Tampilkan postingan dengan label Cerpen Cinta Sejati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Cinta Sejati. Tampilkan semua postingan

Pesan Rantai Kasih Sayang

Pesan Rantai Kasih Sayang

Cerpen Motivasi - Aku bukanlah siapa. Aku hanya seorang yang tahu apa arti hidup. Jika bagi dia hanyalah air es. Bagiku adalah sebongkah emas. Dia tahu namaku. Dia tahu dari mana aku berasal. Dan dia tahu siapa aku. Aku memang tidak sepertinya. Aku memang tidak seperti wajahnya. Dan aku memang tidak seperti dia. Namaku tak sebagus jabatan yang dia kasihkan untukku. Jabatan yang dia berikan memang tak sebanding dengan arti kehidupan yang telah dia berikan dalam hidup ini. Tin adalah jabatan untuk diriku.

“Tin sedang apa kau di sana?” suara riang terdengar dari belakang.
“Hai senang ada kau, aku sedang memancing ikan” , jawabku tersenyum untuknya.

Dia adalah perisai untukku. Wajahnya jelita, heraian rambut terurai nan indah, senyum lembut terlukis oleh bibirnya serta matanya yang berkilauan bagai berlian. Kusapa dia dengan sebutan Lulu. Lulu memang selalu ada untukku, dia selau menemaniku dan mengerti keadaanku. Kami selalu bermain bersama-sama di dekat kolam.

“Mengapa kau terus melamun Tin, apakah masih teringat amplop itu? ”, tanya dia keheranan.
“Entahlah, semua yang ada dipikiranku saat ini hanyalah ikan” , jawabku untuk mengilangkan keheranannya.

Pikirannya berhenti sejanak. Wajahnya lesu dengan kepala menunduk. Menelan ludah untuk dirinya terlihat satu kali. Tarikan nafas dalam ikut melukiskan keadaan.

“Aku tak tahu pikiranmu, tapi aku tahu perasaanmu Tin” , ucapnya menenangkan diriku.
“Sudahlah lupakan, mungkin itu suatu hadiah. Iya kan? ”, jawabku dengan pertanyaan yang tak ingin kutanyakan.

***

Sejak hari itu tak pernah lagi aku bertemu dengannya. Hari ke hari Lulu semakin menghilang. Mungkin dia lelah. Mungkin dia sedang pergi. Mungkin dia sakit. Dan mungkin dia bosan. Seluruh ingatan ini tertuju untuknya. Tak tahan rasanya tak bertemu dia selama enam hari ini.

“Lulu, Lulu, Lulu.....kau dimana?”, teriakku keras di pinggir kolam.

Aku masih ingat cerita yang pernah kau katakan padaku. Aku mengingatnya. Waktu itu aku sedang duduk di pinggir kolam. Kau jatuhkan amplop coklat itu dari atas kepalaku. Kau peluk aku dan kau basahi baju merahmu dengan air mata. Aku tak tahu apa isi amplop itu. Memang aku sudah menduganya, sejak kau berkata padaku kau akan periksa ke dokter karena kau sakit kepala. Ku sengajakan  tak membacanya.

Wajah lesu terungkap. Air suci tubuh berjatuhan dari mata air. Mungkin itu sebuah penyesalan yang tak ada habisnya. Aku berlarian kesana kemari mencari dia. Ya dia Lulu, aku tak tahan jika tak ada wajah jelita itu. Sampai saat ini memang aku tak pernah mengalami kemarahanku untuk dia. Namun, mengapa dia tak ada.

Kujalani hari-hari tanpanya. Langkahku semakin hari kian meredup. Angin yang bertiup dari barat berubah menjadi timur. Dalam hati masih terdapat segumpal luka yang belum terjawab. Berandai-andai aku untuk dirinya. Berandai-andai aku untuk menemuinya. Aku tak malu. Aku tak heran. Namun, aku yang menjadi sebuah keheranan dan kemaluan itu untuk dia.

“Apakah kau masih mengingatku?”, pertanyaaan terdengar dari belakang.
“Aku tak tahu apa yang telah aku katakan padamu dulu, sehingga kau marah padaku.” , jawabku untuknya.
“Mungkin itu yang menjadi kemarahanku untuk diriku sendiri, maafkan aku teman, aku yang telah melupakanmu.” , tanya terus terdengar.
“Kau siapa, aku tak tahu harus berbuat apa untuk memaafkanmu?”, tanyaku untuknya.
“Aku tak pernah menghilang, aku selalu ada, aku selalu ada dihatimu. Kau tak usah khawatir, aku akan selalu bersamamu sampai kapanpun” , jelasnya dengan suara lembut.
“Kau tak tahu betapa luka dihatiku belum terguyur air, kau tak tahu?” , rayuan itu dengan wajah lesu.
“Mungkin itu hanyalah kegagalan yang tertunda” , jawabnya sambil tersenyum

Berkatalah aku dalam hati. Aku akan memelukmu walau hanya sekejap saja. Aku tahu tak banyak yang telah kau lakukan untukku. Aku tahu tak banyak yang telah aku lakukan untuknya. Tapi aku tahu bahwa dia telah banyak melakukan kebaikan dalam hidupnya. Hatiku rasanya senang sekali bisa bertemu dengannya. Aku ingin selalu ada untuknya.

Entahlah, aku terbangun dari tidurku. Aku membuka mata dan aku menyadarinya bahwa dia telah tiada. Mungkin, memang itu yang harus aku katakan padanya bahwa aku selalu ada untuknya dan tidak mungkin aku melupakannya. Hariku selalu ada untuk menemani dirinya.

Aku ingat ceritamu. Ya, ceritamu saat kamu dekati aku di pinggir kolam itu. Kau luluhkan, kau senderkan pundakmu padaku untuk yang kesekian kalinya. Entah apa yang sedang kau pikirkan. Namun, itu mungkin suatu kesedihan. Kau pesankan aku agar mengikuti pentas itu, dan sampaikan salammu untuk dia yang hebat.

“Percayalah, kamu akan berhasil jika kamu lihat di bawahmu!”

Kata itu selalu teringat untukku yang takkan pernah kulupakan. Kini aku telah menggapainya. Kini kulakukan semua yang kau ajarkan. Untukmu  yang selalu ada untukku. 

***

Tertawaan dan cercaan bergemuruh ketika aku hendak bacakan puisiku untukmu. Kau berada di sana. Ya, aku merasakannya. Katamu selalu ku ingat dan ku pendam dalam hati. Perlahan-lahan ku hembuskan nafas. Sampai akhirnya akupun menemukan titik kepadatan hatiku. Ya, sekarang. Ini adalah keinginanmu. Ini adalah cita-citamu. Ini adalah peluang emasmu. Kini tak ada lagi yang bisa kutunda.

“Wahai kau yang berada di sana, dengarlah ucapku ini. Berdiri luang penuh dengan kepantasan. Menemui keanggunan bunga nan suci. Kau tak akan pernah. Tak akan pernah berhenti. Tak akan menjadikan bunga layu tak tersiram air”
        
Sorakan suara seorang penonton terdengar di antara heningnya panggung. Tak ada orang yang bersorak selain dia yang tengah memberikan semangat padaku. Semua penonton menyambut dengan meriah penampilanku. Seiring dengan sorakan penonton aku pun teringat kau. Aku merasakannya. Kau ada dalam hatiku, saat ini juga. Aku menganggukan kepala. Tak tertahan rasanya hembusan nafas lega untukku keluar dari panggung.

