Riana Menanyakan Universitas tujuanku,
“Lin kamu mau kuliah di mana?” tanyanya
“gak tau belum kepikiran ri, aku gak mau ngebebani keluarga” jawabku
Temanku riana berkeinginan Melanjutkan Study di Salah satu Universitas terbaik di indonesia, Riana tahu keadaan Ekonomiku yang Sekarang, dia Menawarkanku untuk Meminjam Uang padanya, tapi aku Menolaknya, Alasannya Cukup sederhana Aku ingin Kuliah dengan Biaya dan kemampuanku sendiri.

Sebelum kuliah, Sehabis pulang sekolah Aku bekerja di sebuah Supermarket, Gajinya Lumayan Untuk Membantuh Ayah dan ibuku Supaya Mereka tidak terlalu terbebani dan jika ada sisanya Uang hasil kerjaku, kutabung, tak dapat kupungkiri Niatku Untuk kuliah Semakin Besar, aku Berkeinginan Menjadi Orang Sukses. Agar dapat meraih Cita-Cita kelak.

Hari Kelulusan SMA pun telah tiba, Hari itu Semua temanku datang dengan Mengendarai Mobil bersama Orangtuanya, Sedangkan aku bersama Orangtuaku pergi ke SMA hanya Menaiki kendaraan Umum walau begitu aku tidak iri sedikit pun, dengan mereka. Ketika hasil kelulusan dibacakan, Betapa terkejutnya aku ketika kepala Sekolah Mengatakan Bahwa Nilai tertinggi diraih Oleh siswa yang Bernama Elina Putri, Siswa kelas XII IPA, senang bukan kepalang ketika Aku dipersilakan naik ke atas Panggung dan Mendapatkan Penghargaan Atas Prestasi Yang kuraih, Selain itu Aku juga Berkesempatan meraih Beasiswa kuliah Di Belanda, sebuah negera indah di benua eropa, Sebelum menghadapi tes, aku Sudah mempersiapkannya dengan baik, Aku selalu Belajar mengenai Materi yang disampaikan guru dari kelas X sampai kelas XII, tak lupa Aku Berdoa dan Berserah diri kepada Allah Swt.

Hari tes seleksi Mahasiswa Baru Pun telah tiba Sebelum aku pergi untuk Melaksanakan tes, aku Meminta Doa restu dari kedua Orangtuaku.
Tes Berlangsung Cukup lama yakni kurang lebih 3 jam, Dengan Percaya diri dan Berdoa aku berhasil Menyelesaikan Soalnya tepat waktu, pengumuman bagi Siswa yang diterima akan dilakukan pada hari ke Tujuh setelah tes.

Hari silih berganti Waktu Pengumuman Pun telah tiba dengan percaya diri aku pergi ke tempat diadakannya Beasiswa Study ke Belanda tersebut, semua orang dari berbagai daerah Berdatangan untuk melihat pengumuman tersebut, nama-nama siswa yang lulus tes sudah ditempel, dengan berdesak-desakan aku melihat hasil pengumuman tersebut, betapa bahagianya aku, ketika aku melihat dari Ratusan Siswa yang ikut tes tersebut, hanya diambil 25 siswa Indonesia pilihan yang mendapat Beasiswa belajar di belanda dan namaku ada di Urutan ketiga sebagai siswa yang dinyatakan diterima di salah satu Universitas ternama di Negeri Bunga Tulip itu.
Ketika aku pulang ke rumah tangisku tak bisa lagi terbendung, aku menangis di pelukan ayah dan ibuku, sembari bersyukur kepada Allah Swt.

Hari keberangkatanku ke belanda pun tiba, ayah dan ibuku Mengantar ku Ke Bandara, sambil menangis kedua orangtuaku itu Memelukku, dan Melepasku, mereka berpesan padaku agar selalu giat belajar, dan jangan tinggalkan Sholat, setelah kurang lebih 8 jam dalam pesawat Akhirnya pesawat Mendarat dan aku sampai di Negeri Kincir Angin, negeri yang tidak pernah terlintas sedikit pun pada benakku bahwa aku akan menghabiskan 5 tahun ku disini Meraih Gelar Kedokteran.

5 tahun pun berlalu aku mendapatkan pendidikan gratis dan Uang saku ditanggung pemerintah suka duka kulalui disini kini Hari Wisuda pun telah tiba, aku berhasil meraih Gelar seorang Dokter dgn S2, bahagia haru bercampur jadi satu ketika orangtuaku datang mendampingiku ketika aku akan mengakhiri pendidikanku di Belanda, setelah Wisuda telah selesai, aku dan Orangtuaku kembali Negara yang sangat kucinta, negeri kelahiranku, negeri dimana aku dibesarkan yakni Indonesia, aku berjanji akan mengabdikan hidupku untukmu tanah airku.

Selesai

Amanah jangan pernah menyerah, jika kita berusaha dengan sungguh2 maka allah akan mempermudahkan kita, dan membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Cerpen Karangan: Laurent Descham Anelka
Facebook: Laurent Descham Anelka
Copyright © Cerpen Menarik dan Populer. All rights reserved. Template by Amanbet