Saat yang paling aku tunggu telah datang. Hati berdetak kencang seolah tak tahan ingin mengetahui hasilnya. Entah apa yang ada pada kertas putih itu. Ku sebut namamu, kusebut dengan penuh kesabaran. Tak akan lupa kusebut Tuhan Yang Maha Kuasa. Detak jantung tetap terdengar keras. Tangan bergetar dan tak bisa bertahan untuk memohon doa, mulut seakan tengah menjalankan tugas dengan penuh cepatnya. Keringat dingin membasahi pipi. Saatnya, ku temukan jawaban untuk pertanyaanku selama ini. Pertanyaan yang memang harus ku cari tahu jawabannya.

Riuh tepuk penonton mengakhiri jumpa itu, tak ada satupun orang yang menghampiriku. Tubuh bersandar lengah di dinding tak ada tenaga untuk menghampirinya. Menghampiri dia yang hebat. Tetesan air mata telah membasahi pipiku. Telanan ludah kulakukan sesekali aku melihat juara itu. Ya, juara itu yang tak akan pernah kujumpainya.

“Ibu, kenapa aku tak dapatkan piala itu?”, suara tangisan kecil dengan rintihan yang mengharukan terdengar dari belakang. 

Tak tahan rasanya kepalaku untuk menoleh ke arahnya. Aku pun teringat. Teringat ceritamu. Ceritamu perisaiku. Untuk yang kesekian kalinya aku mengucapkan kata itu. Lihatlah ke bawah dan aku akan menyadarinya. Aku tersadar dan tak ada tangisan lagi yang terlihat di wajahku. Ku usap bersih air mata itu dengan sapu tanganku. Sekarang lautan telah menjadi daratan kering. Hatiku telah baku. Aku akan tetap bersyukur dengan apa yang telah ku lakukan sekarang.

“Wahai wajah kecil, bangunlah?”, suara keras dan besar mendekatiku.
“Aku?”, tanyaku padanya.
“Ya kamu gadis manis, berdirilah!”, tegasnya sekali lagi untukku.

Ku intip perlahan-lahan wajahnya. Kusadari dirinya. Seakan ku pernah mengenalnya. Tak ada sekali pun ingatanku untuknya. Tak ada sekalipun ku kedipkan mataku. Ku amati dengan penuh seksama. 

Ya, kini aku mengenalinya. Dia yang hebat. Dia yang terkenal. Oh, apakah ini mimpi. Seakan ku tak sanggup untuk menatap matanya. Dia adalah orang hebat dengan karya tulisnya yang terkenal yang telah menginspirasiku selama ini. Dia apakah dia, aku terheran melihatnya.

“Hei mengapa kau menatapku seperti itu?”, herannya dia untuku.
“Apakah kau yang selama ini menginspirasiku?”, tak ada kata lagi yang kuucapkan selain itu.
“Memang siapa penginspirasimu?”, tanyanya sambil tersenyum manis untukku.
“Kau penulis yang selama ini kukagumikah?”, ulangku sekali lagi.
“Mungkin, ayo berdirilah sejenak!”, tegasnya sambil mengangkat tanganku.

Tak ada yang bisa kuperlihatkan untuknya. Tak ada pula hasilku untuk ku perlihatkan padanya. Aku tak mungkin bisa sepertinya. Kuucapkan segala kekuranganku padanya. Aku sangat mengaguiminya.

“Kau hebat nak, kau penulis masa depan.” , tegasnya untukku.
“Apa yang hebat dari diriku? Aku tak juara, aku tak dapat sorakan penonton, dan aku tak memegang piala itu. Apa yang bisa aku lakukan?”, tanyaku sambil tersendu gelisah.
“Siapa yang mengira aku bisa seperti ini. Siapa pula yang mengira aku bisa sehebat yang kau bayangkan. Tak ada lagi yang mengira jika bukan diriku sendiri. Kau hebat nak, kau beranikan dirimu untuk pentas di depan umum, dengan penuh kepercayaan menggunakan bahasamu yang memang sulit kita pahami. Aku tak tahu apa isi puisi yang kau bacakan sangat pendek itu. Tapi aku yakin, bahwa itu merupakan puisi terbagus yang kau buat untuk pentas ini bukan?”, jelasnya panjang lebar padaku.
“Ya, memang ku membuatnya sesuai dengan isi hatiku pada waktu itu. Aku menceritakan perisaiku yang telah hilang entah kemana. Itu suara hatiku. Itu ungkapan rasa kasih sayangku untuknya. Mungkin itu sulit kau pahami, karena kau terlalu tinggi untuk memahaminya. Itu hanyalah kumpulan kata-kata yang biasa dia ucapkan untuk memotivasiku pada pentas ini. Dia sangat mengertiku, dia beri kepercayaan padaku. Entah apa yang membuat kita terpisah. Tapi aku yakin, dia pasti mendengarkanku pada saat aku membacakan puisi tadi. Bahkan,  ada satu kalimat yang tak bisa ku ungkapkan pada puisi itu. Karena kalimat itu yang selama ini menginspirasiku. Itu adalah kalimat dimana dia memberiku motivasi dengan penuh kepercayaan untuk menemuimu, dia menitipkan salam padamu lewatku” ,  jawabku dengan tatapan tajam padanya.
“Percayalah, aku telah bertemu dengannya. Kau beruntung mempunyai perisai sepertinya. Perisaimu kini aku, bukan dia. Sekarang dia telah menitipkan kau padaku” , jawabnya sambil tersenyum manis.
“Dari mana kau tahu bahwa dia menitipkanku padamu. Aku tak punya siapa-siapa selain dia. Bahkan aku tak tahu orangtuaku ada dimana. Ingatlah dia dan aku yang mengagumimu”, heranku padanya.

***

Memang semua keadaan tak bisa kita duga. Dengan penuh percaya diri aku ungkapkan semua isi hatiku padanya. Kuanggap dia seperti Lulu. Tak tahu apakah firasat ini benar. Namun, ku yakini Lulu tahu apa yang terbaik untukku.

Kini saatnya ku pastikan bahwa selalu ada jalan bagi orang yang mau berusaha. Itu katamu yang terakhir untukku Lulu. Ku ingat itu sampai aku akan bertemu lagi dengan Lulu yang selanjutnya. Terimakasihku untukmu tak akan pernah bisa dijual untuk menggantikan satu karung berlian yang bersinar terang di bawah laut. Kau pastikan keberhasilan untukku. Kau percayakan bahwa aku bisa. Itulah yang kini menjadi tanggung jawabku Lulu.

Seolah tak sadar dengan apa yang tengah aku raih. Dia mempercayaiku untuk menampilkan puisinya yang sudah dia rancang. Dia Lulu yang kau titipkan untukku. Bagiku tak ada Lulu pengganti selain kau yang selalu menungguku di dekat kolam. Namun, mungkin itu kau yang selama ini selalu ada untukku. Dia yang hebat, kini menjadi orang tuaku. Terimakasih Lulu.

Kau Cantik Hari Ini (Part 2)

Kau Cantik Hari Ini (Part 2)

Kau Cantik Hari Ini (Part 2) - Beberapa minggu setelah ayahnya sembuh, sebuah permintaan berat diberikan oleh ayah Burhan kepadanya, yaitu menikahi Maria, menurut ayahnya Maria akan menjadi seorang istri yang sempurna, terlebih karena saat ini Burhan sudah ditempatkan di salah satu markas militer yang jaraknya tak begitu jauh dari rumah sehingga memungkinkan ia untuk bisa pulang ke rumah pada waktu malam hari, dan saat itu pun maria sudah menjadi seorang dosen di sebuah universitas yang ada di kota tersebut.

Seharusnya permintaan itu menjadi satu hal yang menyenangkan untuk Burhan, terlebih ia akan menikahi seorang perempuan cantik berdarah belanda, pintar dan baik, itu pasti merupakan keinginan setiap laki-laki, tapi rasa takut untuk terlalu mencintai Maria dan takut Maria mau menikahinya hanya untuk berterimakasih pada ayahnya membuat Burhan tidak bisa dengan mudah mengiyakan tawaran tersebut.

Butuh waktu baginya hingga dua mingu untuk memikirkan permintaan ayahnya tersebut, hingga akhirnya sebuah dorongan datang dari sang ibu membuat Burhan luluh dan menyanggupi permintaan tersebut, meski dalam hatinya ia sama sekali belum mengenal baik Maria, dan bagaimana sebenarnya perasaan maria kepadanya, bagaimana dia dan Maria bisa menjalani pernikahan ini jika tidak ada cinta diantara mereka berdua.

“Yah, meski begitu, sebuah pernikahan sederhana tetap berlangsung di rumahku, ayah dan ibuku tampak sangat bahagia, tapi aku tidak bisa membaca raut wajah Maria saat itu, ada bahagia dan senyum tapi terlihat seperti terlalu dipaksakan, tidak natural”

“Lalu bapak dan Maria tinggal di rumah orangtua?”

“Tidak, kami membeli sebuah rumah di dekat universitas tempat Maria bekerja, dan seperti yang aku bayangkan, kami menjadi sangat kaku semenjak pertama kali pindah dan rumah yang besar itu seakan begitu sunyi, terlebih setelah satu tahun lebih menikah kami belum juga tampak akan dianugrehkan seorang anak”

Lima tahun setelah menikah dan belum juga dikaruniai seorang anak, membuat Burhan dan Maria tampak renggang, mereka hanya bertemu di pagi hari saat sarapan dan sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Maria sebagai dosen dan Burhan sebagai anggota militer yang sekarang sedang mengemban tugas sebagai komandan, saat malam hari Burhan pulang ketika Maria sudah terlelap dan bangun lebih dulu untuk melaksanakan shalat subuh, terkadang ia ikut membangunkan Maria dan menjalankan shalat subuh bersama, tapi hal itu tidak juga membuat mereka akrab layaknya sepesang suami istri, pembicaraan mereka hanya sebatas pekerjaan masing-masing dan masih menggunakan bahasa formal untuk berbicara.

Meski di dalam hatinya yang paling dalam Burhan begitu mencintai Maria, namun ia tidak ingin terlalu meluapkan perasaannya, terlebih karena pribadi Maria yang tidak terlalu terbuka dan rasa takut jika Maria menikah dengannya hanya karena rasa terimakasihnya pada ayah Burhan, perasaan cinta, kecewa, dan takut berpadu jadi satu dalam hati dan otak Burhan menghantuinya selama bertahun-tahun.

Hingga suatu hari, Burhan yang sedang menjalankan tugas di luar kota dikejutkan dengan kabar bahwa Maria dilarikan ke rumah sakit karena mendadak tidak sadarkan diri saat sedang mengajar, mendengar hal itu Burhan langsung kembali dengan segera ke rumah sakit.

“Menurut hasil uji laboratorium, istri anda menderita kanker rahim stadium tiga, apakah selama ini istri anda terlihat atau mengeluh sakit di bagian perutnya?”

“Tidak dok, dia tidak pernah mengeluhkan apa-apa, dan karena saya jarang di rumah, saya tidak begitu mengetahui apakah istri saya sering sakit” pria berkacamata dan memakai baju bewarna putih itu mendekat dan meletakkan tangannya di bahu Burhan.

“Penyakit ini mungkin akan membuat istri anda sulit untuk memiliki momongan, tapi percayalah pak, tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan, teruslah berdoa’a dan dampingi selalu istri anda, saat ini orang yang paling dibutuhkannya adalah anda”

“Baik dok”

Hatinya memaki, matanya perih menahan air mata, rasa takutnya yang berlebihan membuat istrinya harus kesakitan tanpa ia ketahui, berkali-kali ia menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian ini, berkali-kali pula ia merasa tidak bisa menjadi seorang suami yang baik, dia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi Maria.

“Maafkan aku Maria” katanya lirih, tangannya bergerak menggenggam jari Maria, matanya semakin perih saat ini, andai ada sesuatu yang bisa ia lakukan sekarang, andai rasa sakit itu bisa dibagi.
“Burhan, sudah pulang?” wajah itu masih bersinar seperti dulu, seperti dua belas tahun yang lalu saat pertama sekali ia melihatnya, kini ia kembali mengingat alasan kenapa ia dulu selalu mengganggu dan membuat marah wanita ini, ia baru ingat bahwa ia ingin agar wanita ini hanya melihatnya, hanya ramah padanya, dan bukannya pada seluruh siswa laki-laki di sekolah, ia ingin agar wanita ini hanya tersenyum padanya, senyum yang hangatnya bagai sinar matahari pagi itu, ia ingin agar wanita ini hanya memberikan senyum padanya, senyum yang indah, seperti saat ini. Kini ia sadar bahwa ada bulir air bening yang mengalir di pipinya.

“Aku baik-baik saja Burhan” tangan hangatnya balas menggenggam tangan kekar itu, Burhan semakin menggenggam erat genggamannya kali ini ia tidak bisa menghentikan air matanya, ia memang lelaki yang lemah.

“setelah itu kami sepakat untuk mengadopsi seorang anak, aku hanya ingin agar Maria bisa tersenyum lagi, dan mengobati rasa bersalahku padanya, kami mulai mencari di beberapa panti asuhan, bertemu dengan banyak anak-anak yang menggemaskan, tapi aku tidak melihat Maria puas akan hal itu”

Akhirnya setelah perjalanan yang cukup melelahkan selama dua hari ke luar kota, mereka menemukan sebuah panti asuhan kecil, setelah bertekat akan menyerah jika mereka tidak bisa menemukan anak yang mereka cari di panti asuhan ini, mereka pun akhirnya mulai melihat-lihat anak yang bisa membuat Maria bisa kembali tersenyum.

Setelah satu jam berkeliling, Burhan baru sadar bahwa ia sudah terpisah dari Maria, kakinya langsung melangkah mencari wanita itu, hingga akhirnya ia mendapati Mari sedang berbicara dengan seorang anak kecil berusia tiga tahun, Maria tampak begitu bahagia dengan pembicaraan itu, sesekali ia bahkan tertawa, membuat Burhan mengembangkan senyumnya.

“Ibu menderita kanker rahim?, maaf tapi bukankah akan lebih merepotkan bila mengurus anak kecil? Terlebih Dinda masih berusia tiga tahun”

“Saya yakin bisa, Dinda sepertinya anak yang baik, saya yakin dia pasti bisa menjadi anak yang patuh dan tidak merepotkan”

“Baiklah bu kalau begitu, ibu bisa urus administrasi dan surat-surat yang dibutuhkan untuk adopsinya, begitu selesai ibu bisa membawa Dinda pulang”

Butuh waktu satu minggu bagi Maria dan Burhan mengurus semua berkas yang mereka butuhkan, setelah semuanya selesai mereka memutuskan untuk segera kembali ke panti asuhan itu.

“Maafkan saya pak, bu, baru kemarin ada sebuah keluarga yang membawa Dinda, berkas yang kami perlukan sudah mereka siapkan semua dan mereka begitu ingin mengadopsi Dinda, kami tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membiarkan mereka mengadopsinya, sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya”

Marah dan kecewa tampak jelas di wajah Maria selama perjalanan kembali dari panti asuhan, hal yang sama juga dirasakan Burhan, ia kembali merasa gagal, saat hanya tinggal menghitung jam untuk sebuah kehidupan baru bagi dia dan Maria namun semuanya hilang dalam sekejap, membuat ia dan Maria kembali sama-sama terdiam tak bicara hingga sampai ke rumah.

“Mau coba liburan?, kita bisa kunjungi tempat yang belum kau datangi, aku akan mengambil cuti, jadi kita bisa pergi untuk beberapa minggu”

Kalimat yang sudah seminggu ia tahan dan tata dengan bagus akhirnya berani ia keluarkan, raut wajah Maria langsung berubah, matanya berkaca-kaca, Burhan baru ingat bahwa mereka belum pernah sekalipun liburan semenjak menikah, bahkan liburan ini mungkin bisa juga disebut bulan madu bagi mereka berdua.

Setelah semua perencanaan selesai, mereka akhirnya pergi untuk berlibur ke tiga tempat yang berbeda, berminggu-minggu mereka lalui dengan tawa dan kebahagian yang sebelumnya belum pernah mereka rasakan semenjak menikah.

“Aku senang kita akhirnya bisa berlibur bersama”

“Iya, aku minta maaf karena baru kali ini bisa mengajakmu berlibur”

“Tidak apa-apa Burhan, begini saja sudah senang, terimakasih” senyum hangat itu kembali terukir di bibir indah Maria.

“Kami sangat bahagia saat itu, berlibur berdua dan mengunjungi tempat-tempat baru, aku kembali melihat Maria tersenyum, dan aku begitu bahagia akan hal itu”

“Saya ikut senang mendengar bapak bahagia bersama Maria”

“tapi itu tidak berlangsung lebih dari tiga minggu, saat akan pulang dengan pesawat, awalnya Maria ingin tidur sebentar, tapi sampai pesawat kami tiba di bandara Maria belum bangun, aku baru sadar bahwa Maria tidak sadarkan diri dan langsung melarikannya ke rumah sakit, dokter mengatakan bahwa Maria kelelahan selama liburan, tapi aku tidak menyadarinya sama sekali, aku ini bodoh ya?” aku bisa melihat pak Burhan tersenyum, senyum yang di dalamnya tersirat begitu jelas kesedihan dan penyesalan.

Beberapa hari Burhan terus menjaga Maria yang belum sadarkan diri, dokter menyarankannya untuk mengizinkan Maria menjalankan kemoterapi untuk memperlambat penyebaran kanker di tubuhnya, Burhan langsung menyetujuinya baginya yang terpenting saat ini adalah kesembuhan Maria.

Satu hari setelah kembali dari rumah untuk mengganti pakaiannya, ia mendapati kamar rawat Maria dipenuhi oleh banyak perawat, hatinya tiba-tiba tidak tenang, ia langsung melangkah dengan cepat untuk masuk dan mendapati seorang dokter sedang menutup wajah Maria dengan sehelai kain.

“Apa-apaan ini?, kenapa kalian menutupi wajah istriku dengan kain itu, kenapa ada banyak sekali orang di ruangan ini?, pergilah! Biarkan Maria istirahat, dokter menyarankannya untuk banyak beristirahat”

“Pak Burhan, saya mengerti perasaan anda, maafkan kami pak istri anda sudah pergi dengan tenang”
“Apa maksud anda dok? Kita bahkan belum melakukan terapi, istri saya tidak mungkin meninggal, dia sehat-sehat saja, saya hanya meninggalkannya satu jam untuk mengganti pakaian, dia tidak mungkin meninggalkan saya dok, tidak mungkin!”

“Maafkan saya pak, tapi inilah kenyataannya, kami sudah berusaha yang terbaik tapi Tuhan punya rencana lain”

Kaki Burhan terasa lemah untuh berdiri, ia hanya bisa terduduk dan memandangi tubuh kaku Maria, berulang kali ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau Maria masih hidup, ia lalu bangkit dan meraih tubuh Maria, mencoba mengguncangnya untuk membuat Maria bangun, tapi para perawat di ruangan itu langsung memegang kuat tangannya, ia semakin meronta, tapi para perawat itu malah membawanya menjauh dari tubuh Maria.

“Lepaskan aku, aku ingin membangunkan Maria, dia sedang tidur saat ini cepat bangunakan dia, 
katakan padanya kalau dia akan melakukan terapi dua hari lagi agar bisa sembuh, katakan itu padanya”

“Maafkan kami pak, tapi bapak harus sabar, ibu Maria sudah pergi meninggalkan kita”
Ia mulai berhenti meronta, kini hanya isak tangisan yang terdengar dari mulutnya, saat para perawat menyuruhnya untuk duduk di kursi tunggu, ia hanya bisa terisak sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya, hatinya sakit, ia merasa bagai laki-laki paling bodoh yang pernah hidup.

“Jangan pergi Maria, aku bahkan belum pernah mengatakan bahwa aku begitu mencintaimu, aku mohon kembali Maria, kembalilah” tangisnya makin keras, para perawat yang melihat kejadian itu bahkan ikut meneteskan air mata. Sementara Burhan masih terus terisak hingga ia merasa lelah dan tertidur di kursi tunggu rumah sakit.

Setelah pemakaman Maria, Burhan menemukan sebuah buku diary milik Maria di kamar mereka, isi diary itu bercerita tentang kekaguman Maria pada sosok Burhan, laki-laki yang tampak tidak begitu peduli dengan keadaan sekitar tapi begitu menarik di matanya, Maria begitu menngagumi Burhan saat pergi dipagi hari menggunakan seragam militernya, laki-laki yang tampak gagah dan kuat tapi menangis saat Maria terbaring di rumah sakit.

Laki-laki yang dulu sempat ia kira hanya remaja nakal yang selalu mengganggu dan membuatnya marah itu begitu menarik perhatiannya saat mereka menghabiskan waktu bersama-sama untuk bimbingan penelitian, laki-laki itu juga yang bersedia pulang pergi dan kelelahan masuk keluar panti asuhan untuk menyenangkan hatinya, laki-laki yang genggaman tangannya begitu hangat, meski mengakui bahwa butuh beberapa bulan untuk mencintai laki-laki itu tapi ia benar-benar jatuh hati pada Burhan saat laki-laki itu memeluk dan menenangkan ibunya yang begitu terpukul dengan sakit yang ayahnya derita, laki-laki yang tampak sangat kuat dari luar tapi begitu lembut dari dalam itu berhasil mencuri hatinya.

“Maria…” tangis Burhan kembali pecah, ia memeluk erat buku itu dengan perasaan bersalah yang sangat besar, ia baru tahu bahwa Maria begitu mencintainya tapi perasaan takut yang tidak berasalan yang ia miliki membuat matanya tertutup untuk melihat cinta yang dipancarkan Maria, hatinya begitu menyesal baru mengetahui semua ini setelah maria pergi dan meninggalkannya sendiri.

“ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa sesuatu itu akan tampak sangat beharga ketika ia sudah tidak kita milikinya lagi”

Aku meneguk tegukan terakhir gelas kopiku yang kedua, sebuah tegukan yang besar untuk menyadarkanku, sikap pak Burhan kepada Maria hampir sama dengan sikapku kepada Dina, bedanya aku tahu kalau Dina mencintaiku tapi tak begitu peduli akan hal itu, bagaimana jadinya aku jika seandainya Dina juga meninggalkanku seperti Maria meninggalkan pak Burhan?.

“Maria meninggal pada hari rabu, karena itu setiap rabu aku selalu kemari untuk mengunjungi makamnya, ingatlah Dani, bahagiakan selalu istrimu selagi kau masih punya waktu, jangan pernah lupa untuk sekedar mengucapkan aku mencintaimu atau kau begitu cantik hari ini selagi dia masih bisa mendengarmu mengatakan itu, apakah kalian sudah punya bayi?”

“Belum pak, kami masih sama-sama sibuk jadi menunda memiliki bayi” aku melihat pak Burhan mengibas-ngibaskan tangannya di udara sambil menggeleng.

“Sudah dua tahun menikah jangan tunda lagi untuk memiliki momongan, suara tangisan bayi akan semakin memperlengkap suasana di rumahmu”

“Baik pak saya mengerti” pak Burhan bangkit dari kursinya dan mengambil sesuatu dari saku coat cokelat tua panjang yang ia gunakan.

“Ini kartu namaku, hubungi aku jika kau sudah punya bayi, nanti aku akan datang dengan membawa hadiah yang bagus”

Pak Burhan lalu pamit ke luar dari cafe untuk memeriksa kereta api yang akan dipakainya, ia melambaikan tangan kepadaku dan langsung berjalan menjauh hingga tak terlihat lagi, kisah hidupnya kini menyadarkanku, aku lalu ingat akan pesan singkat yang Dina kirim tiga puluh menit yang lalu mengatakan bahwa kereta sudah berangkat menuju Jakarta.

“Halo mas, aku baru saja mau telepon, lima menit lagi sampai di stasiun, mas sedang dimana?”

“Mas sudah di stasiun, kamu naik gerbang berapa?, biar mas tunggu”

“Gerbang tiga mas, tidak perlu, nanti Dina telepon saja saat sudah sampai di stasiun”

“Mana mungkin mas mau membiarkan istri mas yang cantik ini menunggu, baiklah, mas sudah di 
depan ini”

“Ya ampun mas ini ada-ada saja, ini sudah mulai masuk stasiun mas”

Lima belas menit kemudian aku dan Dina sudah berada di dalam mobil menuju kerestoran tempat kami akan malam malam, selama perjalanan aku masih terus terbayang akan cerita dari pak Burhan tadi.

“Kami cantik hari ini Dina”

“Kamu kenapa sih mah?, dari tadi aneh, apa terjadi sesuatu?” aku tertawa, memang aneh bagi Dina karena aku memang begitu jarang mengatakan hal-hal manis kepadanya.
“Tidak terjadi apa-apa, hanya bertemu dengan pak Burhan tadi di stasiun”

“Pak Burhan dosen pembimbing skripsi mas itu?, Dina dengar beliau pindah ke Bandung, ke Jakarta untuk apa?”

“Ada keperluan katanya” ujarku yang tidak ingin bercerita lebih jauh tentang pembicaraan kami tadi.

“Oh begitu, Dina sudah lupa dengan wajahnya”

“Sudah enam tahun Dina, wajar kalau kamu lupa wajahnya, tadi pak Burhan memberiku kartu 
namanya, katanya kita harus menghubungi beliau kalau sudah punya bayi nanti”

“Ya ampun pak Burhan itu”

“Jadi bagaimana dina?”

“Eh?, apanya mas?”

“Kapan kita mau punya bayi sayang?”

“Ya Allah mas kamu ini” tangan Dina bergerak mencubit lenganku, kami lalu tertawa bersama, aku ingin seperti saat ini mulai sekarang, memberikan kebahagian pada Dina yang mungkin dulu belum pernah kulakukan, aku berterima kasih pada Tuhan yang sudah mempertemukanku dengan pak Burhan hari ini, dari beliau aku belajar banyak hal.

Tentang bagaimana rasanya mencintai dan dicintai, caraku selama ini mungkin belum benar dalam mencintai Dina, tapi mulai detik ini aku akan belajar dan memperbaiki segalanya, agar setidaknya aku bisa membahagiakan dia sampai nanti akan ada bayi sebagai pelengkap kebahagiaan kami.

Dia baru saja tiba di sebuah rumah sederhana, rumah yang dulu ditinggali oleh orangtuanya, setelah membuka pintu rumah dan menguncinya kembali, ia melangkah ke depan sebuah foto besar dengan bingkai cokelat terpasang rapi di dinding ruang utama rumahnya, foto dengan latar pantai itu memperlihatkan dua orang dengan senyum kebahagiaan di wajah keduanya, ia baru bisa mencetak foto itu setelah sembuh dari sakit dua hari setelah Maria meninggal, setidaknya ini adalah salah satu bukti bahwa setidaknya Maria pernah bahagia bersamanya.

“Aku pulang Maria” senyum kebahagiaan yang juga menampakkan kerinduran mendalam terukir di wajah tuanya itu, ia berfikir mungkin sebentar lagi Maria akan menjemputnya dan mereka akan kembali bisa berdua dan bahagia.

Cerpen Karangan: Sity Hanizar
Facebook: Alyssa Fajria

Kau Cantik Hari Ini (Part 1)

Kau Cantik Hari Ini (Part 1)

Kau Cantik Hari Ini (Part 1) - “Mas, ada sedikit masalah dengan kereta yang akan ke Jakarta, mungkin perjalanan akan ditunda satu jam, mas sudah sampai di stasiun?, atau jika tidak mas bisa pulang dulu, nanti akan Dina kabari lagi kalau keretanya sudah berangkat”

Kulihat pesan panjang lebar di layar ponsel, pesan itu dari istriku Dina. Biasanya dia akan pulang dengan taksi ke rumah dari stasiun, tapi hari ini kami akan pergi makan malam bersama untuk merayakan ulang tahun pernikahan kami yang kedua, karena itu aku datang menjemputnya.

“Mas sudah di stasiun, tidak apa-apa, mas akan menunggu disini saja, kabari mas kalau keretanya sudah berangkat” balasku, sejurus kemudian Dina mengirimkan pesan lagi padaku tanda mengiyakan.

Kupalingkan mataku keseluruh sudut stasiun mencoba mencari hal menarik yang bisa membuatku menunggu selama satu jam lebih tanpa harus merasa bosan, mataku terhenti pada cafetaria yang ada di sudut kanan stasiun, aku berfikir sejenak lalu mengurungkan niatku untuk melangkah kesana karena tidak merasa lapar atau haus.

Kutarik nafas panjang, mulai terlintas di otakku untuk pulang saja atau setidaknya ke luar dari stasiun sambil menunggu Dina, banyaknya orang yang berlalu lalang di stasiun ini membuatku mulai melihat-lihat, penumpang yang sedang mengantri membeli tiket, ada yang masuk dan ke luar dari stasiun, ada juga yang sedang menunggu keberangkatan, sekilas terdengar pemberitahuan bahwa keberangkatan kereta dari Jakarta ke Bandung akan ditunda karena keadaan rel kereta yang sedang diperbaiki.

Sekali lagi mataku melihat ke seluruh sudut stasiun, hingga berhenti pada sosok pria tua memegang sebuah tongkat kayu duduk di antara kursi tunggu penumpang, kuperhatikan baik-baik wajah laki-laki itu yang terasa tidak asing.

“Pak Burhan”, ucapku. Laki-laki itu tak lain adalah dosen pembimbing skripsiku saat di universitas dulu, aku sumringah, sudah enam tahun tidak berjumpa denganya membuatku bangun dari kursi dan melangkah mendekatinya yang sedang duduk dengan sebuah buku tebal di tangannya.

“Assalamualaikum pak Burhan”

“Waalaikumsalam, Dani?”

Dengan wajah penuh tawa aku mengangguk tanda mengiyakan, aku tidak menyangka ia akan mengingat wajahku dengan cepat padahal kami sudah lama tidak bertemu, kami lalu berpelukan, dengan raut wajah bahagia dia menepuk-nepuk pundakku sambil bertanya tentang kabarku.

“Kabar saya baik pak, bapak terlihat makin muda saja”

“Umurku saat ini sudah enam puluh delapan tahun, muda dari mana?, kau ini mengada-ada, apa kau sibuk?”

“Tidak pak”

Ia lalu menawarkanku untuk pergi ke cafetaria stasiun agar bisa berbincang-bincang lebih lama, aku mengiyakan, mungkin bicara dengan pak Burhan bisa membuatku tidak bosan menunggu Dina.

“Sudah berapa tahun kita tidak bertemu?” ujar pak Burhan membuka pembicaraan setelah memesan dua cangkir kopi latte untuk kami.

“Enam tahun pak, setelah wisuda saya dengar bapak pindah ke Bandung, hari ini bapak ada acara di Jakarta?”

Aku melihatnya diam seperti sedang berfikir, tapi ketika hendak menjawab pertanyaanku, seorang pelayan datang membawa pesanan kami.

“Silahkan dinikmati”

“Terimakasih”, aku kembali melihat ke arah pak Burhan yang sedari tadi hanya mengaduk kopi miliknya, aku jadi sedikit bingung.

“Ya, bapak pindah ke bandung setelah kau diwisuda, kau ini adalah mahasiswa terakhir yang mendapat bimbingan skripsi dariku, berbanggalah” tawanya pecah tapi tampak seperti dipaksakan, aku ikut tertawa untuk menghormatinya.

“Bapak memang tinggal di Bandung saat ini, tapi setiap hari rabu begini bapak ke Jakarta untuk ziarah” raut mukanya spontan berubah, ada sejurat rasa kesedihan yang kesepian yang terlihat.

“Ke makam istriku, Maria” lanjutnya sambil tersenyum kecil, sedikit menyesal aku menanyakan pertanyaan itu, mendadak suasana yang awalnya hangat berubah jadi hening.

Aku tidak terlalu mengenal pak Burhan kecuali sebagai dosen pembimbing skripsi yang baik dan dengan sabar membimbing mahasiswanya agar bisa menyelesaikan skripsi dengan baik, meskipun ada beberapa mahasiswa yang mengatakan bahwa pak Burhan adalah sosok dosen yang pendiam dan tidak banyak berinteraksi dengan mahasiswa kecuali mahasiswa didiknya.

Tubuhnya yang tinggi dan tegap bahkan sampai saat ini dikatakan karena beliau dulu pernah berlatih untuk menjadi seorang tentara, tapi tak ada yang tahu kenapa beliau ada di universitas kami dan menjadi salah satu dosen mata kuliah sejarah.

Sosoknya yang tertutup itu juga membuat beberapa mahasiswa mencari tahu tentang beliau, salah satu kabar terkenal yang tersebar di universitas kami adalah bahwa beliau menikah dengan guru SMA nya sendiri, dan sudah ditinggal meninggal oleh sang istri dua tahun sebelum beliau menjadi dosen.

“Kau pasti banyak mendengar berita tentangku bukan?”

“Iya pak, ada beberapa mahasiswa yang membicarakannya, tapi saya kira tidak semuanya benar” dia mengangguk, lalu mulai duduk tegap menghadapku.

“Kau mau mendengar cerita yang sebenarnya?” sedikit kaget aku hanya bisa tersenyum, dibalik kepribadiannya yang tertutup ia sebenarnya adalah orang yang hangat dan menyenangkan jika diajak bicara.

“Jika bapak mau, mungkin bisa jadi referensi untuk saya dan istri saya”

“Oh, jadi kau sudah menikah?, selamat anakku!, sudah berapa lama?, apa aku mengenalnya?”

“Dina Hendayani pak, mahasiswi manajemen angkatan 2007, seangkatan dengan saya, hanya beda fakultas”

“Dina Hendayani mantan putri kampus itu?, wah! Kau benar-benar beruntung anakku, semoga pernikahan kalian bahagia selamanya” ia menjabat tanganku penuh semangat, tawa kembali menghiasi wajah tuanya itu.

“Sering-seringlah memujinya, kau tidak akan tahu sampai kapan kalian bisa terus bersama, bisa jadi kau atau malah istrimu duluan yang akan pergi, terkadang seseorang itu baru tampak berharga ketika sudah tidak bersama kita lagi”.

Dia merapikan duduknya lagi, kali ini lebih menyandar pada kursi, aku melihatnya melihat ke arah jendela sejenak lalu menatapku.

“Aku sangat mencintai Maria, tapi tak pernah bisa kuucapkan bahkan ketika dia sudah menjadi istriku, hal itulah yang membuatku menyesal”

Pak Burhan mulai bercerita tentang sosok sang istri bernama Maria yang amat ia cintai, wanita keturunan belanda itu adalah guru bahasa inggrisnya saat masih duduk dibangku SMA, bukan guru yang sesungguhnya, tapi guru magang yang menggantikan guru bahasa Inggris di sekolah tersebut yang sedang cuti karena melahirkan selama empat bulan.

Wajah khas wanita belanda membuat Maria disukai oleh banyak siswa laki-laki di sekolah, terlebih umurnya yang waktu itu masih dua puluh satu tahun, dengan umur yang masih sangat muda dan wajah yang cantik, Maria menjadi incaran banyak siswa laki-laki khususnya yang duduk di kelas dua belas.

Tapi diantara semua laki-laki itu, hanya siswa laki-laki bernama Burhan saja yang seolah tidak terlalu peduli dengan kecantikan Maria, dengan sikap remaja berusia delapan belas tahun Burhan sering melakukan berbagai macam hal untuk mengerjai Maria, mulai dari menyembunyikan sepatu, mengempeskan ban sepedanya, sampai buku pelajaran yang awalnya ada di atas meja guru tapi mendadak berpindah ke meja siswa saat Maria masuk ke kelasnya untuk mengajar.

“Ah, dia itu cuma guru magang, kenapa harus dihormati?” begitu tanggapannya ketika ditanya tentang sikapnya yang terlihat mulai tidak sopan kepada wanita tersebut.

Hingga pada satu hari saat mata pelajaran bahasa Inggris sedang berlansung, ia meletakkan sebuah kotak yang dibungkus cantik dengan kertas kado bewarna merah muda dan pita merah di atas meja guru.

“Apa ini Burhan?” tanya Maria dengan logat Belandanya.

“Ucapan maaf saya bu karena sudah sering nakal kepada ibu, dari lubuk hati yang paling dalam saya menyesali perbuatan saya, saya harap ibu mau memaafkan saya” raut wajah Maria berubah bahagia, hatinya mungkin senang karena Burhan akhirnya menyadari kesalahannya dan mau meminta maaf.
Tanpa ragu ia raih kotak ini, masih dengan wajah senang tangannya bergerak membuka pita dan perlahan membuka kotak, tapi tiba-tiba Maria melempar kotak tersebut karena kaget dengan isinya, sebuah katak besar berwarna hijau meloncat ke luar dari dalam kotak diiringi dengan tawa keras Burhan dan teriakan para siswi perempuan di kelas itu.

“Rasakan!” ujarnya sambil terus tertawa keras memegangi perutnya, tawanya makin menjadi ketika katak hijau itu melompat-lompat di sekitar kelas dan membuat suasana kelas makin gaduh.
“Cukup!, hentikan!, apa yang membuat kamu begitu membenci saya?!” bentaknya, wajah putihnya memerah karena menahan amarah, matanya mulai berkaca-kaca dengan nafas yang cepat ia seakan sedang mencoba menahan emosinya tapi gagal.

Suasana kelas yang awalnya gaduh mendadak sepi, semua siswa mendadak diam karena tak pernah sebelumnya melihat Maria yang anggun itu marah, matanya masih menatap ke arah Burhan yang kini sudah berhenti tertawa dan masih berdiri di sampingnya, air matanya mulai menetes, ia terus mencoba mengatur nafas dan menahan amarahnya namun tetap gagal.

“Saya akan pastikan kami menyesali perbuatan kamu ini!” ia merapikan bukunya lalu dengan cepat pergi meninggalkan kelas dengan wajah yang dipenuhi air mata, kelas yang semulanya sempat hening kini kembali riuh karena Maria meninggalkan kelas dalam keadaan menangis.

“Kali ini kau sudah kelewatan Burhan” ujar seorang siswa laki-laki yang berjalan menghampirinya lalu memepuk pundak Burhan. Seketika saja hatinya menjadi gundah, Maria biasanya tidak akan marah jika dikerjai, tapi kali ini?, Burhan yakin pasti akan ada hal buruk yang akan menimpanya.

Terang saja, keesokan harinya sebuah surat pemanggilan orangtua diberikan kepada Burhan, kali ini dengan ancaman apabila orangtuanya tidak datang menghadap kepala sekolah, maka ia akan dikeluarkan, ia semakin gundah karena sebulan lagi akan ada ujian kelulusan bagi siswa kelas dua belas.

Hari dimana kedua orangtuanya dipanggil, Burhan mendapat kabar bahwa Maria sudah memaafkannya dan meminta agar kepala sekolah tidak mengeluarkan Burhan dari sekolah, permintaan itu pun disetujui oleh kepala sekolah dengan timbangan bahwa Burhan harus berjanji tidak akan mengerjai Maria lagi, kesepakatan itu akhirnya disetujui pula oleh Burhan melalui orangtuanya yang tampak sangat kecewa dengan perbuatan anak mereka.

“Bapak sebandel itu ketika SMA?, lalu bapak mulai bersikap baik pada Maria?”
“Aku sudah punya niat untuk begitu, tapi minggu selanjutnya saat pelajaran bahasa Inggris, Maria sudah tidak mengajar lagi, katanya dia sudah pindah ke luar kota” ujar pak Burhan lalu meneguk kopinya yang sudah habis setengah.

Satu tahun kemudian Burhan yang sudah menjadi mahasiswa pindah ke Jakarta untuk kuliah, mengambil konsentrasi fakultas olahraga dengan harapan bisa melanjutkan pendidikannya di militer nanti setelah menjadi sarjana, sikapnya yang sudah berubah semenjak lulus dari sekolah membuatnya tidak terlalu sulit untuk mengikuti dan menyelesaikan seluruh mata kuliah dan tugas-tugas yang diberikan padanya.

Hingga pada semester terakhir tahun keempat, ia ditugaskan untuk membuat sebuah penelitian agar bisa lulus dari kuliahnya, hal itu ia terima dan jalani dengan baik pula dengan selalu datang dan menjumpai dosen yang telah ditunjuk mendampinginya menyelesaikan pendidikannya.

“Saya harus cuti beberapa waktu karena saat ini suami saya sedang dirawat di luar kota, lanjutkan penelitianmu dan saya sudah menunjuk satu orang asisten dosen untuk membantu membimbingmu, jangan khawatir saya yakin dia bisa membimbingmu dengan baik” suara perempuan paruh baya yang tidak lain adalah dosen pembimbingnya membuat Burhan hampir saja patah semangat, tapi meski begitu ia tidak bisa memaksa agar dosen itu tetap bisa mendampinginya dengan kondisi suami yang baru saja menjalankan operasi jantung.

Lalu hari yang ditetapkan untuk bertemu dengan dosen pembimbing yang baru pun tiba, kali ini Burhan tidak mau menerapkan harapan yang terlalu tinggi tentang dosen pembimbingnya, ia hanya ingin segera lulus dan bisa melanjutkan pendidikannya di sekolah militer yang dari dulu ia impikan.
“Burhan? Sudah lama tidak bertemu, dunia ini kecil sekali ya?” Burhan membulatkan matanya seakan tak percaya siapa kini yang sedang berdiri tegak di hadapannya dan menjadi dosen pembimbingnya.

“Maria?”
“Benar, aku masih ingat kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya, dunia ini kecil ya?”, pak Burhan tersenyum. Senyum yang belum pernah kulihat semenjak tadi pertama kali bertemu dengannya.
Pertemuannya dengan Maria membuatnya bingung sekaligus takut, bayangan kenakalan yang pernah ia lakukan pada Mari langsung terlintas satu persatu setiap kali ia harus bertemu dengan Maria untuk bimbingan.

“Sikapmu sudah banyak berubah, karena pertambahan usia?” wanita itu kini duduk di depannya, dengan dress ungu muda selutut dan rambut yang dikuncir belakang sama sekali tidak memperlihatkan bahwa ia adalah seorang asisten dosen yang sedang membimbing mahasiswa.
“Apa kau ingin membalas semua perbuatanku lima tahun yang lalu?”

“Kau masih memikirkan itu?, tenang saja saat itu aku masih berfikir bahwa kau itu hanya seorang anak kecil, jadi jangan terlalu dipikirkan, apapun yang pernah terjadi dulu sudah aku lupakan” senyum mengembang di bibirnya, tanpa sadar wajah Burhan memerah. Pesona ini juga yang berhasil memikat teman temannya dulu, pesona wanita belanda ini membuat dadanya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Beberapa bulan semenjak pertemuannya dengan Maria, Burhan bisa dengan tepat waktu menyelesaikan penelitiannya. Meski nilai yang didapatkannya biasa saja ia merasa cukup puas dengan bisa lulus tepat waktu dan menjadi sarjana.

Hari wisuda pun tiba, dengan didampingi oleh orangtaunya Burhan datang untuk peresmiannya sebagai seorang sarjana, acara yang meriah dan ditunggu Burhan pun berlangsung cepat, merasa ingin berterimakasih orangtuanya ingin bertemu dengan dosen yang sudah membimbing putra mereka tersebut, meski awalnya menolak namun ayahnya terus memaksa hingga akhirnya Burhan menyerah dan membawa kedua orangtuanya menemui dosen pembimbing Burhan, Maria.

“Pertemuan itu berlangsung tidak lebih dari tiga puluh menit, tapi saat kami akan pulang, ayahku tampak berbincang serius dengan Maria, aku tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan”

“Serius?” ini adalah tegukan kopiku yang terakhir, mendengar semua cerita ini membuatku benar-benar tidak sadar dan hanyut di dalam cerita pak Burhan.

“Iya, saat pulang ke rumah aku dan ibuku asik berbincang, tapi wajah ayah yang tampak seperti memikirkan sesuatu tidak pernah berubah semenjak pembicaraannya dengan maria sebelumnya, aku benar benar penasaran tapi tidak berani menanyakan apapun, aku hanya tidak ingin mengacaukan suasana saat itu”

Satu tahun tiga bulan berlalu semenjak kelulusannya, setelah diterima di akademi militer, Burhan harus mengikuti pelatihan yang mereka laksanakan gunanya agar para militer siap untuk diterjunkan ke lapangan, ketika beberapa minggu lagi akan menyelesaikan masa latihannya, sebuah kabar datang dan membuatnya terpaksa pulang.

Kabar tentang ayahnya yang terkena serangan jantung dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit terus menbayanginya selama di perjalanan, meski tak terlalu akrab dengan ayahnya, Burhan begitu takut dan belum siap jika harus ditinggal sang ayah, terlebih saat ini hanya dia anak orangtuanya yang belum menikah setelah beberapa bulan yang lalu kakak perempuannya menikah dan pindah mengikuti suami ke luar negeri.

“Syukurlah kau sudah sampai anakku, ayahmu masih di ruang operasi, doktek belum keluar, kenapa mereka lama sekali Burhan?”

“Tenanglah bu, Burhan yakin ayah baik-baik saja” sebuah pelukan hangat ia berikan untuk menenangkan hati perempuan paruh baya itu, kerutan-kerutan makin terlihat jelas di wajahnya saat ini, ia bisa menebak bahwa ibunya sudah tidak tidur sejak ayahnya dilarikan ke rumah sakit.

“Burhan, kau sudah sampai?” suara perempuan muda yang datang dari belakang ibunya mengejutkannya, wanita yang sudah satu tahun ini tidak ia temui, wanita yang masih membuat jantungnya berdetag itu kini berdiri lagi di hadapannya, masih dengan sebuah senyum yang hangat.

“Ayahmu menyuruh ibu menelepon Maria sesaat sebelum ia pingsan, Maria yang membawanya ke rumah sakit dan membantu ibu menjaga ayahmu, kakak iparmu sedang hamil besar saat ini, sedang kakakmu sudah sangat jauh dengan kita, kau juga sedang dalam pelatihan, ayah tidak ingin merepotkanmu, makanya ibu menelepon Maria dan meminta pertolongannya”

Burhan menundukkan wajahnya, dilihatnya tubuh ibunya yang masih ia peluk erat, di dalam kepalanya bermunculan banyak sekali pertanyaan, tentang siapa Maria sebenarnya, apa yang dibicarakan oleh ayahnya dan Maria saat itu, dan kenapa Maria tampak sangat dekat dengan keluarganya tanpa ia ketahui.

“Maukah ibu bercerita kepada Burhan apa yang sebenarnya terjadi?”

Matanya dan mata ibunya bertemu, tangan hangat sang ibu bergerak memegang pipinya yang mulai ditumbuhi janggut, lalu sebuah anggukan dan senyuman diberikan oleh wanita itu.

“Dulu ayahku pernah menolong sebuah keluarga dari kecelakaan lalu lintas, peristiwa itu merenggut nyawa sepasang suami istri keturunan belanda, namun seorang bayi perempuan berhasil selamat, bayi perempuan itulah yang sudah menolong dan menjaga ayahku saat beliau di rumah sakit”

Meski tidak terlihat aku tahu saat ini kedua mata hitamku membesar, peribahasa dunia ini memang kecil aku rasa sangat cocok untuk kisah ini, sebuah takdir yang tercipta memang tidak akan pernah berubah meski sudah bertahun-tahun lamanya.

“Ketika bertemu lagi setelah belasan tahun, ayahku tidak sadar bahwa bayi yang berhasil ia selamatkan itu adalah guru yang sudah kuganggu dan juga dosen yang membimbingku, wajahnya begitu serius setelah pembicaraan saat upacara wisuda karena beliau kembali ingat akan peristiwa mengerikan itu dan menyesal tidak bisa menyelamatkan orangtua Maria”

“Berarti saat Maria memaafkan bapak di sekolah dan mau membimbing bapak untuk menyelesaikan penelitian karena itu?”

“Aku rasa iya, semua yang sudah Maria lakukan, senyum yang selama ini dia beri untukku hanya karena rasa terimakasih, aku merasa dipermainkan olehnya, aku kira selama ini dia ada di sampingku karena memang menaruh hati padaku”

Cerpen Karangan: Sity Hanizar
Facebook: Alyssa Fajria
Copyright © Cerpen Menarik dan Populer. All rights reserved. Template by Amanbet